415. Pagi Yang Berbeda

Romance Completed 594

BAB 415 — PAGI YANG BERBEDA

Pagi berikutnya—

Veyth tidak terasa seperti biasanya.

Tidak ada kabar dari Shadowcresent.

Tidak ada petunjuk baru.

Dan yang paling buruk—

tidak ada jawaban dari Lunaris.

***

Ruang pertemuan Veyth kembali dipenuhi beberapa orang.

Edward berdiri di depan meja.

Gloria berada di sampingnya.

Elyon, Elarion, Rowan, dan Ace baru saja kembali dari Lunaris.

Namun wajah mereka tidak menunjukkan keberhasilan.

Edward langsung memahami jawabannya.

“Kalian tidak menemukan apa pun?”

Elyon menggeleng.

“Tidak ada jawaban yang bisa membantu.”

Elarion meletakkan beberapa salinan dokumen di atas meja.

“Kami menemukan simbol yang sama.”

“Namun tidak ada catatan yang menjelaskan siapa yang pertama menggunakannya.”

Rowan menambahkan,

“Tidak ada informasi mengenai Shadowcresent yang cukup lengkap.”

Ace menjatuhkan dirinya ke kursi.

“Lima ribu tahun sejarah…”

Ia menghela napas dramatis.

“…dan hasil perjalanan kami adalah beberapa simbol, buku tua, dan sakit punggung.”

Gloria hampir tersenyum.

Namun suasana terlalu serius.

Edward menatap dokumen tersebut.

“Jadi kita kembali ke titik awal.”

“Kurang lebih.”

Elyon menghela napas.

“Dan itu bukan kabar yang bagus.”

Tidak ada yang membantah.

Karena mereka semua tahu—

selama mereka tidak mengetahui lokasi Shadowcresent,

mereka tidak dapat membawa Fiona pulang.

***

Di sisi lain istana—

Darrien sedang duduk di meja sarapan.

Makanan di hadapannya hampir tidak disentuh.

Kevin duduk tidak jauh darinya.

Ia memperhatikan Darrien beberapa saat.

“Kau tidak makan?”

Darrien menggeleng.

“Aku tidak lapar.”

Kevin menyilangkan tangan.

“Kau sudah mengatakan itu kemarin.”

Darrien diam.

Edward yang baru masuk bersama Gloria langsung memperhatikan putranya.

“Darrien.”

Darrien menoleh.

Edward duduk di hadapannya.

“Kau baik-baik saja?”

Darrien tidak langsung menjawab.

Ia menatap cangkir di depannya.

“Aku tidak tahu.”

Gloria mendekat.

“Apa yang kau rasakan?”

Darrien menghela napas.

“Semalam…”

Ia berhenti.

“Aku merasa ada sesuatu yang salah.”

Edward mengerutkan kening.

“Fiona?”

Darrien mengangguk.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”

Tangannya mengepal perlahan.

“Seperti…”

Ia mencari kata yang tepat.

“…sesuatu terjadi padanya.”

Gloria menatapnya dengan lembut.

“Kau yakin itu bukan hanya karena kau mengkhawatirkannya?”

Darrien terdiam.

“Mungkin.”

Namun wajahnya menunjukkan bahwa ia sendiri tidak mempercayai jawaban itu.

***

Kevin tiba-tiba mengambil roti dari piring Darrien.

Darrien menatapnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Membantumu sarapan.”

“Itu punyaku.”

“Kalau begitu makan.”

Kevin mengembalikan roti tersebut.

Darrien menghela napas.

“Aku tidak bisa.”

Kevin berdiri.

“Baik.”

Darrien menatapnya.

Kemudian—

Kevin menunjuk halaman latihan.

“Kalau kau tidak mau makan…”

Ia tersenyum.

“…kita latihan.”

Darrien mengerutkan kening.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

“Aku sedang tidak fokus.”

“Aku tahu.”

Kevin mengangkat alis.

“Karena itu kita latihan lebih keras.”

Darrien menatapnya.

“Kau menyiksa aku.”

“Benar.”

Kevin berjalan pergi.

“Lima menit.”

Darrien menghela napas.

Edward hanya menggeleng.

Gloria menahan senyum.

Setidaknya—

Kevin berhasil membuat Darrien bergerak.

***

Beberapa menit kemudian—

suara benturan kembali terdengar di halaman latihan.

CLANG!

Darrien menyerang.

Kevin menangkis.

Darrien bergerak terlalu cepat.

Kevin memutar tubuh.

“Fokus!”

Darrien menyerang lagi.

CLANG!

“Kau memikirkan Fiona!”

BOOM!

Darrien terdorong.

Kevin langsung menyerang balik.

“Kalau kau terus memikirkan sesuatu yang tidak bisa kau lihat…”

CLANG!

“…kau tidak akan bisa melihat apa yang ada di depanmu.”

Darrien menahan serangannya.

“Aku tahu.”

“Tidak.”

Kevin menatapnya.

“Kau belum tahu.”

Darrien menggertakkan gigi.

Kemudian—

ia kembali menyerang.

***

Sementara itu—

Shadowcresent.

Pagi telah tiba.

Namun di dalam kamar Raizen —

suasana sangat berbeda.

Fiona masih tertidur.

Sudah sejak malam sebelumnya.

Tubuhnya terbaring tenang di atas tempat tidur.

Raizen berada di sampingnya.

Ia tidak meninggalkan kamar sepanjang malam.

Satu tangannya menopang tubuh Fiona.

Tatapannya terus mengamati wajah perempuan itu.

Ritual telah berhasil.

Setidaknya—

begitulah yang ia percaya.

Tidak ada lagi jejak kuat dari ingatan Darrien yang sebelumnya memenuhi kesadarannya.

Tidak ada perlawanan.

Tidak ada panggilan nama itu.

Raizen menatap Fiona.

Kemudian—

ia mengangkat satu tangan.

Magicure perlahan menyelimuti tubuh Fiona.

Pakaian Fiona berubah.

Dalam beberapa detik—

gaun sederhana yang sebelumnya ia kenakan berubah menjadi sebuah gaun kerajaan vampire.

Warna gelap.

Detail merah tua.

Pola bulan sabit menghiasi bagian pinggang dan ujung kain.

Rambutnya terurai lembut di atas bantal.

Raizen menatapnya.

Diam.

Kemudian—

ia mengangkat alis sedikit.

“Cocok.”

Ia tidak tahu mengapa—

melihat Fiona mengenakan pakaian itu membuatnya merasa puas.

Gaun tersebut memang cocok untuknya.

Terlalu cocok.

Seolah-olah pakaian itu memang dibuat untuknya.

Raizen menyentuh ujung kain tersebut.

“Queen…”

Satu kata itu keluar pelan.

Kemudian ia kembali menatap Fiona.

Untuk pertama kalinya—

ia membiarkan dirinya menikmati bayangan tersebut.

Fiona di sisinya.

Di dalam Shadowcresent.

Sebagai ratunya.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada nama Darrien.

Tidak ada air mata.

Hanya dirinya.

Raizen menyandarkan tubuhnya.

Ia tetap berada di sana.

Menunggu.

***

Waktu berlalu.

Cahaya pagi mulai masuk melalui jendela.

Fiona bergerak sedikit.

Raizen langsung membuka matanya.

Ia memperhatikan wajah Fiona.

Jari-jari Fiona bergerak.

Kemudian—

perlahan—

matanya terbuka.

Raizen terdiam.

Fiona mengedip beberapa kali.

Tatapannya masih kabur.

Namun beberapa detik kemudian—

matanya menjadi jelas.

Crimson.

Merah tua.

Sama seperti mata Raizen.

Raizen membeku.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Fiona menoleh.

Tatapannya langsung menemukan Raizen yang berada di sampingnya.

Dan—

wajah Fiona berubah.

Senyum kecil muncul.

Bukan senyum yang dipaksakan.

Bukan senyum karena takut.

Melainkan—

senyum seseorang yang melihat orang yang ia cintai.

Fiona perlahan mendekat.

Kepalanya bersandar pada dada Raizen.

Raizen membeku.

Benar-benar membeku.

Untuk beberapa detik—

ia bahkan tidak bernapas.

Fiona mengusap matanya.

Kemudian berkata pelan,

“Pagi…”

Raizen tidak menjawab.

Fiona mengangkat wajah sedikit.

“Kenapa?”

Raizen masih diam.

Ia hanya menatapnya.

Tidak ada Darrien.

Tidak ada tatapan rindu.

Tidak ada air mata.

Tidak ada penolakan.

Yang ada di mata Fiona—

adalah dirinya.

Raizen akhirnya memahami.

Ritualnya berhasil.

Ia benar-benar berhasil.

Sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya.

Senyum kecil.

Namun kali ini—

jelas.

Raizen melingkarkan tangannya lebih erat di sekitar Fiona.

Kemudian berkata dengan suara rendah,

“Pagi juga.”

Fiona kembali menyandarkan kepalanya.

Ia terlihat nyaman.

Raizen menatap ke depan.

Namun senyumnya tidak menghilang.

Untuk pertama kalinya—

ia merasa sesuatu yang telah lama kosong di dalam dirinya mulai terisi.

Ia tidak tahu apakah itu benar.

Ia tidak peduli.

Untuk pagi itu—

Fiona berada di sisinya.

Dan Fiona tidak lagi memanggil nama pria lain.

***

Namun jauh di dalam dunia yang tidak dapat dilihat siapa pun—

sebuah kristal masih berdiri.

Di aula utama istana kristal Fiona.

Dua tiny elf berdiri di sisinya.

Mereka mengawasi kristal yang menyimpan sosok Darrien.

Segel masih utuh.

Namun—

sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

sebuah garis retak muncul di permukaan kristal.

Tiny elf pertama menatapnya.

“…”

Tiny elf kedua mendekat.

Mereka saling memandang.

Tidak ada yang berbicara.

Namun mereka tahu—

waktu telah mulai bergerak.

***

VEYTH.

Darrien berhenti di tengah latihan.

Napasnya tiba-tiba tertahan.

Tangannya memegang dada.

“Apa…?”

Kevin langsung menghentikan gerakannya.

“Darrien?”

Darrien menatap kosong ke arah langit.

Perasaan aneh itu kembali.

Lebih kuat daripada malam sebelumnya.

Namun kali ini—

ia tidak tahu mengapa.

Kevin memperhatikannya.

“Apa yang kau rasakan?”

Darrien tidak menjawab.

Ia hanya menatap bulan yang mulai memudar di langit pagi.

Kemudian—

berbisik sangat pelan,

“Fiona…”

Namun jauh di Shadowcresent—

Fiona sedang tersenyum dalam pelukan orang lain.

Dan di dalam istana kristalnya—

sebuah ingatan lama mulai retak.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Namun—

tidak pernah berhenti.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience