Series
382
BAB 328 — SOSOK DARI MASA LALU
Sosok wanita itu masih berdiri di tengah Crystal Hall.
Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan.
Zeith.
Seraphine.
Elyon.
Elarion.
Sylvester.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Dan akhirnya—
Darrien.
Tatapan wanita itu berhenti pada Darrien.
Untuk sesaat—
ekspresinya berubah.
Ada kerinduan yang sangat dalam di matanya.
Namun hanya sesaat.
Ia segera mengalihkan pandangannya.
Darrien langsung menyadarinya.
Keningnya berkerut.
*Mengapa dia menghindariku?*
Ia bahkan belum tahu siapa wanita ini.
Namun entah mengapa—
tatapan wanita itu membuat sesuatu di dalam dirinya terasa aneh.
Seperti sebuah kenangan yang tidak bisa ia raih.
***
Wanita itu perlahan mengangkat tangannya.
Tidak ada chanting.
Tidak ada persiapan.
Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang mengumpulkan energi.
Hanya satu gerakan sederhana.
**WHOOM!**
Sebuah lingkaran sihir Silver Leaf muncul di lantai.
Cahayanya langsung memenuhi bagian tengah Crystal Hall.
Elyon terkejut.
“Teleportasi?”
Elarion langsung memperhatikan pola sihir tersebut.
“Tanpa chanting…”
Sylvester bahkan melangkah mundur.
“Bagaimana mungkin?”
Ace menatap lingkaran itu.
“Dia akan memanggil siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Cahaya semakin terang.
Kemudian—
**BOOM!**
Dua sosok muncul di tengah lingkaran.
Seorang pria dan seorang wanita.
Keduanya langsung mengambil posisi waspada.
Pria itu secara refleks berdiri sedikit di depan wanita di sampingnya.
Namun ketika matanya menyapu ruangan—
ia membeku.
“Elyon?”
Elyon juga terkejut.
“Yang Mulia Edward?”
Wanita di samping Edward menatap sekeliling.
Kemudian matanya langsung tertuju kepada Darrien.
“Darrien?”
Gloria hampir melangkah maju.
Namun ia berhenti.
Karena baru sekarang ia menyadari—
mereka tidak lagi berada di Istana Veyth.
Edward juga segera memahami situasinya.
“Di mana kita?”
Zeith berdiri dari tempatnya.
“Crystal Hall.”
Edward menoleh kepada Zeith.
“Yang Mulia Zeith?”
Seraphine juga berdiri.
“Sepertinya kalian dipindahkan ke sini.”
Edward menatap wanita yang berdiri di tengah ruangan.
Tatapannya menjadi serius.
“Kaulah yang melakukan ini?”
Wanita itu mengangguk.
“Ya.”
Gloria menatapnya dengan penuh kebingungan.
“Kenapa kau membawa kami ke sini?”
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya memperhatikan keduanya.
Ada sesuatu dalam tatapannya.
Sesuatu yang hampir seperti—
rasa terima kasih.
***
Darrien masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya bergantian antara Edward dan Gloria—
kemudian wanita misterius tersebut.
Ia ingin bertanya.
Namun saat ia membuka mulut—
tidak ada suara.
Darrien membeku.
Ia mencoba sekali lagi.
Tetap tidak ada suara.
Tatapannya langsung berubah kesal.
Wanita itu menyadarinya.
Namun—
sekali lagi—
ia menghindari mata Darrien.
Darrien mengepalkan tangannya.
*Kenapa aku tidak bisa berbicara?*
Elyon juga memperhatikan keadaan tersebut.
Namun sebelum ia sempat bertanya—
wanita itu sudah memanggil sebuah kursi.
**TING.**
Sebuah kursi kristal muncul di belakangnya.
Ia duduk dengan tenang.
Kemudian mengangkat tangannya.
Beberapa kursi kristal lain muncul di hadapan mereka.
“Silakan duduk.”
Semua orang saling memandang.
Ace berbisik kepada Rowan,
“Dia baru saja memindahkan Raja dan Ratu Veyth ke sini…”
Rowan mengangguk.
“Ya.”
Ace melihat kursi kristal.
“…dan sekarang menyuruh kita duduk.”
Kevin sudah lebih dahulu duduk.
“Duduk saja.”
Ace akhirnya mengikuti.
Yang lainnya juga mengambil tempat.
Zeith dan Seraphine duduk berdampingan.
Edward dan Gloria duduk di sisi lain.
Darrien—
tetap berdiri.
Tatapannya tidak lepas dari wanita tersebut.
***
Elyon akhirnya membuka percakapan.
“Fiona?”
Wanita itu menoleh.
“Ya.”
“Apa benar kau Fiona?”
Wanita itu terdiam.
Kemudian menjawab,
“Ya.”
Elyon mengerutkan kening.
Namun wanita itu melanjutkan.
“Aku adalah Fiona.”
Ia berhenti.
“Tapi…”
Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan.
“…bukan Fiona yang kalian kenal.”
Keheningan langsung memenuhi Crystal Hall.
Gloria menatapnya.
“Kalau begitu…”
Ia berhenti.
“Siapa kau?”
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Ia menatap Crystal Hall.
Kemudian kembali melihat mereka.
“Aku adalah seseorang yang berasal dari zaman yang sudah lama berlalu.”
Elarion bertanya,
“Zaman berapa lama?”
Wanita itu terdiam.
Tatapannya berubah.
Seolah-olah pikirannya kembali kepada masa yang sangat jauh.
“Lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu.”
Semua orang membeku.
Ace bahkan tidak bisa mengeluarkan komentar.
Rowan menatapnya dengan serius.
Kevin menyipitkan mata.
Sylvester perlahan berdiri.
“Dua ribu lima ratus tahun…?”
Wanita itu mengangguk.
“Ya.”
Elyon menatapnya tajam.
“Jadi kau berasal dari zaman sebelum Lunaris?”
“Jauh sebelum Lunaris menjadi kerajaan seperti yang kalian kenal.”
Zeith mengerutkan kening.
“Kalau begitu…”
Ia menatap wanita itu.
“…kau mengetahui sesuatu tentang Crystal Hall.”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Aku mengetahui lebih banyak daripada yang tercatat dalam sejarah kalian.”
Sylvester langsung menegang.
“Sejarah Crystal Hall…”
“Telah dihapus.”
Jawaban itu membuat semua orang terdiam.
Elyon menatapnya.
“Siapa yang menghapusnya?”
Wanita itu tidak menjawab.
Ia hanya memandang ruangan di sekelilingnya.
“Bukan itu alasan aku memanggil kalian.”
Tatapannya kemudian berpindah kepada Edward dan Gloria.
Terutama kepada Gloria.
“Dan terutama bukan alasan aku membawa mereka ke sini.”
Edward langsung mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Wanita itu menatapnya.
“Ada sesuatu yang harus kalian ketahui.”
Gloria menggenggam tangan Edward.
“Apakah ini tentang Darrien?”
Wanita itu terdiam.
Kemudian—
ia perlahan mengalihkan pandangannya kepada Darrien.
Darrien masih tidak dapat berbicara.
Namun matanya penuh pertanyaan.
Wanita itu hanya menatapnya beberapa detik.
Lalu kembali memandang Edward dan Gloria.
“Ya.”
Suaranya sangat lembut.
“Ini tentang Darrien.”
Edward langsung menegang.
Gloria juga.
“Bagaimana kau mengenal nama itu?”
Tidak ada jawaban segera.
Wanita itu menundukkan kepala.
Seolah-olah kata berikutnya membawa beban yang terlalu berat.
Kemudian—
ia berkata,
“Aku tahu apa yang terjadi kepada anak kalian.”
Ruangan langsung membeku.
Edward berdiri.
“Apa?”
Gloria menutup mulutnya.
Elyon menatap wanita itu.
Elarion terdiam.
Bahkan Zeith dan Seraphine tidak mengatakan apa pun.
Darrien—
masih tidak bisa berbicara.
Namun ekspresinya berubah.
Wanita itu menatap semua orang.
“Aku tahu tentang anak yang hilang dari Veyth.”
Edward mengepalkan tangannya.
“Siapa kau sebenarnya?”
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan itu.
Belum.
Ia hanya menarik napas panjang.
Kemudian bersandar pada kursi kristalnya.
“Aku akan menceritakan semuanya.”
Tatapannya kembali mengarah kepada Crystal Hall.
“Namun kalian harus memahami satu hal terlebih dahulu.”
Semua menunggu.
Wanita itu berkata perlahan,
“Dunia yang kalian kenal sekarang…”
Ia berhenti.
“…bukan dunia tempat aku berasal.”
Matanya dipenuhi kerinduan.
“Zamanku telah berlalu lebih dari dua ribu lima ratus tahun.”
Ia menatap simbol Silver Leaf yang masih samar di lantai.
“Dan sebelum era kalian…”
“…ada sebuah era yang telah hilang dari sejarah.”
Keheningan kembali memenuhi Crystal Hall.
Sementara Darrien—
hanya bisa menatapnya.
Tidak mampu bertanya.
Tidak mampu memanggil.
Dan tidak mampu memahami—
mengapa setiap kata wanita itu terasa seperti bagian dari masa lalu yang seharusnya tidak pernah ia lupakan.
Share this novel