71. Penjaga Dan Penyusup

Romance Series 94

BAB 71
PENJAGA DAN PENYUSUP

Langkah Darrien berhenti di ujung lorong.

Di hadapannya…

Marcus berdiri.

Tidak ada penjaga di sisinya.

Tidak ada senjata di tangannya.

Hanya tatapan tenang seorang pria yang telah bertahun-tahun menjaga rahasia keluarga.

Darrien menatapnya.

Marcus juga menatap Darrien.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian Marcus berkata,

“Kau.”

Darrien tidak menjawab.

Marcus merasakan sihir di sekitar tubuh anak itu.

Tipis.

Terkendali.

Namun sangat berbeda dari sihir manusia biasa.

“Siapa kau?”

Darrien tetap diam.

Kevin dan Ace berhenti beberapa langkah di belakangnya.

Elarion juga tidak bergerak.

Marcus melirik mereka satu per satu.

Kemudian kembali menatap Darrien.

“Jika kau datang untuk gadis itu…”

Darrien langsung menjawab,

“Ya.”

Marcus tidak terlihat terkejut.

“Dia penting bagimu?”

Darrien mengepalkan tangan.

“Lebih dari yang kau pikirkan.”

Marcus terdiam.

Ia sudah menduga.

Namun mendengar jawabannya secara langsung membuatnya semakin yakin bahwa gadis itu bukan sekadar teman biasa.

“Kau tahu apa yang dilakukan keluarga Ardika?”

“Aku tahu cukup banyak.”

“Dan kau tetap datang?”

“Ya.”

Marcus menghela napas.

“Kalau begitu kau pasti tahu bahwa dia akan menikah beberapa hari lagi.”

Darrien menatapnya tajam.

“Aku tahu.”

“Dan kau berniat menghentikannya?”

“Kalau Fiona tidak menginginkannya.”

Marcus memperhatikan ekspresinya.

Tidak ada kebencian membabi buta.

Tidak ada keinginan membunuh.

Hanya keteguhan.

Marcus hampir tersenyum.

“Jawaban yang bagus.”

Darrien sedikit mengernyit.

Namun sebelum ia bertanya—

suara langkah terdengar dari ujung lorong.

Marcus langsung menoleh.

“Penjaga.”

Kevin memberi isyarat.

“Pergi.”

Darrien tidak bergerak.

“Aku belum menemukan Fiona.”

Marcus menatapnya.

“Dia sudah keluar dari kamarnya.”

Darrien membeku.

“Di mana?”

Marcus menunjuk ke arah lorong timur.

“Menuju kandang.”

Darrien langsung bergerak.

Namun Marcus memanggilnya.

“Anak muda.”

Darrien berhenti.

“Jangan gunakan kekuatanmu di sini.”

Darrien menoleh.

“Kenapa?”

“Karena seluruh kediaman akan tahu ada penyusup.”

Darrien menatapnya.

Marcus melanjutkan,

“Dan jika mereka menemukanmu…”

Ia berhenti.

“…Fiona akan semakin sulit keluar.”

Darrien terdiam.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Ia berbalik.

Kevin dan Elarion segera mengikutinya.

Ace berhenti sebentar di depan Marcus.

Keduanya saling memandang.

Marcus menyipitkan mata.

Ada sesuatu tentang pria itu yang terasa familiar.

Namun ia tidak bisa mengingat dari mana.

Ace hanya berkata,

“Jaga dia.”

Marcus mengerutkan kening.

“Siapa?”

Ace sudah pergi.

***

Fiona berlari menuju kandang.

Napasnya mulai tidak teratur.

Ia memegang kunci erat-erat.

Namun ketika sampai di sana—

pintu belakang sudah terbuka.

Fiona berhenti.

Ia menatap jalan di luar.

Bebas.

Hanya tinggal beberapa langkah.

Namun kemudian…

sebuah aura familiar muncul di belakangnya.

Fiona berbalik.

Darrien berdiri di ujung lorong.

Mereka saling menatap.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada suara.

Setelah berminggu-minggu…

akhirnya mereka benar-benar berada di tempat yang sama.

Fiona menutup mulutnya.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Darrien…”

Darrien tersenyum.

“Fiona.”

Ia berjalan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Fiona juga bergerak.

Namun—

**BRAK!**

Suara keras terdengar dari arah aula.

Keduanya berhenti.

Para penjaga mulai berteriak.

“Penyusup!”

Fiona menatap Darrien.

“Darrien…”

“Jangan takut.”

Darrien mengulurkan tangannya.

“Kita pergi.”

Fiona menatap tangannya.

Kemudian menggenggamnya.

Untuk pertama kalinya sejak ia dibawa pergi—

tangan mereka kembali bertemu.

Darrien menggenggamnya erat.

Namun sebelum mereka sempat keluar dari pintu belakang—

bayangan besar muncul di hadapan mereka.

Seseorang berdiri di jalan.

Marcus.

Namun kali ini…

ia tidak datang untuk menghentikan Fiona.

Ia menatap Darrien.

Kemudian melihat tangan mereka yang saling menggenggam.

Marcus menghela napas.

“Jadi kau memang datang untuknya.”

Darrien berdiri di depan Fiona.

“Ya.”

Marcus menatap mereka beberapa saat.

Kemudian mendengar suara penjaga yang semakin dekat.

Ia mengambil keputusan.

“Kalau begitu…”

Marcus membuka pintu gerbang lebih lebar.

“…lari.”

Fiona membeku.

Darrien juga.

Marcus menatap mereka tajam.

“Sekarang.”

Darrien tidak bertanya.

Ia menarik Fiona.

Mereka berlari keluar.

Namun di belakang mereka—

Marcus tetap berdiri di sana.

Menunggu para penjaga datang.

Dan untuk pertama kalinya…

ia sengaja membiarkan seseorang melarikan diri dari kediaman Ardika.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience