Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 385 — HARI YANG DINANTIKAN
Pagi datang di Veyth.
Matahari baru saja muncul di balik pegunungan ketika Darrien tiba di area latihan.
Ia berhenti beberapa langkah dari tempat biasanya.
Tidak ada siapa-siapa.
Belum.
Darrien melihat sekeliling.
“…”
Aneh.
Biasanya Kevin sudah menunggunya.
Namun hari ini—
area latihan justru terasa terlalu tenang.
Darrien menghela napas.
“Jangan bilang dia sedang menyiapkan sesuatu.”
Sebuah suara terdengar dari belakang.
“Benar.”
Darrien langsung menoleh.
Kevin berdiri beberapa meter di belakangnya.
Dengan senyum tipis.
Darrien menatapnya.
“…Aku tidak menyukai senyum itu.”
Kevin berjalan mendekat.
“Bagus.”
Darrien menghela napas.
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?”
Kevin tidak langsung menjawab.
Ia melihat area latihan.
Kemudian kembali menatap Darrien.
“Hari ini berbeda.”
Darrien menyipitkan mata.
“Seberapa berbeda?”
“Cukup.”
Darrien:
“…”
Kevin kemudian mengangkat tangannya.
Barrier besar mulai terbentuk di seluruh area latihan.
Namun kali ini—
barrier tersebut jauh lebih luas.
Bukan hanya tempat bertarung.
Seluruh bagian hutan kecil di sekitar area latihan ikut tertutup.
Darrien menatap sekeliling.
“Ini bukan arena.”
Kevin tersenyum.
“Benar.”
“Lalu?”
Kevin menunjuk hutan.
“Mulai hari ini…”
Ia berhenti sejenak.
“…kau tidak akan bertarung denganku seperti biasanya.”
Darrien mengangkat alis.
Kevin melanjutkan.
“Kau akan mencariku.”
Darrien terdiam.
“Apa?”
Kevin menghilang.
Tidak ada suara.
Tidak ada jejak.
Tidak ada aura.
Darrien langsung mengaktifkan magic sense.
Kosong.
Kevin sudah menyembunyikan keberadaannya.
Sebuah senyum kecil muncul di wajah Darrien.
“…Begitu.”
Ia mulai memahami.
Ini bukan latihan kekuatan.
Ini latihan berburu.
***
Di luar barrier—
Ace dan Rowan baru saja tiba.
Mereka berhenti ketika melihat area latihan.
Ace mengerutkan kening.
“Kenapa barrier-nya sebesar itu?”
Rowan melihat ke dalam.
“Tidak tahu.”
Elarion datang beberapa saat kemudian.
Elyon juga menyusul.
Fiona berdiri bersama mereka.
Ia memandang hutan yang tertutup barrier.
Kemudian—
tersenyum kecil.
“Kevin serius.”
Ace menoleh.
“Seberapa serius?”
Fiona menjawab santai.
“Cukup serius.”
Rowan menghela napas.
“Kasihan Darrien.”
Elarion tertawa.
“Bukankah kemarin kalian semua mengatakan dia berkembang?”
Ace mengangguk.
“Ya.”
“Kalau begitu sekarang kita lihat hasilnya.”
***
Di dalam barrier—
Darrien berdiri diam.
Ia menutup matanya.
Tidak bergerak.
Tidak menggunakan banyak magicure.
Ia hanya merasakan.
Angin.
Pohon.
Tanah.
Daun.
Aliran magicure.
Kemudian—
sesuatu.
Sangat tipis.
Darrien membuka mata.
“Di sana.”
Ia bergerak.
**WHOOSH!**
Namun—
kosong.
Kevin sudah berpindah.
Darrien tersenyum.
“Jadi seperti ini.”
Ia mulai bergerak melalui pepohonan.
Tidak menggunakan kekuatan berlebihan.
Tidak mengejar secara langsung.
Ia mencoba membaca perubahan magicure di sekelilingnya.
Sedikit demi sedikit—
ia menemukan pola.
Kevin tidak benar-benar menghilang.
Ia hanya menyembunyikan keberadaannya.
Namun ketika bergerak—
lingkungan akan bereaksi.
Daun bergerak.
Udara berubah.
Magicure bergetar.
Darrien mengikuti semuanya.
***
Tiba-tiba—
**BOOM!**
Serangan datang dari samping.
Darrien menghindar.
Kevin muncul.
“Bagus.”
Darrien langsung menyerang balik.
Namun Kevin menghilang lagi.
Darrien mengejarnya.
Lebih cepat.
Lebih tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak panik.
Setiap kali Kevin menyerang—
Darrien merasakan perubahan sebelum serangan tiba.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Menghindar.
Berputar.
Membalas.
Kevin tersenyum.
“Lebih baik.”
Darrien tidak menjawab.
Ia terus mengejar.
***
Di luar—
Ace mulai bersorak.
“Dia bisa mengikuti Kevin!”
Rowan mengangguk.
“Tidak seperti biasanya.”
Elyon memperhatikan dengan serius.
“Gerakannya lebih efisien.”
Elarion tersenyum.
“Insting Grandmaster benar-benar mulai memengaruhinya.”
Fiona tidak berkata apa-apa.
Matanya mengikuti Darrien.
Ia tahu sesuatu yang lain.
Darrien tidak lagi berpikir:
*Bagaimana aku melakukan ini?*
Tubuhnya hanya—
melakukannya.
***
Kevin tiba-tiba muncul tepat di depan Darrien.
“Serang.”
Darrien menyerang.
Kevin menghindar.
“Lagi.”
Darrien menyerang lagi.
“Lebih cepat.”
Darrien meningkatkan kecepatan.
“Lebih tenang.”
Darrien menarik napas.
Dark magic mengalir.
Tidak meledak.
Tidak berlebihan.
Padat.
Terkontrol.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Kemudian—
ia meningkatkan kecepatannya.
Darrien langsung mengikuti.
Keduanya menghilang ke dalam hutan.
***
Di luar barrier—
Ace menatap kosong.
“…Mereka hilang lagi.”
Rowan mengangguk.
“Ya.”
Ace melihat Kevin yang baru saja menghilang.
“Jadi sekarang siapa yang mengejar siapa?”
Elarion tertawa.
“Pertanyaan bagus.”
Elyon memejamkan mata.
“Mungkin keduanya.”
Fiona tersenyum.
“Biarkan.”
Ia memandang ke dalam hutan.
“Darrien perlu belajar.”
Ace mengangguk.
“Dan Kevin terlihat bahagia.”
Rowan menghela napas.
“Itulah bagian yang membuatku takut.”
***
Di dalam hutan—
Darrien terus bergerak.
Tubuhnya mulai terasa lelah.
Namun pikirannya tetap tenang.
Ia tidak mengejar Kevin dengan mata.
Ia mengejar—
**kehadirannya.**
Dan semakin lama—
magic sense-nya semakin tajam.
Sampai akhirnya—
Darrien berhenti.
Ia tersenyum.
“Ketemu.”
Kevin muncul di antara pepohonan.
Untuk pertama kalinya hari itu—
ia tidak langsung menyerang.
Ia hanya menatap Darrien.
Kemudian tersenyum puas.
“Sekarang…”
Dark magic mulai muncul di tangan Kevin.
“…kita mulai bagian sebenarnya.”
Darrien mengangkat wajah.
“Bagian sebenarnya?”
Kevin mengangguk.
“Ya.”
Senyumnya semakin lebar.
“Tadi hanya pemanasan.”
Darrien:
“….”
Dari luar barrier—
Ace tiba-tiba bersin.
Rowan menatapnya.
“Apa?”
Ace menggeleng.
“Entah kenapa aku merasa Darrien sedang dalam masalah.”
Fiona hanya tertawa kecil.
Karena—
ia juga merasakan hal yang sama.
