413. Tidur Yang Akan Mengubah Segalanya

Romance Completed 594

Tujuh hari telah berlalu sejak Fiona dibawa ke Shadowcresent.

Tujuh hari—

yang terasa jauh lebih panjang bagi Fiona.

Hari-hari di Shadowcresent berjalan dengan tenang.

Terlalu tenang.

Tidak ada serangan.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada seorang pun yang mencoba menyakitinya.

Namun—

Fiona tetap tidak bebas.

Magicure-nya masih tersegel.

Ia masih berada di wilayah milik Raja Vampire.

Dan Darrien—

masih belum datang.

Setidaknya—

belum.

***

Selama tujuh hari itu, Fiona perlahan mengenal beberapa bagian Shadowcresent.

Ia mengenal koridor panjang istana.

Ia mengenal taman tempat Karachi sering menghabiskan waktunya.

Ia mengenal beberapa makanan yang disajikan kepadanya.

Dan tentu saja—

ia mengenal satu hal yang tidak pernah berubah.

Setiap kali ia meminta segelnya dibuka—

Raizen selalu menjawab sama.

“Tidak.”

Tidak peduli berapa kali Fiona bertanya.

Tidak peduli bagaimana ia mencoba membujuk.

Jawabannya selalu sama.

Tidak.

Namun ada satu hal lain yang juga tidak pernah berubah.

Setiap hari—

Fiona menyebut nama yang sama.

Darrien.

Kadang ketika sedang makan.

Kadang ketika berjalan di taman.

Kadang ketika melihat langit.

Dan—

paling sering—

ketika ia tertidur.

***

Malam pertama—

Raizen hanya berdiri di dekat jendela.

Fiona sedang tidur.

Napasnya tenang.

Wajahnya terlihat damai.

Namun beberapa saat kemudian—

sebuah suara kecil terdengar.

“Darrien…”

Raizen menoleh.

Ia mengira Fiona sedang berbicara dalam tidurnya.

Tidak lebih.

Ia kembali melihat ke luar jendela.

Namun beberapa detik kemudian—

“Darrien…”

Raizen kembali menoleh.

Fiona masih tertidur.

Namun kali ini—

sebuah air mata mengalir dari sudut matanya.

Raizen terdiam.

Ia berjalan mendekat.

Ia melihat air mata tersebut.

Kemudian—

ia melihat wajah Fiona.

“…”

Ia tidak membangunkannya.

Malam itu—

ia hanya pergi.

***

Malam kedua—

hal yang sama terjadi.

Malam ketiga—

lagi.

Malam keempat—

lagi.

Hari kelima.

Keenam.

Selalu sama.

Nama itu.

Darrien.

Dan setiap kali Fiona mengucapkannya—

ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diri Raizen.

Awalnya hanya rasa ingin tahu.

Kemudian—

rasa terganggu.

Lalu—

sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.

Ia tidak menyukai suara itu.

Ia tidak menyukai ketika Fiona menyebut nama pria lain.

Terlebih lagi—

ketika nama itu muncul dari bibir Fiona dalam keadaan tertidur.

Raizen bahkan tidak mengerti mengapa.

Ia hanya tahu—

setiap kali mendengarnya,

dadanya terasa tidak nyaman.

***

Malam ketujuh.

Raizen kembali berada di kamar.

Fiona telah tertidur sejak beberapa waktu lalu.

Raizen berdiri di dekat jendela.

Ia menatap langit Shadowcresent.

Bulan sabit merah menggantung di antara awan.

Suasana sangat tenang.

Namun—

“Darrien…”

Raizen menutup matanya.

Ia menarik napas.

“…”

Kemudian—

“Darrien…”

Tangannya perlahan mengepal.

Ia berbalik.

Tatapannya tertuju pada Fiona.

Perempuan itu masih tertidur.

Air mata kembali jatuh.

Raizen berjalan mendekat.

Ia berdiri di samping tempat tidur.

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Fiona kembali berbisik.

“Darrien…”

Raizen menatapnya lama.

Kemudian—

untuk pertama kalinya—

ia berbicara dengan suara yang sedikit lebih tajam.

“Hentikan itu.”

Fiona bergerak kecil.

Matanya perlahan terbuka.

Masih mengantuk.

“Apa…?”

Raizen menatapnya.

“Jangan panggil namanya.”

Fiona mengerutkan kening.

“Nama siapa?”

Raizen diam.

Fiona melihat ekspresinya.

Kemudian ia memahami.

“Darrien?”

Rahang Raizen sedikit mengeras.

Fiona duduk.

“Ada apa denganmu?”

Raizen tidak menjawab.

Fiona mengusap matanya.

“Dia akan datang.”

Raizen menatapnya.

Fiona melanjutkan,

“Darrien akan datang membawaku pulang.”

Nada suaranya tidak ragu.

Tidak sedikit pun.

Raizen memperhatikannya.

“Kau begitu yakin?”

“Ya.”

“Bagaimana jika dia tidak datang?”

Fiona langsung menjawab,

“Dia akan datang.”

Raizen terdiam.

“Bagaimana jika dia tidak menemukan Shadowcresent?”

Fiona tersenyum kecil.

“Dia akan menemukan jalan.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena itu Darrien.”

Jawaban sederhana.

Namun bagi Raizen —

jawaban itu terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.

Ia menatap mata Fiona.

Ada keyakinan di sana.

Keyakinan yang tidak dapat digoyahkan.

Dan entah mengapa—

Raizen kembali mengingat seseorang.

Seorang anak laki-laki.

Tatapan yang sama.

Keyakinan yang sama.

Keberanian yang sama.

Anak kecil yang pernah ia lihat sebelumnya.

Raizen terdiam.

*Tatapan itu…*

Ia kembali melihat Fiona.

*Keyakinan yang sama.*

Untuk beberapa detik—

Raizen tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian sebuah pikiran muncul.

Sebuah pikiran yang seharusnya tidak ia ikuti.

Namun semakin ia memikirkannya—

semakin sulit untuk menghentikannya.

“Seberapa dalam…”

Raizen berbicara perlahan.

“…kau mencintainya?”

Fiona menatapnya.

“Dalam.”

Raizen tersenyum tipis.

“Cukup dalam untuk menolak menjadi ratuku?”

“Ya.”

“Bahkan jika aku memberikanmu seluruh Shadowcresent?”

“Ya.”

“Bahkan jika kau tidak pernah kembali ke Veyth?”

Fiona menatapnya tajam.

“Aku tetap memilih Darrien.”

Hening.

Raizen menatapnya.

Kemudian—

ia tersenyum.

Namun senyum itu berbeda.

Lebih dingin.

Lebih tenang.

Dan sedikit berbahaya.

“Kalau begitu…”

Fiona mengerutkan kening.

“Apa?”

Raizen mengangkat tangannya.

“Aku ingin tahu jawabannya sendiri.”

Fiona mundur sedikit.

“Raizen?”

Telapak tangan Raizen berhenti di depan wajahnya.

Fiona mencoba mengangkat magicure.

Tidak ada.

Segel di pergelangan tangannya langsung berdenyut.

Tubuhnya melemah.

“Tidak…”

Pandangan Fiona mulai kabur.

“Raizen…”

Ia mencoba mundur.

Namun kakinya tidak lagi kuat.

Raizen menangkap tubuhnya sebelum jatuh.

Fiona mencoba membuka matanya.

“Apa… yang kau lakukan…?”

Raizen menatapnya.

“Tidurlah.”

Suaranya sangat tenang.

“Kita akan mengetahui seberapa kuat cintamu.”

Mata Fiona perlahan tertutup.

Tubuhnya menjadi lemas dalam pelukan Raizen.

***

Raizen membawa Fiona keluar dari kamar.

Koridor Shadowcresent kembali sunyi.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Ia membawa Fiona menuju bagian istana yang jauh lebih tua.

Bagian yang jarang digunakan.

Pintu batu besar terbuka di hadapannya.

Di baliknya—

sebuah ruangan ritual kuno menunggu.

Raizen masuk.

Di tengah lantai—

sebuah lingkaran magicure telah disiapkan.

Pola-pola kuno membentuk beberapa lapisan.

Rune hitam.

Garis merah gelap.

Simbol bulan sabit.

Raizen menurunkan tubuh Fiona perlahan di tengah lingkaran.

Ia menatap wajah Fiona.

Masih tertidur.

Masih tenang.

Tidak tahu apa yang akan dilakukan kepadanya.

Raizen berdiri.

“Selama tujuh hari…”

Ia menatapnya.

“Namanya selalu ada.”

Ia menutup mata sebentar.

“Darrien.”

Nama itu kembali terdengar.

Dan lagi—

rasa tidak nyaman muncul di dadanya.

Raizen membuka mata.

“Kalau begitu…”

Magicure gelap mulai mengalir dari tubuhnya.

Lingkaran ritual menyala.

“Aku ingin melihatnya.”

Ia mengangkat tangan.

“Seberapa dalam ingatanmu tentang dia.”

Cahaya hitam perlahan mengelilingi tubuh Fiona.

Namun sebelum ritual sepenuhnya dimulai—

Raizen berhenti.

Ia menatap Fiona beberapa detik lebih lama.

Entah mengapa—

ada sedikit keraguan.

Hanya sesaat.

Kemudian—

ia menghilangkannya.

“Tidurlah.”

Magicure kembali bergerak.

***

Di luar ruangan—

Mufasa berdiri dalam diam.

Ia tidak masuk.

Namun ia tahu apa yang sedang terjadi.

Tatapannya turun.

Ia menghela napas panjang.

“…”

Sejak Fiona datang—

ia telah melihat perubahan kecil pada Tuannya.

Awalnya hanya rasa ingin tahu.

Kemudian perhatian.

Kemudian—

ketidaksenangan setiap kali Fiona menyebut nama Darrien.

Dan sekarang—

Tuannya sedang mencoba menghapus nama itu dari ingatannya.

Mufasa menatap pintu.

“Yang Mulia…”

Ia berhenti.

Ia tidak tahu apakah keputusan ini benar.

Namun ia juga tahu—

tidak ada yang dapat menghentikan Raizen ketika ia telah memutuskan sesuatu.

Mufasa kembali menghela napas.

“Semoga Anda tahu apa yang Anda lakukan.”

***

Di dalam ruangan—

Raizen berdiri di luar lingkaran ritual Fiona.

Magicure semakin kuat.

Namun wajah Fiona tetap tenang.

Raizen menatapnya.

“Mulai besok…”

Suaranya sangat rendah.

“…kau tidak akan mengingatnya.”

Ia berhenti.

Kemudian—

“Dan aku akan melihat sendiri…”

Tatapannya semakin dalam.

“…apakah hatimu masih memilihnya ketika ingatanmu sudah tidak mengenal namanya.”

Lingkaran ritual menyala penuh.

Cahaya gelap memenuhi ruangan.

Dan—

ritual dimulai.

***

VEYTH.

Di waktu yang hampir bersamaan—

Darrien berdiri sendirian di halaman istana.

Entah mengapa—

hari itu terasa berbeda.

Ia tidak tahu alasannya.

Tidak ada tanda bahaya.

Tidak ada aura asing.

Tidak ada pesan dari siapa pun.

Namun—

dadanya terasa berat.

Darrien menatap langit.

“…”

Ia menarik napas panjang.

Tangannya perlahan menyentuh dadanya.

“Fiona…”

Tidak ada jawaban.

Namun perasaan buruk itu tidak menghilang.

Justru semakin kuat.

Ia menutup matanya.

Bayangan Fiona muncul dalam pikirannya.

Senyumnya.

Suaranya.

Tatapannya.

Cara ia selalu berdiri di sampingnya.

Darrien membuka mata.

“Ada sesuatu yang salah.”

Ia tidak tahu apa.

Tidak tahu di mana.

Namun instingnya terus mengatakan hal yang sama.

**Fiona dalam bahaya.**

Darrien mengepalkan tangan.

“Aku akan menemukanmu.”

Ia menatap bulan.

Dan tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat lain—

ia kembali menunggu.

Menunggu jawaban tentang Shadowcresent.

Menunggu jalan menuju Fiona.

Sementara jauh dari sana—

sebuah ritual kuno sedang mencoba menghapus seseorang dari ingatan seorang Saintess.

Dan tidak seorang pun tahu—

apakah ingatan manusia biasa dapat dilawan oleh sesuatu yang telah bertahan selama dua ribu lima ratus tahun.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience