376. Latihan Sendiri

Romance Completed 594

BAB 376 — LATIHAN SENDIRI

POV DARRIEN

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sini.

Hutan Veyth terasa begitu tenang.

Angin bergerak perlahan di antara pepohonan.

Magicure mengalir di udara seperti aliran tipis yang hampir tidak terlihat.

Dan untuk pertama kalinya—

aku tidak memaksanya.

Aku hanya merasakannya.

Semakin tenang pikiranku—

semakin jelas semuanya terasa.

Aku bisa merasakan akar pohon di bawahku.

Aliran air jauh di dalam tanah.

Makhluk kecil yang bergerak di balik semak.

Bahkan perubahan arah angin.

Aku membuka mata.

“…”

Lebih jauh.

Aku mencoba memperluas magic sense-ku lagi.

Tidak memaksa.

Sedikit demi sedikit.

Dan—

aku berhasil.

Jangkauanku semakin luas.

Lebih jauh dari sebelumnya.

Aku tersenyum kecil.

*Jadi ini yang dimaksud Grandmaster.*

Bukan memaksa magicure.

Bukan mengeluarkan lebih banyak kekuatan.

Tapi membiarkannya mengalir secara alami.

Aku kembali memejamkan mata.

Kemudian—

aku merasakan sesuatu yang sangat familiar.

Magicure Fiona.

Aku langsung membuka mata.

“Fiona.”

***

Aku bisa merasakan keberadaannya.

Crystal Garden Veyth.

Tidak terlalu jauh dari sini.

Aku berdiri di atas cabang pohon.

Kemudian teringat sesuatu dari mimpi.

Grandmaster Darrien tidak selalu menggunakan teleportasi.

Kadang—

ia bergerak begitu cepat sehingga perpindahannya hampir terlihat seperti teleportasi.

Aku ingin mencobanya.

Namun aku tidak langsung menuju Fiona.

Aku melompat.

Satu cabang.

Kemudian cabang berikutnya.

**WHOOSH!**

Aku mendarat.

Bergerak lagi.

Lebih cepat.

**WHOOSH!**

Aku berpindah dari satu cabang ke cabang lain.

Tubuhku mulai mengikuti aliran magicure.

Aku tidak memaksanya.

Aku hanya mengikuti.

Satu langkah.

Dua.

Tiga.

Kemudian—

aku menghilang.

Dan muncul beberapa puluh meter jauhnya.

Aku terdiam.

“…Berhasil.”

Aku tersenyum.

Sekali lagi.

Lebih cepat.

**WHOOSH!**

Aku bergerak.

Kali ini bahkan lebih lancar.

Lebih cepat daripada sebelumnya.

Aku mulai memahami teknik itu.

Bukan teleportasi sepenuhnya.

Namun perpindahan instan menggunakan kombinasi gerakan, magicure, dan penghilangan keberadaan.

Aku bisa menghilangkan jejakku.

Menyembunyikan keberadaanku.

Dan muncul di tempat lain sebelum seseorang sempat bereaksi.

Aku menatap Crystal Garden dari kejauhan.

Senyum kecil muncul di wajahku.

Fiona ada di sana.

Dan tiba-tiba—

sebuah ide muncul di kepalaku.

Aku ingin mencobanya.

Bukan pada musuh.

Bukan pada target latihan.

Pada Fiona.

Aku ingin tahu apakah dia bisa menyadari kedatanganku.

Aku tersenyum.

“Maaf, Fiona.”

Aku mengambil posisi.

“Untuk kali ini…”

Aku menghilangkan keberadaanku.

“…aku akan menculikmu.”

***

CRYSTAL GARDEN

Fiona sedang duduk bersama Ace, Rowan, Kevin, Elyon, dan Elarion.

Percakapan mereka berlangsung santai.

Ace sedang bercerita tentang sesuatu.

Rowan sesekali menyela.

Elarion tertawa.

Elyon hanya mendengarkan.

Kevin berdiri tidak jauh dari mereka.

Fiona tersenyum sambil menikmati suasana.

Tidak ada yang menyadari—

seseorang sedang mendekat.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada suara.

Tidak ada tekanan magicure yang terasa.

***

Aku berhenti beberapa meter dari mereka.

Aku menahan napas.

Magicure-ku benar-benar tenang.

Aku bisa merasakan semuanya.

Fiona.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Elyon.

Elarion.

Tidak ada satu pun yang menyadari keberadaanku.

Aku tersenyum.

*Berhasil.*

Aku melangkah.

Satu gerakan.

Kemudian—

**WHOOSH!**

Aku muncul tepat di belakang Fiona.

Tanganku langsung melingkari pinggangnya.

Fiona bahkan belum sempat berbalik.

“Hah—?”

Aku menariknya mendekat.

Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi—

**WHOOSH!**

Kami menghilang.

***

Hening.

…

…

…

Ace berkedip.

Rowan berkedip.

Elarion menatap tempat Fiona tadi duduk.

Elyon juga terdiam.

Kevin—

untuk pertama kalinya—

bahkan tidak langsung berkata apa-apa.

Hanya beberapa detik.

Tidak lebih dari lima detik.

Fiona masih ada.

Kemudian—

hilang.

Ace perlahan menunjuk tempat kosong itu.

“…Fiona?”

Rowan menatapnya.

“Dia tadi di sini.”

Elarion mengangguk.

“Ya.”

Elyon melihat sekeliling.

“Siapa yang membawanya?”

Kevin menyipitkan mata.

Ia merasakan sisa magicure yang sangat tipis.

Kemudian—

matanya sedikit melebar.

“Darrien.”

Ace langsung menoleh.

“Darrien?”

Rowan terdiam.

Kemudian tersenyum.

“Dia menculik Fiona?”

Kevin menghela napas.

“Sepertinya.”

Elarion tertawa kecil.

“Setidaknya sekarang kita tahu latihan tadi berhasil.”

Ace melihat Kevin.

“Jadi kita biarkan saja?”

Kevin menyilangkan tangan.

“Dia bukan penculik sungguhan.”

Rowan mengangguk.

“Benar.”

Keduanya saling pandang.

Kemudian—

Ace tersenyum.

“Menurutmu dia membawa Fiona ke mana?”

Kevin melihat arah hutan.

“Entahlah.”

Rowan tertawa.

“Kalau begitu…”

Ia memasukkan tangannya ke saku.

“…biarkan mereka.”

Elarion menggeleng sambil tersenyum.

“Darrien akhirnya menemukan cara menggunakan latihan Grandmaster-nya.”

Elyon menambahkan,

“Dan korban pertamanya adalah Fiona.”

Kevin tersenyum tipis.

“Menarik.”

***

Jauh di dalam hutan—

Darrien muncul kembali.

Fiona masih berada dalam pelukannya.

Ia menatap Fiona.

Fiona menatapnya.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

Fiona menyipitkan mata.

“Darrien.”

Darrien tersenyum.

“Ya?”

“Kau baru saja menculikku?”

Darrien berpikir sebentar.

“…Untuk latihan.”

Fiona terdiam.

Kemudian—

tersenyum.

“Latihan?”

Darrien mengangguk.

“Latihan.”

Fiona menatapnya beberapa saat.

“Baiklah.”

Ia menyandarkan kepalanya sedikit.

“Tapi kau harus menjelaskan nanti.”

Darrien tertawa kecil.

“Deal.”

Dan untuk pertama kalinya—

Darrien menyadari bahwa kemampuan yang ia lihat dalam mimpinya bukan lagi sekadar sesuatu yang ia lihat.

Ia mulai—

memahaminya.

Dan perlahan—

tubuhnya mulai mengingat caranya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience