498. Kata Terakhir

Romance Completed 594

BAB 498 — KATA TERAKHIR

Untuk beberapa saat—

lima medan pertempuran yang sebelumnya dipenuhi suara pedang dan sihir...

menjadi sedikit lebih tenang.

Bukan karena mereka sudah selesai bertarung.

Bukan pula karena para vampire tiba-tiba menyerah.

Melainkan karena...

mereka semua mulai menyadari satu hal.

Pertarungan di tengah medan jauh lebih mengerikan daripada pertarungan mereka sendiri.

Kevin yang baru saja menahan serangan Mufasa mundur beberapa langkah.

Ia mengusap sudut bibirnya.

Lalu matanya bergerak ke arah tengah.

Darrien dan Raizen masih bertarung.

Pedang mereka beradu.

Sihir mereka meledak.

Tanah di sekitar mereka sudah tidak lagi berbentuk seperti medan perang biasa.

Beberapa bagian tanah retak.

Batu-batu terangkat.

Udara bergetar akibat tekanan magicure kedua monster itu.

Kevin terdiam beberapa detik.

Mufasa juga tidak langsung menyerang.

Keduanya...

hanya melihat.

“...Mereka masih bertarung?” Kevin akhirnya bertanya.

Mufasa menatap ke tengah.

“Sepertinya.”

Kevin menghela napas panjang.

“Sudah berapa lama?”

“Cukup lama.”

Kevin mengangguk pelan.

“Hebat.”

Mufasa meliriknya.

“Dalam arti?”

Kevin menunjuk ke arah dua orang yang sedang bertarung.

“Dalam arti... aku tidak mau berada di sana.”

Mufasa terdiam.

Kemudian—

“Setuju.”

Kevin langsung menoleh.

“Kau juga?”

“Aku masih ingin hidup.”

Kevin tertawa kecil.

“Setidaknya kita sepakat tentang sesuatu.”

Mereka kembali melihat pertarungan.

Lalu terdengar suara dari sisi lain.

“WOI!”

Ace.

Semua orang menoleh.

Ace berdiri dengan pedang di tangan, rambutnya sedikit berantakan.

Di belakangnya ada beberapa vampire guard yang juga terlihat lelah.

Ace menunjuk ke tengah.

“Bentar!”

Salah satu vampire guard mengerutkan kening.

“Apa?”

Ace menatap pertarungan Darrien dan Raizen.

Kemudian kembali melihat lawannya.

“Bos kalian memang selalu seperti itu?”

Vampire guard itu diam.

Ace mengangguk sendiri.

“Ya... masuk akal.”

“Apa yang masuk akal?”

“Kenapa kerajaan kalian punya pertahanan segila ini.”

Ace menunjuk ke tengah lagi.

“Karena bosnya juga segila itu.”

“...”

Vampire guard tersebut terlihat tidak tahu harus tersinggung atau mengiyakan.

Ace menghela napas.

“Sudahlah. Kita lanjut.”

Ia mengangkat pedangnya.

Namun matanya kembali melirik ke tengah.

“...Tapi serius.”

Senyumnya menghilang sedikit.

“Darrien masih berdiri.”

Rowan, yang berada tidak jauh darinya, ikut memperhatikan.

“Untuk saat ini.”

Ace mengerutkan kening.

“Kenapa kalimatmu terdengar seperti pertanda buruk?”

Rowan tidak menjawab.

Elarion dan Elyon juga berhenti sesaat dari pertarungan mereka.

Elarion menarik napas panjang.

“Darrien mulai kehilangan ritme.”

Elyon menatapnya.

“Benar.”

“Raizen masih memiliki cadangan tenaga.”

“Dan Darrien sudah terluka beberapa kali.”

Elyon mengangguk perlahan.

“Ini tidak bagus.”

Ace langsung menyela dari kejauhan.

“JANGAN BILANG TIDAK BAGUS!”

Elarion menoleh.

“Kami hanya sedang menganalisis.”

“Analisis kalian selalu membuatku tidak tenang!”

Rowan menghela napas.

“Fokus.”

Ace menunjuk Rowan.

“Aku sedang fokus!”

“Kau sedang melihat pertarungan.”

“Itu juga fokus.”

“...”

Tidak ada yang membantah.

Karena sebenarnya—

mereka semua memang sedang melakukan hal yang sama.

Mereka menyaksikan dua monster bertarung.

Dan untuk beberapa saat...

lima orang itu membiarkan diri mereka bernapas.

Tidak ada strategi.

Tidak ada teori.

Tidak ada rencana.

Hanya menyaksikan.

Dan perlahan mereka semua menyadari—

pertarungan itu telah memasuki tahap terakhir.

***

Di balik penghalang.

Fiona masih berdiri.

Namun kali ini...

sesuatu berbeda.

Dadanya terasa hangat.

Bukan seperti sebelumnya.

Bukan lagi potongan-potongan kecil yang datang lalu menghilang.

Kali ini—

kenangan itu mulai menyatu.

Fiona memejamkan mata.

Dan dunia di sekitarnya perlahan menghilang.

Danau.

Malam.

Bulan.

Angin.

Tawa.

Seseorang yang selalu berada di sampingnya.

Seseorang yang memanggil namanya.

Seseorang yang membuatnya merasa aman.

Seseorang yang pernah menggenggam tangannya.

Seseorang yang pernah memeluknya ketika ia menangis.

Seseorang yang pernah menunggunya.

Seseorang yang...

mencintainya.

Air mata Fiona mengalir.

Namun kali ini ia tidak merasa takut.

Ia tidak mencoba menghentikannya.

Ia membiarkan semuanya datang.

Satu demi satu.

Tidak seperti sebelumnya.

Tidak lagi berupa mimpi yang terputus.

Melainkan kenangan.

Kenangan yang benar-benar miliknya.

“...Aku ingat.”

Suara Fiona sangat kecil.

Di ruang kesadarannya—

dua elf kecil berdiri di depan kristal.

Retakan terakhir muncul.

Krek...

Kemudian—

cahaya keluar dari celah kristal.

Kedua elf itu mundur.

“Sudah.”

Kristal itu tidak hancur.

Tidak meledak.

Ia hanya...

terbuka.

Dan seluruh kenangan yang selama ini tersegel mengalir kembali ke dalam diri Fiona.

Tidak sekaligus seperti badai.

Melainkan seperti sungai yang akhirnya menemukan jalannya pulang.

Fiona menarik napas dalam.

Matanya terbuka.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

ketika ia melihat Darrien...

ia tidak lagi bertanya,

“Siapa dia?”

Matanya bergetar.

“...Darrien.”

Nama itu keluar begitu alami.

Begitu lembut.

Seolah bibirnya telah mengucapkannya selama ribuan tahun.

***

“CLANG!”

Pedang Darrien terpental.

Tubuhnya mundur beberapa langkah.

Napasnya sudah berat.

Darah menetes dari beberapa luka di tubuhnya.

Tangannya gemetar.

Namun ia masih menggenggam pedangnya.

Raizen berdiri beberapa meter di depannya.

Ia juga memiliki luka.

Namun jauh lebih sedikit.

Tatapan crimson-nya dingin.

Darrien mencoba melangkah.

Satu langkah.

Kakinya goyah.

Langkah kedua—

tubuhnya hampir jatuh.

“...Sial.”

Ia memaksa dirinya tetap berdiri.

Namun Raizen sudah mengangkat satu tangannya.

Bayangan bergerak di bawah kaki Darrien.

“...!”

**SHRRAAK!**

Benang-benang bayangan keluar dari tanah.

Mereka melilit kaki.

Tangan.

Tubuh.

Kemudian menembus celah pertahanannya dan mengunci beberapa jalur pembuluh magicure di tubuh Darrien.

Darrien tersentak.

“ARGH!”

Ia mencoba memutusnya.

Tidak berhasil.

Semakin ia melawan—

semakin kuat benang itu mengikat.

Raizen berjalan perlahan mendekat.

Di bawah kaki Darrien—

sebuah lingkaran sihir muncul.

Crimson.

Hitam.

Berputar perlahan.

Aura kematian memenuhi udara.

Kelima medan pertempuran langsung berhenti.

Kevin membeku.

Ace menurunkan pedangnya.

Rowan langsung menoleh.

Elarion dan Elyon saling bertukar pandangan.

“DARRIEN!”

Mereka semua bergerak.

Lima orang itu langsung berlari menuju tengah.

Namun—

**BOOOOM!**

Sebuah penghalang besar muncul di antara mereka dan Darrien.

Ace menghantamnya dengan pedang.

“Tidak!”

Kevin ikut menyerang.

“RAIZEN!”

Elarion mencoba membaca struktur penghalang.

“Ini terlalu kuat!”

Elyon mengangkat tangannya.

Cahaya memenuhi telapak tangannya.

Namun penghalang itu bahkan tidak bergeser.

Rowan mengepalkan tangan.

“Tidak bisa ditembus!”

Mereka semua kini hanya bisa melihat.

Darrien.

Raizen.

Dan lingkaran crimson-black di bawah kaki Darrien.

***

Raizen berhenti tepat di depan Darrien.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Bukan senyum hangat.

Bukan senyum tenang.

Melainkan senyum seseorang yang sudah yakin bahwa pertarungan ini telah berakhir.

“Any last words...?”

Darrien tidak menjawab.

Tubuhnya sudah terlalu lelah.

Napasnya tersendat.

Namun perlahan—

matanya bergerak.

Dari Raizen...

menuju ke belakang.

Menuju Fiona.

Fiona berdiri diam.

Mata mereka bertemu.

Dan pada saat itu—

Darrien tersenyum.

Senyum kecil.

Lelah.

Sedikit sedih.

Tetapi penuh kehangatan.

Fiona menatapnya.

Dadanya bergetar.

“Darrien...”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Darrien masih tersenyum.

Bibirnya bergerak.

Kata-kata yang keluar begitu pelan—

hampir seperti sebuah bisikan yang hanya ditujukan kepada satu orang.

“Aku...”

Napasnya terputus sebentar.

“Aku mencintaimu...”

Fiona membeku.

Darrien menatapnya.

Seolah tidak ada seorang pun di sana.

Seolah seluruh dunia telah menghilang.

Hanya mereka berdua.

Hanya dua orang yang pernah saling mencintai.

Raizen menunggu.

Beberapa detik.

Tidak ada jawaban lain dari Darrien.

Senyum Raizen sedikit menghilang.

“Begitu.”

Tangannya terangkat.

Aura crimson-black semakin pekat.

“Kalau begitu...”

Lingkaran sihir di bawah kaki Darrien menyala terang.

“Ini adalah akhir.”

Raizen mengayunkan tangannya.

**DUAAAAARRR!**

Serangan terakhir melesat.

Kelima orang di balik penghalang berteriak.

“DARRIEN!”

Fiona membelalakkan mata.

Sesuatu di dalam dirinya—

bergerak.

Bukan pikirannya.

Bukan kesadarannya.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun.

Dan ketika serangan itu hampir mengenai Darrien—

Fiona mendengar suaranya sendiri.

Lebih jelas daripada sebelumnya.

“...Darrien.”

Seketika—

semuanya berhenti.

Suara pedang.

Suara sihir.

Suara angin.

Bahkan napas mereka seolah menghilang.

Mata Raizen melebar.

Darrien menatap Fiona.

Kelima orang di belakang penghalang membeku.

Dan Fiona—

menatap Darrien dengan mata yang perlahan berubah.

Sesuatu yang selama ini terkunci...

akhirnya bangun.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience