174. Balas Dendam Yang Kembali

Romance Series 382

BAB 174
BALAS DENDAM YANG KEMBALI

Pertempuran telah berlangsung cukup lama.

Tanah di sekitar lembah sudah dipenuhi bekas benturan sihir.

Beberapa bagian rerumputan terbakar.

Batu-batu di dekat air mancur retak.

Namun—

belum ada satu pun dari para vampire yang benar-benar tumbang.

Darrien berdiri dengan napas berat.

Beberapa goresan terlihat di lengannya.

Ada luka kecil di dekat pipinya.

Pakaian latihannya juga sudah robek di beberapa bagian.

Ia menghapus sedikit darah dari sudut bibirnya.

Di sisi lain—

Elarion juga tidak jauh berbeda.

Beberapa luka tipis terlihat di lengannya dan bahunya.

Elyon bahkan mengalami beberapa goresan di sisi wajahnya.

Namun ketiganya masih berdiri.

Fiona menatap mereka dengan cemas.

“Darrien…”

“Aku baik-baik saja.”

Darrien tidak menoleh.

Matanya tetap tertuju pada para vampire.

Salah satu dari mereka bergerak maju lagi.

Darrien mengangkat tangannya.

Dark Magic kembali berkumpul.

Namun—

Musaka mengangkat tangannya.

“Berhenti.”

Vampire itu berhenti.

Musaka berjalan beberapa langkah ke depan.

Ia menatap Darrien.

“Masih seperti dulu.”

Darrien mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Musaka tersenyum.

“Kau selalu berdiri di depan gadis itu.”

Darrien tidak menjawab.

Musaka melanjutkan.

“Bahkan ketika kau tahu kau tidak mampu menang.”

Darrien mengepalkan tangannya.

“Aku tidak perlu menang.”

Ia melirik Fiona.

“Aku hanya perlu memastikan dia aman.”

Fiona menatapnya.

Musaka tertawa kecil.

“Itulah yang membuatmu menyebalkan.”

Darrien menatapnya tajam.

“Kalau kau ingin balas dendam, datang saja.”

“Aku sudah datang.”

Musaka membuka kedua tangannya.

“Kali ini aku tidak melarikan diri.”

Darrien terdiam.

Musaka menatapnya dengan kebencian yang jelas.

“Waktu itu…”

Ia mengepalkan tangannya.

“Aku hampir mati.”

Darrien tidak mengatakan apa-apa.

“Kekuatanmu…”

Suara Musaka berubah.

“…aku masih mengingatnya.”

Ia mengusap lengannya sendiri.

“Dark Magic itu.”

Elarion memperhatikan perubahan ekspresinya.

Elyon juga.

Musaka tertawa kecil.

“Selama berhari-hari setelah aku melarikan diri, aku masih bisa merasakan hawa dinginnya.”

Darrien menyipitkan mata.

“Kalau begitu kau seharusnya tidak kembali.”

Musaka tersenyum.

“Justru karena itu aku kembali.”

Ia mengangkat tangannya.

“Aku mencari kekuatan.”

Fiona mengerutkan kening.

“Untuk membalas dendam?”

Musaka menoleh kepadanya.

“Ya.”

Tatapannya berhenti pada Fiona beberapa detik.

Kemudian kembali kepada Darrien.

“Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.”

Elarion maju sedikit.

“Siapa yang membantumu?”

Musaka tersenyum.

“Itu bukan urusanmu.”

Elyon menyipitkan mata.

“Kalau begitu kenapa membawa begitu banyak vampire?”

Musaka tertawa.

“Karena aku belajar.”

Ia menatap ketiganya.

“Aku tahu sekarang bahwa menyerang kalian sendirian adalah kebodohan.”

Darrien mendengus.

“Setidaknya kau belajar sesuatu.”

Musaka menatapnya tajam.

“Jangan terlalu percaya diri.”

Ia menunjuk Darrien.

“Kau belum melihat kekuatan yang kubawa.”

Darrien mengangkat alis.

“Kalau begitu keluarkan.”

Musaka tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum.

***

Pertempuran kembali pecah.

Salah satu vampire melesat ke arah Darrien.

**BOOM!**

Darrien menahannya.

Namun vampire kedua menyerang dari sisi lain.

Darrien berputar.

Dark Magic meledak.

**CRACK!**

Ia berhasil menjauhkan keduanya.

Di sisi lain—

Elarion mengangkat kedua tangan.

Akar besar muncul dari tanah.

Beberapa vampire terjebak.

Namun mereka segera menghancurkannya.

Elarion menarik napas.

“Sulit.”

Elyon berdiri di sampingnya.

“Ya.”

“Kau masih belum menggunakan seluruh kekuatanmu.”

Elyon meliriknya.

“Kau memperhatikan?”

“Sulit untuk tidak memperhatikan.”

Elyon tersenyum tipis.

“Aku masih ingin melihat sesuatu.”

Elarion mengangkat alis.

“Apa?”

Elyon menatap Darrien.

“Seberapa jauh mereka akan memaksa kita.”

***

Fiona mendengar percakapan itu.

Ia mengerutkan kening.

“Kalian masih punya waktu untuk mengamati?”

Elyon tersenyum.

“Sedikit.”

Fiona menghela napas.

“Orang-orang aneh.”

Darrien yang mendengar itu hampir tersenyum.

Namun sebuah serangan kembali datang.

Ia langsung bergerak.

***

Musaka mengamati semuanya dari kejauhan.

Senyumnya perlahan menghilang.

Mereka masih berdiri.

Bahkan setelah pertarungan selama ini.

Terutama Darrien.

Ia jauh lebih kuat daripada yang Musaka ingat.

Namun Musaka masih percaya pada satu hal.

Koga.

Ia hanya perlu menunggu.

Kemudian—

suara langkah terdengar.

**Tap.**

Musaka berhenti.

**Tap.**

Para vampire lainnya ikut diam.

Darrien menoleh.

Elarion juga.

Elyon menghentikan gerakannya.

Fiona menatap ke arah hutan.

Suara itu semakin dekat.

**Tap.**

**Tap.**

Tidak ada sosok yang terlihat.

Hanya langkah kaki yang terdengar dari balik pepohonan.

Musaka tersenyum.

“Dia datang.”

Darrien mengerutkan kening.

“Siapa?”

Musaka tidak menjawab.

Satu langkah lagi terdengar.

**Tap.**

Kemudian—

hening.

Musaka menatap ke arah hutan.

Senyumnya semakin lebar.

“Sekarang…”

Ia menatap Darrien.

“…kau akan tahu kenapa aku kembali.”

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience