330. Ribuan Tahun Kehilangan

Romance Series 382

BAB 330 — RIBUAN TAHUN KEHILANGAN

Cermin kecil itu kembali bergerak.

Pemandangan di dalamnya berubah.

Tidak ada lagi senyum.

Tidak ada lagi kedamaian.

Hanya perang.

Pertempuran yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka lihat sebelumnya.

Dua kelompok yang dahulu saling bermusuhan kembali bertabrakan.

Light Elf.

Dark Elf.

Dan di tengah kekacauan itu—

dua orang yang hanya ingin hidup bersama.

Namun dunia tidak membiarkannya.

***

Darrien terlihat bertarung.

Ia berdiri di tengah medan perang.

Tubuhnya sudah dipenuhi luka.

Namun ia tetap bergerak.

Sihir gelap memenuhi langit.

Satu demi satu musuh jatuh.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Di sisi lain—

Fiona juga ditahan.

Beberapa Light Elf menghalangi jalannya.

Ia mencoba bergerak menuju Darrien.

Namun sebuah penghalang menahannya.

“Darrien!”

Suara Fiona terdengar dari dalam cermin.

Darrien mencoba mendekatinya.

Namun jalan mereka kembali ditutup.

Mereka hampir bisa melihat satu sama lain.

Hanya beberapa jarak.

Namun tidak bisa menyentuh.

***

Kemudian—

seseorang muncul di belakang Darrien.

Seseorang yang dipercaya olehnya.

Seorang pengkhianat.

Serangan terakhir dilepaskan.

Darrien terhuyung.

Sihir hitam di sekeliling tubuhnya menghilang sedikit demi sedikit.

Fiona melihatnya.

Matanya membesar.

“Tidak…”

Darrien jatuh.

Namun sebelum tubuhnya menyentuh tanah—

ia mengangkat wajah.

Matanya mencari Fiona.

Dan meskipun tubuhnya hampir tidak mampu bergerak—

ia tersenyum kecil.

Bibirnya bergerak.

Tanpa suara.

Namun semua orang yang melihat cermin bisa membaca kata-katanya.

**Aku mencintaimu.**

Kemudian—

Darrien jatuh.

Fiona membeku.

Untuk beberapa detik—

ia tidak bergerak.

Kemudian—

penghalang yang menahannya pecah.

**BOOM!**

Fiona langsung bergerak.

Ia mencapai Darrien.

Memeluk tubuhnya.

Namun—

terlambat.

Tubuh pria itu sudah tidak bergerak.

Fiona mengguncangnya.

“Tidak…”

Air matanya jatuh.

“Bangun…”

Tidak ada jawaban.

“Bangun!”

Tangisnya berubah menjadi jeritan.

Dan saat itulah—

kekuatan yang sangat besar meledak dari tubuhnya.

***

Cermin berubah.

Fiona berdiri sendirian di tengah medan perang.

Cahaya di tubuhnya telah berubah.

Bukan lagi cahaya seorang Saintess yang lembut.

Melainkan kekuatan yang begitu besar hingga seluruh dunia seolah-olah bergetar.

Light Elf.

Dark Elf.

Semua yang berada di dekatnya—

tidak mampu bertahan.

Fiona mengangkat tangannya.

Forbidden Magic.

Sebuah sihir yang bahkan tidak seharusnya digunakan.

Namun ia tidak peduli.

Ia hanya memiliki satu tujuan.

Tidak kehilangan Darrien sepenuhnya.

Ia mengambil sesuatu yang berkilauan dari tubuh Darrien.

Sebuah Soul Crystal.

Kemudian—

dengan kedua tangannya—

ia menggenggamnya erat.

“Kalau dunia ini ingin mengambilmu dariku…”

Air matanya terus mengalir.

“…aku tidak akan membiarkannya.”

Sihir Forbidden Magic menyelimuti Soul Crystal tersebut.

Mengunci jiwa Darrien.

Membuatnya tetap berada di sisinya.

Selamanya.

***

Pemandangan berubah lagi.

Kerajaan-kerajaan runtuh.

Sejarah berubah.

Nama-nama dihapus.

Catatan dimusnahkan.

Light Elf dan Dark Elf yang pernah menjadi bagian dari sejarah itu—

perlahan menghilang dari catatan dunia.

Dan Fiona—

tetap hidup.

Sendirian.

Ia berjalan melewati kota.

Melewati hutan.

Melewati kerajaan.

Melewati generasi yang terus berganti.

Tahun berubah.

Puluhan tahun.

Ratusan tahun.

Seribu tahun.

Lebih.

Ia masih membawa Soul Crystal Darrien.

Tetap menunggunya.

Tetap berbicara kepadanya meskipun tidak pernah mendapatkan jawaban.

***

Cermin memperlihatkan Fiona yang jauh lebih tua.

Ia berdiri di tepi danau.

Rambutnya tertiup angin.

Tangannya menggenggam Soul Crystal.

“Aku masih menunggumu.”

Tidak ada jawaban.

“Aku belum melupakanmu.”

Tidak ada jawaban.

“Aku masih mencintaimu.”

Tetap tidak ada jawaban.

Fiona menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya—

semua orang di Crystal Hall dapat melihat betapa kesepiannya dia.

Tidak ada kerajaan.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada teman.

Tidak ada keluarga.

Hanya dirinya—

dan jiwa seseorang yang tidak pernah bisa menjawabnya.

***

Waktu kembali berjalan.

Fiona terus mencari.

Ia mencari sebuah tubuh baru.

Sebuah wadah yang mampu menerima jiwa Darrien.

Bertahun-tahun.

Puluhan tahun.

Ratusan tahun.

Sampai akhirnya—

pemandangan berubah.

Sebuah kerajaan muncul.

Veyth.

Edward dan Gloria terlihat di dalam cermin.

Gloria sedang mengandung.

Fiona berdiri jauh dari mereka.

Tidak terlihat.

Namun matanya tertuju kepada kehidupan kecil yang belum lahir.

Kemudian—

hari kelahiran itu tiba.

Seorang bayi lahir.

Darrien.

Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun—

Fiona tersenyum.

Air mata memenuhi matanya.

“Darrien…”

Ia melihat bayi kecil itu.

Tidak menyentuhnya.

Hanya mengawasi dari kejauhan.

Namun kemudian—

rasa takut muncul.

Ia tahu.

Jika Darrien tumbuh di sini—

suatu hari ia mungkin akan memiliki kehidupan sendiri.

Mungkin menikah.

Mungkin mencintai orang lain.

Dan Fiona—

tidak tahu apakah dirinya sanggup melihat itu.

***

Pemandangan kembali berubah.

Malam.

Veyth tertidur.

Fiona muncul di dekat kamar Darrien.

Darrien masih kecil.

Ia menggendongnya dengan sangat hati-hati.

Anak itu tidak tahu siapa dirinya.

Tidak tahu siapa Fiona.

Tidak tahu bahwa jiwa di dalam dirinya adalah jiwa yang telah ia tunggu selama ribuan tahun.

Fiona mencium dahinya.

Air matanya jatuh.

“Maafkan aku.”

Ia memejamkan mata.

“Aku hanya ingin kau kembali kepadaku.”

Kemudian—

ia membawa Darrien pergi.

***

Pemandangan berubah lagi.

Sebuah perjalanan.

Jauh dari Veyth.

Jauh dari kerajaan.

Jauh dari sejarah.

Hingga akhirnya—

Akasia.

Sebuah kota kecil.

Fiona membawa Darrien yang masih kecil.

Ia melihat sekeliling.

Tidak ada yang mengenal mereka.

Tidak ada yang tahu siapa mereka.

Tidak ada kerajaan.

Tidak ada gelar.

Tidak ada perang.

Tidak ada masa lalu.

Fiona tersenyum sedih.

“Di sini…”

Ia memandang Darrien.

“…kita bisa menjadi orang biasa.”

Kemudian—

Forbidden Magic kedua dilakukan.

Cahaya menyelimuti tubuhnya.

Penampilan berubah.

Kekuatan disegel.

Memori disembunyikan.

Darrien juga berubah.

Semua yang pernah mereka miliki—

dikunci jauh di dalam jiwa mereka.

Fiona menatap anak kecil itu untuk terakhir kalinya.

Ia mencium dahinya.

“Maafkan aku.”

Air mata mengalir.

“Suatu hari…”

Ia tersenyum.

“…kau akan mengingatku.”

***

Cermin perlahan meredup.

Pemandangan terakhir—

sebuah malam.

Di depan sebuah panti asuhan.

Dua anak kecil tertidur.

Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun.

Dan seorang gadis kecil berusia lima tahun.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada kekuatan.

Tidak ada sihir.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada identitas.

Hanya dua anak manusia biasa.

Fiona berdiri di kejauhan.

Kemudian—

pemandangan menghilang.

Cermin kecil itu padam.

***

Crystal Hall kembali sunyi.

Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.

Tidak ada seorang pun yang mampu memproses semuanya.

Edward dan Gloria—

membeku.

Mereka baru saja melihat kisah anak mereka.

Anak yang mereka kira hilang tanpa alasan.

Darrien—

masih berdiri tanpa suara.

Tatapannya kosong.

Elyon menundukkan kepala.

Elarion tidak mampu berkata apa-apa.

Sylvester menggenggam tangannya sendiri.

Ace dan Rowan tidak lagi memiliki ekspresi bercanda.

Kevin hanya menatap lantai.

Zeith dan Seraphine juga terdiam.

Mereka semua memiliki pertanyaan.

Terlalu banyak pertanyaan.

Namun ketika mereka akhirnya mengangkat kepala—

wanita yang tadi berdiri di tengah Crystal Hall sudah tidak ada.

Kursi kristalnya kosong.

“…”

Elyon langsung berdiri.

“Fiona?”

Tidak ada jawaban.

Darrien menoleh ke sekeliling.

“Fiona?”

Namun kali ini—

tidak ada suara yang menjawabnya.

Sekali lagi—

Fiona telah pergi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience