253. Hadiah Yang Terlalu Banyak

Romance Series 382

BAB 253

Pagi datang dengan tenang di Istana Veyth.

Cahaya matahari perlahan memasuki jendela-jendela kristal, menyinari lorong panjang yang masih terasa jauh lebih sepi dibandingkan malam sebelumnya.

Pesta telah berakhir.

Para tamu telah pergi.

Musik telah berhenti.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—

Darrien bangun tanpa mendengar satu kalimat tertentu.

“Bangun. Latihan.”

Darrien membuka matanya.

Diam.

Menunggu.

Tidak ada suara.

Ia menatap langit-langit kamarnya.

Kemudian perlahan tersenyum.

“…”

Hari ini—

tidak ada latihan Kevin.

Darrien menarik selimut sedikit lebih tinggi.

“Indah.”

***

Beberapa saat kemudian—

Darrien akhirnya keluar dari kamarnya.

Fiona sudah menunggunya di lorong.

“Pagi.”

Darrien tersenyum.

“Pagi.”

Fiona memperhatikan wajahnya.

“Kau terlihat bahagia.”

“Aku memang bahagia.”

“Kenapa?”

Darrien menjawab tanpa ragu.

“Kevin tidak melatihku hari ini.”

Fiona langsung tertawa.

“Serius?”

“Serius.”

Darrien menghela napas lega.

“Aku bisa menikmati pagi dengan tenang.”

Fiona tersenyum.

“Kasihan sekali.”

Darrien menatapnya.

“Jangan tertawa.”

“Aku tidak tertawa.”

Fiona masih tersenyum.

Darrien menggeleng.

***

Mereka baru saja selesai sarapan ketika dua Royal Guard Veyth datang menghampiri.

Salah satunya menundukkan kepala.

“Yang Mulia Pangeran Darrien.”

Darrien menoleh.

“Ada apa?”

“King Edward dan Queen Gloria meminta Anda datang.”

Darrien mengangkat alis.

“Sekarang?”

“Ya, Yang Mulia.”

Fiona menoleh.

“Aku ikut?”

Darrien memandangnya.

“Kalau kau mau.”

Fiona langsung mengangguk.

“Mau.”

Darrien tersenyum.

“Baik.”

Ia kemudian melihat ke arah ruangan lain.

Ace tidak terlihat.

Rowan juga tidak.

Elarion bahkan masih belum keluar dari kamarnya.

Darrien menghela napas lega.

“Setidaknya hari ini aku tidak perlu membawa rombongan.”

Fiona tertawa.

“Kau terdengar seperti sedang kabur.”

“Sedikit.”

***

Mereka berjalan mengikuti dua Royal Guard tersebut.

Lorong istana terasa berbeda di pagi hari.

Lebih tenang.

Lebih sepi.

Beberapa pelayan sedang membersihkan sisa-sisa dekorasi pesta.

Beberapa penjaga sedang berganti posisi.

Darrien berjalan santai.

Fiona berada di sampingnya.

Setelah beberapa menit—

mereka tiba di sebuah bagian istana yang jarang mereka datangi.

Salah satu Royal Guard berhenti di depan sebuah pintu besar.

Ia membungkuk.

“Yang Mulia.”

Pintu dibuka.

Darrien melangkah masuk.

Kemudian berhenti.

“…Apa?”

Fiona yang berada di belakangnya juga berhenti.

Matanya melebar.

Ruangan itu—

penuh.

Bukan hanya beberapa kotak.

Bukan hanya beberapa hadiah.

**Penuh.**

Kotak-kotak besar memenuhi sisi ruangan.

Beberapa dihiasi ukiran kerajaan.

Beberapa ditutupi kain.

Ada benda-benda panjang yang bahkan tidak diketahui Fiona untuk apa.

Ada peti.

Ada perhiasan.

Ada senjata upacara.

Ada artefak.

Ada benda-benda yang tampaknya sangat tua.

Dan beberapa benda yang bahkan—

Darrien tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.

Ia menoleh kepada Fiona.

“…”

Fiona menatapnya.

“…”

Darrien akhirnya bertanya,

“Apa ini?”

Dari bagian dalam ruangan—

terdengar suara tawa.

Edward.

“Selamat pagi, putraku.”

Darrien langsung melihat ke depan.

King Edward dan Queen Gloria sudah berada di sana.

Keduanya tampak sangat puas melihat ekspresi putra mereka.

Darrien menghela napas.

“Ayah…”

Gloria tersenyum.

“Selamat pagi.”

“Pagi, Ibu.”

Darrien menunjuk ruangan.

“Semua ini?”

Edward mengangguk.

“Untukmu.”

Darrien terdiam.

“Untukku?”

“Ya.”

Fiona perlahan masuk.

Ia melihat satu demi satu benda di dalam ruangan.

“Sebanyak ini?”

Gloria tersenyum.

“Belum semuanya.”

Darrien membeku.

“Belum?”

Edward tertawa.

“Sebagian hadiah masih berada di ruang penyimpanan lain.”

Darrien menatap ayahnya.

Kemudian ibunya.

Kemudian kembali melihat ruangan.

“Kenapa?”

Gloria menjawab dengan santai,

“Karena kau akhirnya kembali.”

Darrien terdiam.

Edward berjalan mendekat.

“Selama bertahun-tahun kami tidak tahu di mana kau berada.”

Ia melihat sekeliling.

“Setiap tahun kami tetap mempersiapkan sesuatu.”

Darrien menatap ayahnya.

“Walaupun aku tidak ada?”

Edward mengangguk.

“Walaupun kau tidak ada.”

***

Fiona yang sejak tadi melihat-lihat tiba-tiba bertanya,

“Jadi…”

Ia menunjuk sebuah peti besar.

“Semua ini sudah disiapkan sejak lama?”

Gloria mengangguk.

“Sebagian.”

Kemudian ia tersenyum.

“Sebagian lagi baru diberikan setelah berita tentang Darrien tersebar.”

Fiona mengangguk.

“Pantas.”

Darrien berjalan mendekati salah satu peti.

Ia melihat ukiran lambang Veyth di atasnya.

“Ini apa?”

Edward menjawab,

“Hadiah dari keluarga kerajaan yang ingin memberikan penghormatan kepada pewaris.”

Darrien membuka sedikit penutupnya.

Matanya melebar.

“Ini…”

Gloria tertawa.

“Jangan khawatir.”

“Apa?”

“Semua sudah dicatat.”

Darrien menatap ibunya.

“Dicatat?”

“Ya.”

Edward tersenyum.

“Kalau tidak, kau mungkin akan lupa dari siapa semuanya.”

Darrien mengangguk pelan.

“Benar juga.”

***

Fiona berjalan ke sisi lain ruangan.

Ia melihat sebuah benda yang ditutupi kain.

Ia menarik sedikit kainnya.

Kemudian membeku.

“Darrien.”

“Hm?”

“Lihat ini.”

Darrien mendekat.

Fiona menunjuk sebuah benda besar.

Darrien mengerutkan kening.

“Apa itu?”

Fiona menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Gloria tertawa.

“Itu hadiah dari salah satu bangsawan Veyth.”

Darrien melihat benda itu lagi.

“Untuk apa?”

Edward menjawab,

“Dekorasi.”

Darrien menghela napas.

“Kenapa ukurannya sebesar ini?”

“Karena mereka ingin memberikan hadiah yang berkesan.”

Fiona menahan tawa.

“Berhasil.”

Darrien menatapnya.

“Kau jangan tertawa.”

Fiona langsung tertawa.

***

Gloria kemudian berjalan mendekati Fiona.

“Fiona.”

Fiona menoleh.

“Ya?”

Gloria tersenyum.

“Kau juga tidak perlu berdiri terlalu jauh.”

Fiona berkedip.

“Kenapa?”

Gloria menunjuk beberapa kotak lain.

“Itu juga untukmu.”

Fiona terdiam.

“…Untukku?”

Darrien langsung menoleh.

“Untukmu?”

Gloria mengangguk.

“Ya.”

Fiona menunjuk dirinya sendiri.

“Tapi aku bukan anggota keluarga kerajaan Veyth.”

Gloria tersenyum.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

“Karena kau adalah orang yang sangat penting bagi Darrien.”

Darrien terdiam.

Fiona juga.

Edward hanya tersenyum.

Gloria melanjutkan,

“Dan karena kau juga telah membantu keluarga kami menemukan putra kami kembali.”

Fiona tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

Gloria mengangguk.

“Nanti kita lihat bersama.”

Fiona mengangguk.

“Baik.”

***

Darrien kembali melihat ruangan.

Kemudian menghela napas panjang.

“Aku rasa aku membutuhkan ruangan baru.”

Edward tertawa.

“Mungkin.”

Fiona menatap tumpukan hadiah.

“Bukan mungkin.”

Ia menunjuk semuanya.

“Pasti.”

Darrien mengangguk.

“Setuju.”

Gloria tersenyum puas.

“Bagus.”

Darrien menoleh.

“Bagus?”

“Ya.”

Gloria menunjuk sebuah kotak.

“Kita belum membuka semuanya.”

Darrien terdiam.

Kemudian menatap Fiona.

Fiona menatapnya.

Keduanya sama-sama menyadari—

pagi mereka yang tadinya tenang…

baru saja berubah menjadi pekerjaan panjang.

Darrien menghela napas.

“Kenapa aku merasa hari ini akan lebih melelahkan daripada latihan Kevin?”

Fiona tertawa.

Edward ikut tertawa.

Gloria tersenyum.

Dan pagi di Istana Veyth—

yang awalnya terasa begitu damai—

akhirnya dipenuhi suara membuka kotak, memeriksa hadiah, dan pertanyaan—

“Ini sebenarnya untuk apa?”

***

Sementara itu—

di bagian lain istana,

Kevin sedang memeriksa laporan keamanan dari malam sebelumnya.

Ia berdiri dengan beberapa dokumen di tangannya.

“Tidak ada pelanggaran.”

Seorang penjaga mengangguk.

“Semua berjalan sesuai rencana.”

Kevin memeriksa satu laporan lagi.

Kemudian menutupnya.

“Bagus.”

Ia menatap keluar jendela.

Hari ini—

tidak ada latihan.

Setidaknya—

bukan untuk Darrien.

Kevin menghela napas lega kecil.

“Dia pantas mendapat satu hari istirahat.”

Kemudian ia kembali bekerja.

Karena menjadi Elite Guard Veyth—

tidak berarti pekerjaannya berhenti hanya karena pesta telah selesai.

***

Dan di ruang hadiah—

Darrien membuka kotak berikutnya.

Fiona berdiri di sampingnya.

Gloria tersenyum.

Edward memperhatikan.

Darrien melihat benda di dalamnya.

Diam beberapa detik.

Kemudian berkata,

“…Ayah.”

“Ya?”

“Apa ini?”

Edward melihatnya.

Kemudian tertawa.

“Ah.”

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Itu…”

Edward berhenti sebentar.

“…hadiah yang sangat lama.”

Darrien mengangkat benda itu.

“Dan?”

Edward tersenyum.

“Sepertinya sudah waktunya kau tahu untuk apa benda itu.”

Fiona langsung mendekat.

“Apa?”

Gloria ikut melihat.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka membuka ruangan tersebut—

ekspresi Edward berubah sedikit serius.

Karena hadiah itu—

bukan sekadar hadiah biasa.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience