396. Bayangan Kematian

Romance Completed 594

BAB 396 — BAYANGAN KEMATIAN

Keesokan paginya—

Darrien kembali berada di area latihan.

Seharusnya hari itu sama seperti biasanya.

Kevin berdiri di hadapannya.

Barrier telah terbentuk.

Hutan menjadi tempat latihan mereka.

Namun—

hari ini berbeda.

Darrien tidak benar-benar berada di sana.

Tubuhnya berdiri.

Tetapi pikirannya masih tertinggal di dalam mimpi semalam.

***

Sebuah danau.

Pohon besar.

Fiona.

Grandmaster Darrien.

Kemudian—

cahaya putih.

Barrier Pure Light.

Darrien masih dapat merasakan perasaan itu.

Tangan mereka hampir bertemu.

Hampir.

Namun tidak pernah berhasil.

Dan ketika Fiona menghilang dari hadapannya—

Grandmaster Darrien hanya bisa berdiri di sisi lain barrier.

Kehilangan.

Kesedihan.

Rasa sakit yang begitu dalam hingga bahkan Darrien yang hanya menyaksikannya dalam mimpi masih dapat merasakannya.

Darrien membuka matanya.

“….”

Tangannya mengepal.

Ia masih belum memahami magicure Grandmaster itu.

Terlalu dalam.

Terlalu tenang.

Terlalu berbeda dari magicure miliknya sekarang.

Setiap kali mencoba merasakannya—

seolah ada sesuatu yang berada tepat di luar jangkauan.

Sesuatu yang bisa ia lihat.

Tapi tidak bisa ia sentuh.

“Darrien.”

Suara Kevin membuatnya tersadar.

Darrien mengangkat wajah.

“Hm?”

Kevin menatapnya.

“Kau tidak fokus.”

“Aku baik-baik saja.”

Kevin menyipitkan mata.

“Tidak.”

Darrien menghela napas.

Ia tahu Kevin tidak akan membiarkannya begitu saja.

“Mulai.”

Kevin langsung menyerang.

**WHOOSH!**

Darrien menghindar.

Namun gerakannya terlambat.

Serangan kedua datang.

Darrien memblokir.

**BOOM!**

Tubuhnya terdorong mundur.

Kevin mengerutkan kening.

“Pikiranmu masih berada di tempat lain.”

Darrien tidak menjawab.

Ia kembali mengambil posisi.

Kevin menyerang.

Kali ini Darrien bergerak lebih cepat.

Namun pikirannya masih terus memutar adegan dari mimpinya.

Fiona.

Barrier.

Tangan mereka.

Perpisahan.

Dan kemudian—

darah.

***

Darrien tiba-tiba berhenti.

Matanya melebar.

Sebuah gambaran lain muncul dalam pikirannya.

Grandmaster Darrien.

Berdiri di suatu tempat.

Ia tidak melihat serangan yang datang.

Seseorang berada di belakangnya.

Lucas.

Sebuah pedang pendek berada di tangan sekretaris itu.

**CHAK!**

Pedang menembus tubuh Grandmaster Darrien dari belakang.

Darrien tersentak.

Napasnya berhenti.

Grandmaster Darrien jatuh.

Dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah—

tatapan terakhirnya hanya tertuju kepada satu arah.

Fiona.

Darrien menggertakkan giginya.

*Dia mati…*

Bukan karena tidak cukup kuat.

Bukan karena magicure-nya habis.

Tapi karena—

**dia tidak melihat serangan dari belakang.**

Darrien mengepalkan tangannya.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”

Kevin menatapnya.

“Apa?”

Darrien mengangkat kepalanya.

“Tidak ada.”

Namun kali ini—

tatapannya berubah.

Ia tidak lagi mencoba mengingat seluruh teknik Grandmaster.

Ia hanya memikirkan satu hal.

**Sensing.**

Jika Grandmaster memiliki magicure yang begitu dalam dan terkendali—

maka dirinya yang sekarang harus belajar menggunakannya dengan benar.

Bukan hanya untuk menyerang.

Bukan hanya untuk bergerak.

Tetapi untuk mengetahui sesuatu—

bahkan ketika sesuatu itu berada di belakangnya.

***

Kevin kembali mengambil posisi.

“Serang.”

Darrien menghilang.

**WHOOSH!**

Kevin menyerang dari samping.

Darrien menghindar.

Serangan berikutnya datang dari belakang.

Namun kali ini—

Darrien sudah bergerak sebelum serangan itu tiba.

Kevin berhenti sesaat.

Darrien mendarat beberapa meter di belakangnya.

Napasnya teratur.

Matanya tenang.

Kevin tersenyum tipis.

“Begitu.”

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Kau akhirnya menemukan alasan untuk latihan hari ini.”

Darrien tidak menjawab.

Ia kembali mengambil posisi.

Magicure gelap perlahan mengalir di tubuhnya.

Lebih tenang.

Lebih dalam.

Ia masih belum bisa menangkap magicure Grandmaster sepenuhnya.

Namun sekarang ia tahu apa yang harus ia cari.

Bukan kekuatannya.

Bukan ingatannya.

Melainkan—

**sensasi yang memungkinkan seseorang mengetahui bahaya sebelum bahaya itu tiba.**

Kevin tersenyum.

“Sekali lagi.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Dan latihan kembali dimulai.

Namun hari itu—

Darrien tidak lagi berlatih hanya untuk menjadi lebih kuat.

Ia berlatih karena satu gambaran terus berada di dalam pikirannya.

Grandmaster Darrien—

berdiri sendirian.

Fiona telah terpisah darinya.

Dan sebuah pedang menembus punggungnya.

Darrien tidak tahu kapan ingatan itu akan kembali.

Namun ia tahu satu hal.

Jika suatu hari takdir mencoba mengulang adegan tersebut—

**kali ini, dia akan melihatnya datang.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience