215. Jangan Biarkan Ingatan Menguasai

Romance Series 382

BAB 215
JANGAN BIARKAN INGATAN MENGUASAI

Satu demi satu magical dummy terus bermunculan.

Darrien bergerak di antara mereka.

Serangannya semakin cepat.

Dark Magic memenuhi setiap gerakannya.

Namun semakin lama pertarungan berlangsung—

semakin jelas pula ingatan lama kembali muncul.

Lembah itu.

Suara pertempuran.

Para vampire.

Koga.

Musaka.

Dan Fiona.

Darrien menghancurkan satu dummy lagi.

Namun sosok berikutnya membuat langkahnya terhenti sesaat.

Dalam pikirannya—

dummy itu berubah menjadi bayangan musuh yang pernah ia hadapi.

Ia kembali melihat lembah.

Kembali merasakan tubuhnya yang hampir tidak mampu bergerak.

Kembali mendengar suara Fiona.

“Darrien!”

Tangannya mengepal.

“Nggak…”

Darrien menggeleng.

Ia mencoba mengusir ingatan itu.

Namun semakin ia melawannya—

semakin jelas ingatan tersebut muncul.

Sebuah serangan datang dari samping.

Darrien terlambat menyadarinya.

**BAM!**

Tubuhnya terdorong.

Ia jatuh ke satu lutut.

Fiona yang berdiri di luar barrier refleks maju satu langkah.

Namun ia berhenti.

Ia tahu ini adalah latihan Darrien.

Ia tidak akan ikut campur.

Elarion juga tetap diam.

Kevin berdiri di antara para dummy.

“Bangun.”

Darrien mengangkat wajahnya.

Kevin menatapnya serius.

“Jangan lari dari ingatan itu.”

Darrien terdiam.

“Biarkan kau mengingatnya.”

“Biarkan rasa takut itu muncul.”

Kevin mengepalkan tangannya.

“Tapi jangan biarkan rasa takut itu mengendalikanmu.”

Darrien menarik napas.

Ia perlahan berdiri.

Kevin melanjutkan,

“Di lembah itu, kau kehilangan kendali karena kau terlalu fokus pada satu hal.”

Darrien menatapnya.

“Fiona.”

“Benar.”

Kevin menunjuk ke seluruh arena.

“Kalau kau kembali melakukan hal yang sama…”

“kau akan kehilangan kemampuan untuk melihat apa yang ada di sekitarmu.”

Darrien terdiam.

Ia melihat para magical dummy.

Mereka bergerak dari segala arah.

Tidak hanya satu.

Bukan hanya musuh yang berada di depan.

Ada yang di belakang.

Di samping.

Di atas.

Dan di antara semuanya—

ada satu titik yang sengaja dibuat sebagai tempat Fiona seolah-olah terikat.

Darrien menatap titik itu.

Dadanya terasa sesak.

Bayangan Fiona yang menangis kembali muncul.

Namun kali ini—

ia menarik napas panjang.

“Aku ingat.”

Suaranya rendah.

“Aku ingat semuanya.”

Ia mengepalkan tangan.

“Aku ingat aku tidak bisa bergerak.”

“Aku ingat dia menangis.”

“Aku ingat aku hampir kehilangan dia.”

Dark Magic kembali menyebar.

Namun kali ini tidak meledak liar.

Ia mengendalikannya.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”

Darrien mengangkat kepalanya.

Tatapannya berubah.

Ia tidak lagi melihat para dummy sebagai bayangan masa lalu.

Ia melihat mereka sebagai musuh yang harus dihadapi sekarang.

Satu dummy menyerang.

Darrien menghindar.

Dummy kedua datang dari belakang.

Darrien berbalik.

**BAM!**

Hancur.

Dua lainnya menyerang bersamaan.

Darrien melompat.

Dark Magic memperkuat kakinya.

Ia berputar di udara.

Satu serangan.

Kemudian serangan kedua.

Keduanya hancur.

Namun—

satu sosok masih berdiri.

Lebih besar.

Lebih kuat.

Auranya berbeda.

Darrien berhenti.

Kevin akhirnya bergerak ke depan.

Sosok terakhir itu bukan lagi sekadar magical dummy.

Kevin telah mengubah wujudnya.

Menjadi lawan terakhir.

**Sang Boss.**

Darrien menatapnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Untuk sesaat—

bayangan lembah kembali muncul.

Namun kali ini ia tidak mundur.

Ia mengatur napas.

Kemudian mengangkat kedua tangannya.

“Bukan kali ini.”

Kevin tersenyum dari balik wujudnya.

“Bagus.”

Ia mengangkat tangannya.

“Kalau begitu…”

“Ayo lihat apakah kau benar-benar belajar.”

Darrien langsung melesat.

Pertarungan terakhir hari itu—

akhirnya dimulai.

Di luar barrier—

Fiona hanya berdiri diam.

Tidak membantu.

Tidak mengganggu.

Ia hanya memperhatikan Darrien dengan tatapan serius.

Karena kali ini—

Darrien tidak sedang bertarung melawan masa lalunya.

Ia sedang belajar untuk menghadapinya.

Dan tetap berdiri.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience