42. Seorang Guru Baru

Romance Series 94

BAB 42
SEORANG GURU BARU

Pagi itu, Elarion memberikan Darrien dan Fiona sebuah tugas sederhana.

“Pergilah ke danau kecil di sebelah utara.”

Fiona membawa keranjang.

“Untuk apa?”

“Ambil beberapa daun embun dan bunga air.”

Darrien mengangguk.

“Kami akan segera kembali.”

“Jangan terlalu jauh.”

Mereka pun berangkat.

Hutan pagi terasa tenang.

Suara burung terdengar dari kejauhan, sementara cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan.

Fiona berjalan di samping Darrien.

“Aku ingin melihat apakah ada ikan kecil lagi.”

“Kita tidak sedang mencari ikan.”

“Aku hanya ingin melihat.”

Darrien tersenyum kecil.

“Kau selalu menemukan alasan.”

Mereka akhirnya sampai di danau.

Airnya jernih.

Beberapa bunga air tumbuh di dekat tepi.

Fiona segera berjongkok dan mulai mengumpulkannya.

Darrien membantu mencari daun embun.

Sementara itu, beberapa ratus langkah dari sana, Elarion sedang mencari tanaman lain yang diperlukan untuk membuat ramuan.

Ia baru saja memetik sebuah tanaman ketika merasakan sesuatu.

Sebuah aura sihir.

Tenang.

Padat.

Dan sangat kuat.

Elarion berhenti.

Ia menoleh.

Seorang pria berdiri di antara pepohonan.

Rambutnya gelap.

Pakaiannya sederhana.

Tidak ada senjata yang terlihat.

Namun Elarion langsung tahu satu hal.

Orang itu bukan penyihir biasa.

“Siapa kau?”

Pria tersebut berhenti beberapa langkah darinya.

“Namaku Kevin.”

Elarion tidak menurunkan kewaspadaannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku sedang bepergian.”

Jawabannya sederhana.

Namun aura sihirnya tidak sederhana sama sekali.

Elarion mencoba merasakan tingkat kekuatannya.

Sesaat kemudian, ia terdiam.

Sihir pria itu jauh lebih tinggi darinya.

Bukan sedikit.

Cukup untuk membuat Elarion sadar bahwa jika terjadi pertarungan, ia mungkin tidak akan menang.

Namun Kevin tidak menunjukkan niat menyerang.

“Aku melihat dua anak yang tinggal bersamamu.”

Elarion langsung waspada.

“Kenapa?”

“Mereka memiliki bakat.”

Elarion menyipitkan mata.

“Kau mengawasi mereka?”

“Beberapa kali.”

Jawaban itu membuat Elarion semakin curiga.

Namun Kevin segera melanjutkan.

“Aku tidak berniat menyakiti mereka.”

“Lalu?”

Kevin menatap ke arah danau.

“Aku ingin menawarkan sesuatu.”

Elarion diam.

“Aku bisa mengajari mereka sihir tingkat lebih tinggi.”

Elarion menatap Kevin beberapa detik.

“Kau bahkan belum mengenal mereka.”

“Aku tidak perlu mengenal mereka untuk melihat potensi sihir.”

Elarion masih tidak menjawab.

Kevin melanjutkan.

“Kau sudah mengajari mereka dasar-dasar yang sangat baik.”

“Namun suatu hari nanti, mereka akan mencapai tingkat yang membutuhkan guru berbeda.”

Elarion mengakui dalam hati bahwa perkataan itu masuk akal.

Ia sendiri sudah menyadari bahwa kekuatan Darrien berkembang dengan cepat.

Terutama sihir dinginnya.

“Aku tidak akan membiarkan orang asing mengajar mereka begitu saja.”

“Tentu.”

Kevin mengangguk.

“Karena itu, kau boleh mengawasi setiap pelajaran.”

Elarion terdiam.

“Dan mereka sendiri yang memilih apakah ingin belajar.”

Kevin tersenyum tipis.

“Kalau mereka tidak mau, aku tidak akan memaksa.”

Elarion memandangnya.

“Siapa yang ingin kau ajar?”

Kevin menjawab tanpa ragu.

“Darrien.”

Elarion mengangkat alis.

“Kenapa dia?”

“Karena jenis sihirnya.”

Kevin menatap ke arah danau.

“Dia memiliki kekuatan yang masih belum sepenuhnya dia pahami.”

Elarion terdiam.

Jawaban itu terlalu tepat.

Beberapa saat kemudian, Darrien dan Fiona kembali dari danau.

Mereka berhenti ketika melihat seorang pria asing berdiri bersama Elarion.

Fiona berbisik,

“Siapa dia?”

“Aku tidak tahu,” jawab Darrien.

Kevin menoleh.

Tatapannya bertemu dengan Darrien.

Untuk sesaat, hawa dingin samar muncul di sekitar tubuh anak itu.

Kevin menyadarinya.

Namun ia tidak menunjukkan reaksi.

“Darrien.”

Anak itu sedikit terkejut.

“Kau tahu namaku?”

Kevin tersenyum.

“Elarion menyebutnya.”

Darrien mengangguk.

Kevin kemudian berkata,

“Aku ingin menawarkan sesuatu.”

“Apa?”

“Aku bisa mengajarimu sihir yang lebih tinggi.”

Darrien menatap Elarion.

Elarion mengangguk perlahan.

“Dia cukup kuat.”

Darrien kembali melihat Kevin.

“Kenapa aku?”

Kevin menjawab tenang.

“Karena kekuatanmu berbeda.”

Darrien terdiam.

Fiona langsung menyela.

“Kalau begitu, aku juga bisa belajar?”

Kevin menoleh kepadanya.

“Tentu.”

Fiona tersenyum.

Namun Kevin kembali melihat Darrien.

“Namun untuk saat ini, aku ingin fokus mengajarinya.”

Fiona memandang Darrien.

“Kalau begitu, kau harus belajar dengan baik.”

Darrien mengangguk.

“Aku akan mencoba.”

Kevin tersenyum kecil.

“Bukan mencoba.”

Ia menatap Darrien dengan serius.

“Belajar.”

Darrien mengangguk.

Elarion memperhatikan percakapan itu.

Ada sesuatu yang aneh tentang Kevin.

Ia terlalu kuat.

Terlalu tenang.

Dan terlalu mengetahui cara kerja sihir Darrien.

Namun untuk sekarang, Elarion memilih tidak bertanya terlalu banyak.

Jika Kevin benar-benar ingin membantu…

maka mungkin keberadaannya akan menjadi sesuatu yang berguna bagi kedua anak itu.

Dan jauh di dalam hati Kevin, ia tahu alasan sebenarnya mengapa ia memilih Darrien.

Bukan hanya karena bakat.

Bukan hanya karena kekuatannya.

Melainkan karena anak yang berdiri di hadapannya adalah pewaris yang selama bertahun-tahun dicari kerajaan.

Namun rahasia itu harus tetap disimpan.

Untuk sekarang.

Darrien hanya melihat seorang guru baru.

Fiona hanya melihat seorang penyihir kuat.

Elarion melihat seorang pria misterius yang jauh lebih kuat darinya.

Dan Kevin…

melihat Pangeran yang akhirnya berhasil ia temukan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience