Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 467 — DEMAM DI BAWAH BUNGA MAWAR HITAM
Koridor panjang di dalam istana Shadowcresent terasa begitu tenang siang itu.
Cahaya pucat dari jendela-jendela tinggi jatuh membentuk garis panjang di lantai batu hitam, sementara tirai tipis bergerak perlahan tertiup angin dari luar.
Langkah kaki terdengar samar.
Teratur.
Mufasa berjalan menyusuri koridor dengan beberapa lembar laporan kuno di tangannya.
Hari-hari telah berlalu sejak Raizen dan Fiona berjalan-jalan mengelilingi beberapa bagian Shadowcresent.
Untuk sementara...
tidak ada serangan.
Tidak ada penyusupan.
Tidak ada suara Veyth yang kembali mengacaukan perbatasan kerajaan.
Namun Mufasa tetap tidak lengah.
Ia tahu ketenangan seperti ini belum tentu berarti semuanya benar-benar aman.
Beberapa saat kemudian, ia berhenti di depan pintu besar kamar Raizen.
Tok.
Tok.
Tok.
"Yang Mulia."
Suara Mufasa terdengar dari luar.
Beberapa detik kemudian—
"Masuk."
Mufasa membuka pintu dan masuk.
Raizen sedang berdiri di dekat jendela.
Tatapannya mengarah keluar, memperhatikan langit siang Shadowcresent yang sedikit tertutup awan tipis.
"Bagaimana?"
Raizen bertanya tanpa berbalik.
Mufasa berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Veyth masih belum melakukan pergerakan besar."
Ia membuka laporan di tangannya.
"Namun pasukan pengawas di wilayah pegunungan menemukan beberapa bekas sihir teleportasi yang digunakan dalam beberapa hari terakhir."
Raizen akhirnya menoleh.
"Mereka masih mencoba?"
"Sepertinya begitu."
Mufasa menghela napas pendek.
"Mereka tidak memasuki wilayah inti. Tapi mereka tampaknya terus menguji batas luar."
Raizen terdiam.
Tidak terkejut.
Tidak juga marah.
Hanya tatapan tenang yang sedikit mengeras.
"Mereka keras kepala."
"Benar, Yang Mulia."
Mufasa membalik halaman berikutnya.
"Karena itu, saya menyarankan agar pola pertahanan di pegunungan sedikit diubah."
"Bagaimana?"
"Kita tidak perlu menambah jumlah jebakan."
Mufasa menunjuk beberapa tanda pada laporan.
"Kita cukup mengubah hubungan antarwilayahnya. Jalur yang sebelumnya membawa mereka ke utara bisa diarahkan ke lembah timur. Jalur timur bisa dibuat seolah-olah menjadi jalan keluar..."
Ia berhenti sebentar.
"...padahal akan membawa mereka kembali ke titik awal."
Raizen mendengarkan dengan tenang.
"Jangan biarkan mereka menemukan pola."
"Ya."
"Dan jangan gunakan pola yang sama terlalu lama."
"Sudah saya pikirkan."
Mufasa menutup laporan.
"Pasukan penjaga juga akan tetap berada di beberapa titik tersembunyi. Para penyihir akan bergantian menjaga jaringan sihir."
Raizen mengangguk.
"Bagus."
Mufasa membungkuk.
"Itu saja laporan saya untuk hari ini."
Ia kemudian melangkah mundur.
"Kalau begitu, saya permisi."
Sebelum keluar, Mufasa menundukkan kepala sedikit lebih dalam.
"Semoga Yang Mulia beristirahat dengan baik."
Raizen hanya mengangguk kecil.
"Pergilah."
Mufasa keluar.
Pintu kamar perlahan tertutup.
Klik.
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Raizen menarik napas pelan.
Biasanya setelah laporan selesai...
ia akan menemukan Fiona di salah satu sudut kamar.
Kadang duduk di dekat jendela.
Kadang membaca.
Kadang hanya berbaring santai.
Kadang bahkan tertidur tanpa sadar.
Namun kali ini—
tidak ada siapa-siapa.
Raizen perlahan mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan.
Tempat tidur kosong.
Kursi kosong.
Dekat jendela juga tidak ada Fiona.
Tangannya yang tadi berada di sisi tubuh perlahan mengepal.
Alisnya berkerut.
"Fiona...?"
Tidak ada jawaban.
Raizen melangkah ke sisi tempat tidur.
Kosong.
Ia menoleh ke arah pintu balkon.
Terbuka sedikit.
Raizen berjalan ke sana dan melihat keluar.
Tidak ada.
Tatapannya semakin serius.
"Di mana kau?"
Ia berbalik.
Pikirannya mulai mencari kemungkinan tempat Fiona berada.
Perpustakaan?
Tidak.
Fiona tidak terlalu sering pergi ke sana sendirian.
Paviliun lama?
Mungkin.
Namun...
Raizen tiba-tiba teringat sesuatu.
**Taman mawar hitam.**
Bibirnya sedikit terangkat.
"Dia mungkin di sana."
Fiona memang menyukai taman itu.
Raizen bahkan sempat tertawa kecil.
Tanpa sadar langkahnya menjadi sedikit lebih cepat.
Ia meninggalkan kamar dan menyusuri koridor panjang menuju taman.
Namun ketika sampai di sana—
langkahnya berhenti.
Matanya menyapu seluruh taman.
Bangku tempat Fiona biasa duduk...
kosong.
Air mancur...
kosong.
Meja kecil tempat mereka minum teh...
juga kosong.
Tidak ada sosok Fiona.
Senyum kecil di wajah Raizen menghilang.
"Fiona?"
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan beberapa langkah lebih dalam.
Tatapannya bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain.
Tidak ada.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari kamar...
kecemasan kecil muncul di matanya.
Bukan karena ia tidak mempercayai penjagaan Shadowcresent.
Justru karena ia terlalu mengetahui bagaimana Veyth bekerja.
Mereka telah mencoba berkali-kali.
Mereka terus belajar.
Bagaimana jika...
Raizen menghentikan pikirannya sendiri.
Tidak.
Mereka tidak mungkin melewati pegunungan tanpa diketahui.
Mufasa mengawasi wilayah itu setiap saat.
Pertahanan Shadowcresent tidak mungkin ditembus semudah itu.
Raizen menarik napas dalam.
"Tenang."
Ia mengatakannya kepada dirinya sendiri.
Namun tubuhnya tetap tegang.
Ia berjalan lagi.
Kemudian—
sebuah suara lembut terdengar dari balik pepohonan.
Sangat kecil.
Hampir seperti suara seseorang yang sedang menggumam dalam tidur.
Raizen langsung berhenti.
Tatapannya mengarah ke pepohonan.
"...Fiona?"
Ia bergerak mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat—
dan akhirnya ia melihatnya.
Fiona.
Tubuhnya berada di salah satu cabang pohon besar.
Ia tertidur di sana.
Posisinya sedikit meringkuk, satu tangannya masih berada di dekat wajah.
Raizen mengembuskan napas lega.
Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun.
"Astaga..."
Ia bahkan tertawa kecil karena lega.
"Jadi kau tidur di sini."
Namun tawanya segera menghilang.
Ada sesuatu yang tidak benar.
Raizen menatap wajah Fiona lebih dekat.
Alis Fiona sedikit berkerut.
Matanya tertutup rapat.
Napasnya tidak teratur.
Dan di sudut matanya—
ada sedikit air mata.
Raizen membeku.
Senyumnya hilang sepenuhnya.
"Fiona?"
Tidak ada jawaban.
Ia mendongak.
"Fiona."
Masih tidak ada respons.
Raizen berjalan tepat di bawah pohon.
"Fiona..."
Kali ini suaranya lebih lembut.
Tubuh Fiona bergerak sedikit.
Bibirnya terbuka.
Seolah mendengar suara Raizen dari dalam mimpinya.
"Rai..."
Raizen menahan napas.
Fiona perlahan membuka matanya.
Namun pandangannya masih kabur.
"...zen..."
Suaranya begitu lemah.
Tubuhnya kemudian bergerak ke depan.
"Fiona—"
Raizen langsung mengulurkan kedua tangannya.
Tubuh Fiona kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh dari cabang pohon.
Raizen menangkapnya tepat sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Tubuh kecil itu langsung jatuh ke dalam pelukannya.
Raizen memeluknya erat.
"Itu berbahaya..."
Namun kalimatnya terhenti.
Tangannya yang berada di punggung Fiona tiba-tiba terasa sesuatu.
**Panas.**
Sangat panas.
Raizen menunduk.
Tangannya berpindah ke dahi Fiona.
Begitu menyentuh kulitnya—
matanya langsung berubah.
Panas tubuh Fiona jauh di atas normal.
Raizen menatap wajahnya.
Pucat.
Napas tidak stabil.
Bulu matanya masih basah oleh sisa air mata.
"Fiona..."
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi tenang seperti sebelumnya.
Ia menyentuh dahinya sekali lagi, seolah berharap dirinya salah.
Namun panas itu tetap ada.
Bahkan lebih jelas.
Raizen mengerutkan kening.
"...kau panas sekali."
Fiona tidak menjawab.
Kepalanya hanya jatuh lemah ke dada Raizen.
Tubuhnya menggigil kecil meskipun dahinya panas.
Raizen langsung mengangkat tubuhnya lebih erat.
Satu tangannya menopang punggung Fiona.
Tangan lainnya berada di belakang kepalanya.
Tatapannya menjadi gelap.
Ia menatap wajah Fiona beberapa detik.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kemarahan kepada siapa pun.
Hanya kekhawatiran yang sangat dalam.
"Kenapa kau tidak memberitahuku...?"
Fiona tetap tidak menjawab.
Ia hanya bergerak kecil dalam pelukan Raizen.
Jarinya mencengkeram lemah pakaian Raizen.
Seolah bahkan dalam keadaan setengah sadar...
ia masih mencari sesuatu yang membuatnya merasa aman.
Raizen menatap tangan kecil itu.
Kemudian memeluknya lebih dekat.
"Sudah."
Suaranya sangat pelan.
"Aku di sini."
Ia berdiri.
Menggendong Fiona dalam kedua lengannya.
Kali ini tidak ada senyum di wajahnya.
Ia hanya berjalan meninggalkan taman.
Langkahnya cepat.
Namun tetap hati-hati.
Setiap gerakannya seolah takut mengguncang tubuh Fiona terlalu keras.
Saat melewati lorong panjang menuju kamar...
Raizen menundukkan kepalanya sedikit.
Tatapannya tidak pernah meninggalkan wajah Fiona.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama—
ketenangan sang Raja Vampire benar-benar retak.
Karena musuh yang selama ini ia pikirkan...
bukanlah yang sedang berada dalam pelukannya.
Yang membuatnya takut justru sesuatu yang jauh lebih sederhana.
**Fiona sedang sakit.**
