451. Setelah Pertemuan

Romance Completed 594

BAB 451 — SETELAH PERTEMUAN

Kamar Raizen kembali sunyi.

Tidak ada suara pertempuran.

Tidak ada suara Veyth.

Hanya keheningan setelah kekacauan yang baru saja terjadi.

Fiona membantu Raizen duduk di tepi tempat tidur.

"Jangan bergerak."

Raizen menurut.

Fiona mengambil kain bersih dan wadah kecil berisi air.

Ia kemudian kembali duduk di hadapan Raizen.

Tangannya mulai membersihkan darah di sisi wajahnya.

Perlahan.

Sangat hati-hati.

Raizen hanya diam.

Ia memperhatikan Fiona.

Tidak mengatakan apa pun.

Fiona masih terlihat kesal.

Bahkan ketika tangannya bergerak lembut, ekspresinya tetap menunjukkan kemarahan.

"Kenapa kau membiarkan mereka melukaimu?"

Raizen tidak menjawab.

Fiona membersihkan luka di dekat alisnya.

"Raizen."

"Hm?"

"Kau bisa saja meminta Mufasa membantumu."

"Aku bisa mengatasinya."

"Itu bukan jawabannya."

Fiona menatapnya.

Matanya masih sedikit basah.

"Kau terluka."

Raizen terdiam.

Fiona kembali membersihkan darah.

"Dan kau bahkan tidak membiarkan siapa pun membantumu."

"Aku tidak apa-apa."

"Kau selalu bilang begitu."

Suara Fiona melemah.

Ia menunduk.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian setetes air mata jatuh.

Raizen melihatnya.

Tangannya yang sejak tadi diam perlahan terangkat.

Ujung jarinya menyentuh pipi Fiona.

Ia menghapus air mata itu.

Fiona terdiam.

Raizen tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menatapnya.

Fiona menggigit bibir.

"Aku tidak suka melihatmu terluka."

Raizen masih diam.

Fiona kembali mengusap luka di wajahnya.

"Kau membuatku takut."

Kalimat itu sangat sederhana.

Namun Raizen merasakannya jauh lebih dalam daripada yang ia duga.

Ia telah merencanakan semuanya.

Ia sengaja membiarkan Darrien menyerangnya.

Sengaja membiarkan darah terlihat.

Sengaja membuat Fiona melihatnya dalam keadaan terluka.

Ia ingin jawaban.

Dan sekarang...

ia mendapatkannya.

Fiona menangis karena dirinya.

Fiona melindunginya.

Fiona mengusir Darrien.

Dan yang paling penting...

ketika Fiona melihat Darrien...

ia tidak berlari kepadanya.

Ia tidak memeluknya.

Ia bahkan tidak mengenalinya sebagai seseorang yang harus ia datangi.

Ritual itu berhasil...

Raizen mengusap sisa air mata di pipi Fiona.

Fiona memandangnya.

"Kenapa?"

Raizen menggeleng.

"Tidak apa-apa."

Fiona mengerutkan kening.

"Kau aneh."

Raizen tersenyum kecil.

"Mungkin."

Fiona kembali mengurus lukanya.

Kali ini lebih pelan.

Ia memastikan tidak ada darah yang tersisa.

Setelah selesai, ia menatap Raizen lagi.

"Sudah."

Raizen mengangguk.

"Terima kasih."

Fiona kemudian memeluknya.

Raizen terdiam sesaat.

Lalu lengannya perlahan melingkari tubuh Fiona.

Ia membiarkannya bersandar di dadanya.

Tidak ada kata-kata.

Hanya keheningan.

Namun di dalam pikirannya...

Raizen sudah mendapatkan jawaban yang ia cari.

Ia tidak perlu bertanya lagi.

Ritualnya berhasil.

---

Jauh dari Shadowcresent...

Veyth terlempar ke sebuah dataran berbatu.

Tubuh mereka jatuh satu per satu.

Tidak ada yang langsung bangkit.

Angin malam bergerak melewati mereka.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Ace membuka mata.

Ia menatap langit.

"...Kita hidup?"

Tidak ada jawaban.

Ace menoleh.

Kevin sedang duduk sambil memegangi bahunya.

Elyon berdiri perlahan.

Elarion memeriksa Rowan.

Semua orang baik-baik saja.

Namun...

tidak ada yang merasa ingin bercanda.

Tidak setelah apa yang baru saja mereka lihat.

Darrien terbaring beberapa meter dari mereka.

Satu lengannya menutupi kedua matanya.

Ia tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Tidak bertanya.

Tidak menangis.

Setidaknya tidak di depan mereka.

Ia hanya berbaring di sana.

Diam.

Setelah berhari-hari.

Setelah berminggu-minggu.

Setelah berbulan-bulan mencari Fiona...

akhirnya mereka bertemu.

Namun pertemuan itu...

lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Ia melihat Fiona.

Fiona melihatnya.

Namun Fiona tidak datang kepadanya.

Ia bahkan tidak memanggil namanya.

Ia berlari kepada Raizen.

Dan ketika melihat luka Raizen...

Fiona menangis.

Kemudian mengusir mereka.

Darrien menutup matanya lebih rapat.

Tangannya gemetar sedikit.

Ia mencoba mengingat wajah Fiona sebelum semuanya berubah.

Senyumnya.

Tatapannya.

Cara ia pernah memanggil namanya.

Semua terasa begitu dekat.

Namun Fiona yang baru saja mereka lihat...

terasa begitu jauh.

Darrien akhirnya berbisik.

"Dia..."

Suaranya serak.

"...benar-benar sudah melupakanku?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena tidak seorang pun tahu.

Namun apa yang mereka lihat...

cukup untuk membuat pertanyaan itu terasa nyata.

Elyon duduk di dekat mereka.

Ia memandang Darrien beberapa saat.

Kemudian berkata perlahan,

"Kita perlu membicarakan apa yang baru saja terjadi."

Darrien tidak bergerak.

Kevin mengangguk.

"Ya."

Rowan menatap mereka.

"Pertama..."

Ia berhenti.

"...mata Fiona."

Semua terdiam.

Mereka semua mengingatnya.

Crimson.

Mata yang sama sekali berbeda dari Fiona yang mereka kenal.

Elarion berkata,

"Auranya juga berubah."

Elyon mengangguk.

"Dia bukan hanya terlihat berbeda."

"Benar."

Kevin menyandarkan punggungnya pada batu.

"Dia terasa berbeda."

Ace akhirnya duduk.

Ia tidak lagi bercanda.

"Dan dia tidak mengenali Darrien."

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Darrien tetap menutupi matanya.

Tidak ada yang membantah.

Rowan perlahan berkata,

"Dia mungkin benar-benar kehilangan ingatan tentang kita."

Elarion menggeleng.

"Atau ingatannya telah diubah."

Elyon menatapnya.

"Yang dilakukan Raizen."

Tidak ada seorang pun yang perlu menjelaskan lebih jauh.

Mereka semua tahu.

Raizen memiliki kekuatan yang tidak mereka pahami.

Dan Fiona telah berada bersamanya selama berbulan-bulan.

Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi selama waktu itu.

Namun satu hal terlihat jelas.

Fiona sekarang memandang Raizen sebagai seseorang yang sangat penting baginya.

Ace menundukkan kepala.

"Dia melindunginya."

Kevin mengangguk.

"Tanpa ragu."

"Dan mengusir kita."

"Ya."

Ace terdiam.

Kemudian melihat Darrien.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada temannya.

Tidak ada lelucon yang cocok.

Tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki keadaan.

Darrien akhirnya menurunkan lengannya sedikit.

Matanya masih tertutup.

"Dia menangis."

Semua terdiam.

Darrien menarik napas.

"Ketika melihat Raizen terluka..."

Suaranya semakin pelan.

"...dia menangis."

Ia menutup matanya kembali.

"Aku belum pernah melihatnya seperti itu."

Tidak ada yang menjawab.

Darrien menggenggam tanah di bawah tangannya.

"Aku datang untuk membawanya pulang."

Suara itu hampir pecah.

"Tapi dia bahkan tidak mau melihatku."

Elyon menatapnya.

"Darrien..."

"Aku tahu."

Darrien menghentikannya.

"Aku tahu dia mungkin sudah berubah."

Ia menarik napas panjang.

"Tapi..."

Ia tidak melanjutkan.

Tidak perlu.

Semua orang mengerti.

Ia telah datang begitu jauh.

Dengan satu harapan sederhana.

Menemukan Fiona.

Dan sekarang...

ia telah menemukannya.

Namun Fiona yang ia temukan...

bukan Fiona yang menunggunya.

Ace menatap langit.

"Ini..."

Ia berhenti.

"...lebih buruk daripada kalau kita tidak menemukan mereka."

Tidak ada yang membantah.

Karena mereka semua memikirkan hal yang sama.

Mereka sudah menemukan Fiona.

Namun sekarang mereka tidak tahu...

apakah mereka masih bisa mendapatkannya kembali.

Dan jauh di dalam hati Darrien...

pertanyaan yang paling menyakitkan bukan lagi:

*Di mana Fiona?*

Melainkan...

*Apakah Fiona masih menginginkanku?*

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience