218. Lebih Kuat, Bersama

Romance Series 382

BAB 218
LEBIH KUAT, BERSAMA

Area latihan akhirnya menjadi tenang.

Tidak ada lagi benturan sihir.

Tidak ada lagi suara ledakan.

Hanya sisa-sisa energi yang perlahan menghilang dari udara.

Kevin berjalan meninggalkan arena.

Rowan dan Ace segera mengikutinya.

Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa.

“Jadi…”

Rowan berjalan di samping Kevin.

“Bagaimana rasanya?”

Kevin meliriknya.

“Rasanya apa?”

Ace ikut tertawa.

“Balas dendammu.”

Kevin terdiam sebentar.

Kemudian tersenyum puas.

“Cukup memuaskan.”

Rowan tertawa.

“Cukup?”

Kevin mengangguk.

“Liburanku dibatalkan.”

Ia menatap kembali ke arah arena.

“Setidaknya sekarang aku tidak merasa terlalu rugi.”

Ace menggeleng.

“Kasihan Darrien.”

Kevin hanya tersenyum.

“Dia masih hidup.”

“Dan besok masih bisa berlatih.”

Rowan dan Ace langsung tertawa.

“Benar-benar monster.”

Kevin tidak membantah.

***

Di sisi lain arena—

Darrien masih terbaring di tanah.

Dadanya naik turun.

Napasnya perlahan mulai kembali normal, tetapi tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga.

Fiona berlutut di sampingnya.

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya lembut mengalir dari telapak tangannya.

Perlahan—

rasa sakit dan ketegangan pada tubuh Darrien mulai berkurang.

“Jangan bergerak dulu.”

Fiona berkata lembut.

Darrien tidak menjawab.

Ia masih membutuhkan waktu untuk mengatur napas.

Elarion berdiri tidak jauh dari mereka.

Ia memperhatikan Darrien dengan tenang.

“Setidaknya…”

Ia berkata,

“…dia berhasil mengendalikan dirinya.”

Fiona menoleh.

“Maksudmu?”

“Ketika ingatannya tentang lembah itu muncul.”

Elarion melihat arena yang sudah kosong.

“Dia hampir kehilangan fokus beberapa kali.”

“Tapi akhirnya dia mampu mengendalikan emosinya.”

Fiona tersenyum kecil.

“Jadi latihan Kevin berhasil?”

“Untuk hari ini.”

Elarion mengangguk.

“Dia tidak lagi membiarkan rasa takut menguasai seluruh pikirannya.”

Darrien yang masih terbaring diam—

mendengar semua perkataan itu.

Pikirannya kembali pada lembah.

Pada hari ketika tubuhnya hampir tidak mampu bergerak.

Pada Fiona yang menangis di dalam pelukannya.

Kemudian—

ia teringat latihan Kevin.

Magical dummy.

Bayangan musuh.

Sang Boss.

Dan semua tekanan yang sengaja diberikan kepadanya.

Darrien perlahan membuka matanya.

Ia melihat tangannya sendiri.

Tangan yang dulu tidak mampu melindungi Fiona.

Tangan yang saat itu bahkan tidak mampu bergerak.

Kemudian ia menoleh.

Fiona masih berada di sampingnya.

Cahaya penyembuhan masih mengalir dari tangannya.

Darrien perlahan mengangkat tangannya.

Fiona sedikit terkejut ketika tangannya menyentuh pipinya.

Darrien mengusap pipinya dengan lembut.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”

Fiona terdiam.

Darrien menatap matanya.

“Itulah kenapa aku harus menjadi lebih kuat.”

Jarinya masih menyentuh pipi Fiona.

“Supaya tidak ada seorang pun yang bisa mengambilmu dariku.”

Wajah Fiona langsung memerah.

Cahaya di tangannya perlahan menghilang.

“…”

Darrien tersenyum kecil.

Fiona akhirnya menunduk.

“Aku juga tidak ingin kehilanganmu.”

Ia mengangkat wajahnya kembali.

“Kalau begitu…”

Senyumnya muncul.

“…kita menjadi lebih kuat bersama.”

Darrien menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

“Bersama.”

Elarion yang berdiri tidak jauh dari mereka—

berdeham kecil.

“Ehem.”

Keduanya langsung menoleh.

Elarion menunjuk ke arah istana.

“Sepertinya pembicaraan kalian bisa dilanjutkan setelah dia benar-benar bisa berdiri.”

Fiona langsung semakin merah.

Darrien menghela napas.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

suara lain terdengar dari kejauhan.

“Besok kita lanjutkan latihan.”

Darrien langsung membeku.

Ia mengenali suara itu.

Kevin.

Darrien menatap ke arah jalan keluar arena.

“Besok?”

Kevin menoleh sebentar.

“Ya.”

Darrien memejamkan mata.

“…”

Fiona langsung tertawa.

Elarion juga tersenyum.

Darrien masih terbaring di tanah.

Ia bahkan belum sepenuhnya mendapatkan kembali napasnya.

Dan Kevin sudah memastikan bahwa penderitaan berikutnya menunggunya esok hari.

***

Dari salah satu jendela tinggi istana—

Zeith dan Seraphine masih memperhatikan mereka.

Seraphine tersenyum ketika melihat Fiona membantu Darrien.

“Dia benar-benar tidak sendirian lagi.”

Zeith mengangguk.

Tatapannya kemudian berpindah kepada Kevin yang berjalan menjauh bersama Rowan dan Ace.

“Dan Kevin…”

Seraphine tersenyum kecil.

“Masih seperti dulu.”

Zeith tertawa pelan.

“Dia mungkin keras.”

“Tapi dia tahu apa yang sedang dilakukannya.”

Keduanya kembali melihat Darrien.

Sang pangeran masih terbaring kelelahan.

Namun kali ini—

ia tersenyum.

Zeith menarik napas perlahan.

“Dia akhirnya menemukan tempatnya.”

Seraphine menggenggam tangan suaminya.

“Dan orang-orang yang akan berdiri bersamanya.”

Di bawah sana—

Fiona membantu Darrien untuk bangun perlahan.

Darrien menghela napas panjang.

“Besok…”

Ia bergumam.

“Aku harus menghadapi monster itu lagi.”

Fiona tertawa.

“Kau bisa.”

Darrien menatapnya.

“Kalau kau bersamaku.”

Fiona tersenyum.

“Selalu.”

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience