73. Dua Klan Mengejar

Romance Series 94

BAB 73
DUA KLAN MENGEJAR

Malam itu berubah menjadi kekacauan.

Alarm terdengar dari kediaman Ardika.

Para penjaga berlari ke segala arah.

Surya keluar dari aula dengan wajah pucat.

“Di mana dia?”

Marcus berdiri di hadapannya.

“Pergi.”

“Ke mana?”

“Jalan belakang.”

Surya mengepalkan tangan.

“Cari dia!”

Para penjaga segera bergerak.

Namun sebelum mereka sempat meninggalkan halaman—

suara Keith Varian terdengar.

“Siapa yang pergi?”

Surya membeku.

Keith dan keluarganya berdiri di belakangnya.

Clara terlihat bingung.

Clark menatap para penjaga.

“Apa yang terjadi?”

Surya tidak bisa langsung menjawab.

Keith menatapnya tajam.

“Surya.”

“Lola…”

Surya berhenti.

“Dia pergi.”

Clark langsung mengerutkan kening.

“Pergi?”

“Dia dibawa seseorang.”

Keith menyipitkan mata.

“Siapa?”

Surya terdiam.

Marcus menjawab,

“Seorang penyusup.”

Keith menatapnya.

“Siapa?”

“Kami belum tahu.”

Keith mengepalkan tangan.

“Cari.”

Ia menoleh kepada para pengawalnya.

“Bawa dia kembali.”

***

Di luar kota—

Darrien dan Fiona terus berlari.

Elarion berada di depan.

Ace mengikuti di belakang.

Kevin berjalan beberapa langkah dari mereka.

Fiona mulai kelelahan.

Darrien memperlambat langkah.

“Kita berhenti sebentar.”

Ace menggeleng.

“Tidak.”

Darrien menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena mereka sudah mulai mengejar.”

Darrien menggunakan sensing.

Ia merasakan banyak aura.

Banyak.

Dan beberapa jauh lebih kuat daripada penjaga biasa.

“Ardika?”

Ace mengangguk.

“Dan Varian.”

Darrien terdiam.

“Jadi mereka mengejar kita bersama?”

“Ya.”

Fiona menatap Darrien.

“Aku membuat semuanya menjadi masalah.”

Darrien langsung menggeleng.

“Bukan salahmu.”

“Tapi…”

“Aku yang datang.”

Darrien menggenggam tangannya.

“Aku memilih datang.”

Fiona terdiam.

Kemudian mengangguk.

***

Di belakang mereka—

rombongan Ardika bergerak cepat.

Marcus berada di depan.

Ia mengikuti jejak sihir.

Namun tiba-tiba…

ia berhenti.

“Tidak mungkin.”

Seorang penjaga bertanya,

“Ada apa?”

“Jejak mereka terputus.”

“Bagaimana?”

Marcus melihat tanah.

Tidak ada jejak.

Tidak ada aura.

Tidak ada tanda.

Ia mengerutkan kening.

“Mereka menggunakan sihir penyamaran.”

***

Di sisi lain—

rombongan Varian juga bergerak.

Clark berada di salah satu kereta.

Ia menatap jalan gelap.

“Ayah.”

Keith menoleh.

“Ya?”

“Gadis itu…”

Keith menatapnya.

“Apa?”

“Dia benar-benar bukan Lola?”

Keith terdiam.

“Kenapa kau bertanya?”

“Karena sebelum dia pergi…”

Clark berhenti.

“Dia mengatakan namanya Fiona.”

Keith mengerutkan kening.

“Jangan pikirkan itu sekarang.”

“Tapi Ayah…”

“Kita akan membicarakannya setelah dia ditemukan.”

Clark menatap keluar jendela.

Untuk pertama kalinya…

ia mulai curiga bahwa keluarganya mungkin tidak mengetahui seluruh kebenaran.

***

Di hutan—

Darrien berhenti.

Semua orang menoleh.

“Ada apa?” tanya Elarion.

Darrien memejamkan mata.

“Ada dua kelompok.”

Ace mengangguk.

“Berapa jauh?”

“Ardika sekitar satu jam.”

“Varian?”

Darrien membuka mata.

“Lebih dekat.”

Kevin mengerutkan kening.

“Kalau begitu kita harus mengubah arah.”

Elarion membuka peta.

“Ke mana?”

Darrien menunjuk sebuah jalur kecil.

“Ke sini.”

Ace melihatnya.

“Itu menuju wilayah perbatasan.”

Darrien mengangguk.

“Kalau kita terus ke sana…”

“Kita akan keluar dari jalur utama.”

“Bagus.”

Fiona menatapnya.

“Apakah kita aman?”

Darrien menatapnya.

“Tidak.”

Fiona terdiam.

Namun Darrien tersenyum kecil.

“Tapi kita bersama.”

Fiona membalas senyum itu.

***

Beberapa jam kemudian…

dua rombongan pengejar mencapai tempat yang sama.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Keith turun dari kereta.

Ia melihat tanah.

“Jejak mereka hilang.”

Marcus juga memeriksa daerah tersebut.

“Bukan hilang.”

Keith menoleh.

“Maksudmu?”

Marcus menunjuk tanah.

“Mereka sengaja menghapusnya.”

Keith mengerutkan kening.

“Siapa yang mengajari mereka?”

Marcus tidak menjawab.

Namun dalam pikirannya…

ia kembali teringat anak laki-laki yang berdiri di depan Fiona.

Sihirnya.

Tatapannya.

Cara ia melindungi gadis itu.

Marcus mulai merasa…

anak itu bukan orang biasa.

***

Jauh di depan—

Darrien dan yang lainnya terus bergerak.

Fiona berjalan di samping Darrien.

Tangan mereka masih saling menggenggam.

Namun tiba-tiba Darrien berhenti.

Ia menatap ke depan.

“Ada sesuatu.”

Kevin langsung waspada.

“Apa?”

Darrien menggunakan sensing.

Aura lain muncul.

Bukan Ardika.

Bukan Varian.

Lebih kuat.

Lebih tua.

Dan sangat asing.

Darrien membuka mata.

“Di depan kita…”

Ia menatap hutan gelap.

“…ada seseorang.”

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience