272. Makan Malam Pertama Di Lunaris

Romance Series 382

BAB 272 — MAKAN MALAM PERTAMA DI LUNARIS

Malam perlahan turun di atas Lunaris.

Cahaya matahari yang sebelumnya menyinari seluruh kota mulai menghilang di balik cakrawala, digantikan oleh cahaya lembut dari bulan.

Di sepanjang jalan dan bangunan istana, kristal-kristal kecil mulai memancarkan cahaya.

Istana Lunaris terlihat semakin indah ketika malam tiba.

Setelah menghabiskan sore dengan menikmati teh dan berbincang santai, rombongan Veyth akhirnya kembali berkumpul di ruang makan utama.

Meja panjang telah dipenuhi berbagai hidangan.

Aroma rempah dan makanan hangat memenuhi ruangan.

Fiona yang baru saja duduk kembali menatap meja dengan penuh rasa ingin tahu.

“Banyak sekali…”

Seraphine yang duduk di dekatnya tersenyum.

“Ini makan malam pertama kalian di Lunaris.”

Fiona menoleh.

“Apakah memang selalu sebanyak ini?”

Seraphine tertawa kecil.

“Tidak selalu.”

Ia melirik hidangan yang memenuhi meja.

“Tapi aku ingin kalian mencoba beberapa makanan khas kami.”

Fiona tersenyum.

“Terima kasih.”

Darrien yang duduk di samping Fiona memperhatikan ekspresinya.

“Sepertinya kau akan menikmati perjalanan ini.”

Fiona menoleh kepadanya.

“Kenapa?”

“Karena sejak datang tadi, kau selalu terlihat tertarik pada sesuatu.”

Fiona mengerucutkan bibir.

“Aku hanya ingin melihat-lihat.”

Ace langsung menyela dari seberang meja.

“Dan makan.”

Fiona menatapnya.

“Aku juga memang ingin makan.”

Rowan tertawa.

“Nah. Akhirnya jujur.”

Fiona hanya menggeleng.

Suasana meja langsung dipenuhi tawa kecil.

***

Raja Zeith mengangkat gelasnya.

“Untuk kedatangan kalian di Lunaris.”

Darrien, Fiona, Elarion, Ace, Rowan, dan Kevin ikut mengangkat gelas masing-masing.

Zeith tersenyum.

“Semoga kunjungan ini menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi kalian.”

Darrien mengangguk.

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Seraphine kemudian tersenyum.

“Dan jangan terlalu formal selama kalian berada di sini.”

Ia melihat Fiona.

“Kalian adalah tamu kami.”

Fiona tersenyum.

“Kami akan mengingatnya.”

Zeith kemudian memandang seluruh rombongan.

“Bagaimana kesan kalian setelah hari pertama?”

Darrien berpikir sebentar.

“Indah.”

Ia melirik ke arah jendela besar ruang makan.

“Lunaris sangat berbeda dari Veyth.”

Elarion mengangguk.

“Arsitekturnya juga memiliki karakter yang sangat khas.”

Ace segera ikut berbicara.

“Dan kristalnya ada di mana-mana.”

Rowan tertawa.

“Dia sudah memperhatikan itu sejak pertama datang.”

Ace mengangkat bahu.

“Karena memang menarik.”

Zeith tersenyum.

“Kristal memang bagian penting dari kehidupan Lunaris.”

Ia kemudian menjelaskan beberapa hal mengenai bagaimana masyarakat Lunaris menggunakan kristal dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai sumber penerangan.

Sebagai penyimpan energi.

Dalam beberapa sistem pertahanan.

Bahkan dalam beberapa fasilitas umum.

Fiona mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Berarti masyarakat di sini sudah terbiasa dengan energi kristal?”

“Sejak kecil.”

Zeith mengangguk.

“Karena itu bagi kami, keberadaan kristal di sekitar kota terasa biasa.”

Fiona melihat ke arah jendela lagi.

“Bagi orang yang baru pertama datang…”

Ia tersenyum.

“Rasanya tidak biasa sama sekali.”

Seraphine tertawa.

“Itulah sebabnya aku ingin mengajakmu melihat lebih banyak tempat.”

Fiona langsung tersenyum.

“Aku mau.”

***

Percakapan kemudian bergerak ke perjalanan mereka.

Zeith bertanya mengenai perjalanan menggunakan teleportasi.

Darrien tertawa kecil ketika mengingatnya.

“Awalnya cukup aneh.”

Fiona mengangguk.

“Terutama karena kami belum pernah menggunakan teleportasi sebelumnya.”

Seraphine tersenyum.

“Dan sekarang?”

Fiona berpikir sebentar.

“Sekarang aku masih lebih suka berjalan biasa.”

Semua orang tertawa.

Darrien mengangguk setuju.

“Aku juga.”

Kevin yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya berbicara.

“Teleportasi lebih efisien.”

Darrien menoleh.

“Tapi?”

Kevin menyeruput tehnya.

“Tidak nyaman.”

Ace tertawa.

“Bahkan Kevin mengakuinya.”

Kevin hanya mengangkat bahu.

***

Makanan terus berpindah dari satu piring ke piring lainnya.

Seraphine beberapa kali merekomendasikan hidangan tertentu kepada Fiona.

“Coba yang ini.”

Fiona mencicipinya.

Matanya langsung sedikit melebar.

“Enak.”

Seraphine terlihat puas.

“Aku tahu kau akan menyukainya.”

Darrien memperhatikan mereka.

Sepertinya Seraphine benar-benar menikmati kebersamaan dengan Fiona.

Bukan sebagai kewajiban seorang ratu terhadap tamunya.

Melainkan karena ia memang menyukai Fiona.

Fiona juga terlihat semakin nyaman berbicara dengannya.

Sesekali mereka membicarakan hal-hal kecil.

Tentang taman.

Tentang pakaian.

Tentang tempat yang ingin dikunjungi.

Bahkan tentang makanan.

Darrien hanya bisa tersenyum melihatnya.

***

Setelah beberapa waktu—

Zeith kembali berbicara.

“Bagaimana dengan istana?”

Elarion menjawab lebih dulu.

“Indah dan terawat.”

Rowan mengangguk.

“Bahkan terlalu besar.”

Ace langsung menyahut,

“Aku setuju.”

Zeith tertawa kecil.

“Istana memang cukup luas.”

Seraphine kemudian melihat Fiona.

“Dan bagaimana dengan kamarmu?”

Fiona tersenyum.

“Nyaman sekali.”

“Aku senang.”

Seraphine terlihat puas.

“Aku memilihnya karena letaknya dekat taman.”

Fiona mengangguk.

“Aku menyukainya.”

Darrien ikut berbicara.

“Kamarku juga nyaman.”

Seraphine tersenyum.

“Bagus.”

Ia kemudian menatap seluruh rombongan.

“Kalau begitu, semoga kalian bisa beristirahat dengan baik selama berada di sini.”

***

Waktu terus berjalan.

Percakapan yang awalnya ramai mulai perlahan melambat.

Makanan di atas meja semakin berkurang.

Fiona akhirnya bersandar sedikit di kursinya.

“Aku kenyang.”

Darrien tertawa kecil.

“Akhirnya.”

Fiona menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada.”

Fiona menyipitkan mata.

Namun kemudian ia ikut tertawa.

Ace juga sudah bersandar di kursinya.

“Aku benar-benar tidak bisa makan lagi.”

Rowan mengangguk.

“Aku juga.”

Kevin menatap meja.

“Cukup.”

Ace menoleh.

“Kau bahkan tidak banyak bicara malam ini.”

“Aku sedang menikmati liburan.”

Ace tersenyum.

“Benar juga.”

***

Setelah makan malam selesai—

rombongan mulai meninggalkan ruang makan.

Zeith dan Seraphine masih berbincang sebentar dengan Elarion.

Ace dan Rowan berjalan bersama menuju kamar mereka.

Kevin juga pergi dengan langkah santai.

Tidak ada latihan.

Tidak ada jadwal pagi yang harus dipikirkan.

Benar-benar liburan.

Darrien dan Fiona berjalan berdampingan menyusuri lorong istana.

Cahaya kristal menerangi jalan.

Dari jendela besar—

bulan terlihat menggantung di atas kota Lunaris.

Fiona berhenti sebentar.

Ia menatap pemandangan di luar.

“Lunaris benar-benar berbeda saat malam.”

Darrien berdiri di sampingnya.

“Ya.”

Cahaya kristal di kejauhan membuat seluruh kota terlihat seperti lautan cahaya.

Fiona tersenyum.

“Aku senang datang ke sini.”

Darrien menoleh kepadanya.

“Aku juga.”

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.

Sampai akhirnya—

mereka berpisah menuju kamar masing-masing.

***

Fiona menutup pintu kamarnya.

Ia berjalan perlahan menuju tempat tidur.

Hari pertama di Lunaris telah berlalu.

Dan ternyata—

hari itu jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Mengingat kembali perjalanan teleportasi.

Istana.

Taman.

Teh sore.

Makan malam.

Seraphine yang begitu ramah.

Dan Darrien yang terlihat jauh lebih santai setelah menyelesaikan latihan Kevin.

Fiona tersenyum.

“Semoga besok juga menyenangkan.”

Ia berbaring.

Namun sebelum menutup mata—

pikirannya sempat kembali kepada mimpi beberapa malam lalu.

Darrien yang terlihat lebih dewasa.

Tatapan yang berbeda.

Kemudian—

tubuh Darrien yang penuh darah dalam pelukannya.

Fiona perlahan mengerutkan kening.

Perasaan takut itu masih ada.

Namun ia segera menggeleng.

“Bukan apa-apa.”

Ia menarik selimut.

“Aku tidak akan memikirkannya.”

Fiona memejamkan mata.

Kali ini—

tidak ada tangisan.

Tidak ada ketakutan.

Ia hanya ingin menikmati hari-harinya di Lunaris.

Dan tanpa mengetahui apa pun mengenai masa depan—

Fiona akhirnya tertidur.

Di luar jendela—

cahaya bulan menyinari Istana Lunaris.

Malam pertama mereka di kerajaan itu berakhir dengan tenang.

Setidaknya—

untuk sekarang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience