156. Yang Selamat

Romance Series 382

BAB 156
YANG SELAMAT

Hutan masih gelap.

Musaka terus berlari.

Tidak berhenti.

Tidak menoleh.

Tidak berani melihat ke belakang.

Napasnya semakin berat.

Dadanya terasa sesak.

Kakinya hampir kehilangan tenaga.

Namun ia tetap berlari.

Ia harus menjauh.

Sejauh mungkin.

Bayangan kejadian beberapa hari lalu terus menghantuinya.

Cahaya.

Kegelapan.

Dan aura yang membuat seluruh tubuhnya terasa seperti akan dihancurkan.

Musaka menggertakkan gigi.

“Tidak…”

Ia memegang dadanya sambil terus berlari.

“Tidak mungkin…”

Ia sudah hidup cukup lama untuk mengetahui perbedaan kekuatan.

Ia tahu kapan harus melawan.

Ia tahu kapan harus melarikan diri.

Dan malam itu—

ia memilih untuk hidup.

Salah satu anak manusia yang mereka kira akan menjadi makanan…

ternyata memiliki kekuatan yang bahkan tidak mampu ia pahami.

Sihir gelap itu.

Musaka masih bisa merasakannya.

Terlalu dalam.

Terlalu berat.

Bukan sekadar kuat.

Aura itu seperti sesuatu yang telah tertidur selama waktu yang sangat lama—

kemudian tiba-tiba terbangun.

Musaka menggigil.

“Kekuatan itu…”

Ia menelan ludah.

“Bahkan lebih tinggi dariku.”

Kalimat itu membuatnya semakin takut.

Ia adalah seorang vampir.

Ia bukan vampir terlemah.

Namun di hadapan anak manusia itu—

ia bahkan tidak merasa seperti seorang pemburu.

Ia merasa seperti mangsa.

Musaka mempercepat langkah.

Namun kemudian pikirannya beralih kepada gadis itu.

Fiona.

Cahaya samar yang muncul dari tubuhnya.

Pada awalnya ia mengira itu hanya Light Magic manusia biasa.

Tidak lebih.

Namun sekarang—

ia tidak yakin.

“Dan gadis itu…”

Musaka mengerutkan kening.

“Dia hanya manusia.”

Seharusnya begitu.

Manusia biasa.

Lemah.

Mudah dibunuh.

Namun mengapa cahaya itu terasa berbeda?

Tidak sebesar kekuatan Darrien.

Tidak mengintimidasi seperti Dark Magic miliknya.

Tetapi ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Musaka menggeleng.

“Tidak penting.”

Yang penting sekarang—

ia harus hidup.

Dan jika ia ingin membalas—

ia membutuhkan kekuatan yang lebih besar.

Jauh lebih besar.

***

Beberapa waktu kemudian—

Musaka akhirnya melihat bayangan bangunan tua di antara pepohonan.

Wilayah klannya.

Ia hampir tersandung ketika melewati gerbang.

Beberapa vampir yang berjaga langsung menoleh.

“Musaka?”

Mereka terkejut melihat kondisinya.

Pakaian robek.

Tubuh penuh luka.

Wajah pucat.

Napas tidak teratur.

“Apa yang terjadi padamu?”

Musaka tidak menjawab.

Ia terus berjalan.

Salah satu vampir mengejarnya.

“Musaka!”

Musaka akhirnya berhenti.

Ia menoleh.

Matanya dipenuhi ketakutan.

“Jangan tanya.”

Vampir itu terdiam.

Musaka melihat ke arah bagian dalam wilayah klan.

Tempat yang selama ini ia anggap aman.

Namun sekarang—

ia tahu dirinya membutuhkan sesuatu yang lebih.

Seseorang.

Kekuatan.

Aliansi.

Apa pun.

Ia mengepalkan tangan.

“Jika aku ingin membalas…”

Ia menarik napas.

“…aku harus menemukan seseorang yang jauh lebih kuat.”

Ia menatap kegelapan di hadapannya.

Sebuah senyum tipis muncul.

Bukan senyum bahagia.

Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan tujuan baru.

“Anak itu…”

Musaka bergumam.

“Suatu hari nanti aku akan membalasnya.”

Kemudian matanya menyipit.

“Dan gadis itu juga.”

Musaka berbalik.

Namun kali ini—

ia tidak lagi memikirkan bagaimana cara melarikan diri.

Ia mulai memikirkan—

**kepada siapa ia harus meminta bantuan.**

Jauh di dalam wilayah klan—

Musaka tahu ada kekuatan yang lebih tinggi.

Kekuatan yang selama ini bahkan tidak berani ia dekati.

Namun jika ia ingin membalas dendam—

mungkin sudah waktunya mengambil risiko.

Dan malam itu—

seorang vampir biasa yang hampir mati karena ketakutan…

memulai langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience