66. Jejak Yang Dikenal

Romance Series 94

BAB 66
JEJAK YANG DIKENAL

Malam telah turun di wilayah Ardika.

Darrien berdiri di balkon penginapan.

Di bawah sana, kota masih ramai.

Lampu-lampu menyala di sepanjang jalan.

Orang-orang berjalan.

Kereta keluar masuk.

Namun Darrien tidak memperhatikan semua itu.

Ia memejamkan mata.

Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Gunakan inderamu.”

Darrien menarik napas perlahan.

Ia membiarkan suara kota menghilang.

Satu demi satu…

ia merasakan keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Sihir mereka.

Kehadiran mereka.

Jarak mereka.

Kemudian—

sesuatu menarik perhatiannya.

Darrien membuka mata.

“Tunggu.”

Kevin tidak bergerak.

“Apa yang kau rasakan?”

Darrien kembali memejamkan mata.

Kali ini ia memperluas indranya.

Lebih jauh.

Lebih dalam.

Melewati jalan.

Melewati bangunan.

Melewati penghalang-penghalang kecil yang tersebar di sekitar kota.

Lalu…

sebuah aura yang sangat dikenalnya menyentuh indranya.

Darrien membeku.

“Fiona.”

Kevin menatapnya.

Darrien membuka mata.

“Dia di sini.”

Elarion yang sedang berada di dalam kamar langsung keluar.

“Apa?”

Darrien menunjuk ke arah utara.

“Di sana.”

Ace ikut mendekat.

“Yakin?”

Darrien mengangguk.

“Aku mengenal auranya.”

Ia memejamkan mata lagi.

Namun kali ini ekspresinya berubah.

“Dia… jauh.”

Kevin berkata,

“Jangan paksa indramu.”

“Aku bisa.”

“Darrien.”

Kevin memperingatkan.

Darrien berhenti.

Ia menarik napas.

Kemudian mencoba merasakan kembali.

Aura Fiona masih ada.

Lemah.

Tertutup oleh lapisan sihir.

Namun jelas.

**Fiona.**

Darrien tersenyum kecil.

“Dia masih di sana.”

Elarion mengangguk.

“Bagus.”

Namun Ace terlihat lebih serius.

“Kalau kau bisa merasakannya…”

Darrien menatapnya.

“…kemungkinan penjaga yang memiliki kemampuan sensing juga bisa merasakanmu.”

Darrien terdiam.

Kevin mengangguk.

“Itulah sebabnya kita tidak bergerak sembarangan.”

Darrien menatap kediaman Ardika dari kejauhan.

Ia sudah tahu di mana Fiona berada.

Namun ia belum bisa mendekatinya.

Belum.

***

Di kediaman Ardika—

Fiona sedang berdiri di dekat jendela.

Ia tiba-tiba berhenti.

Ada sesuatu.

Ia menutup matanya.

Sebuah aura samar menyentuh indranya.

Familiar.

Sangat familiar.

Jantungnya berdebar.

“Tidak mungkin…”

Ia mencoba merasakannya lagi.

Aura itu hampir hilang.

Namun sebelum menghilang sepenuhnya—

Fiona mengenalinya.

“Darrien?”

Ia membuka mata.

Fiona berlari ke jendela.

Ia melihat keluar.

Tidak ada apa-apa selain lampu kota.

Namun dadanya terasa hangat.

Dia ada di sini.

Entah bagaimana…

Fiona tahu.

Darrien telah datang.

Tangannya menggenggam bunga kecil yang selama ini ia simpan.

Air mata hampir jatuh.

Namun kali ini bukan karena sedih.

Ia tersenyum.

“Darrien…”

***

Di penginapan—

Darrien tiba-tiba membuka mata.

“Dia merasakanku.”

Ace menatapnya.

“Bagaimana kau tahu?”

Darrien tersenyum kecil.

“Karena auranya berubah.”

Kevin menghela napas.

“Jadi sekarang kalian sudah saling menemukan.”

“Belum bertemu,” kata Elarion.

Darrien menatapnya.

“Belum.”

Ia kembali melihat ke arah utara.

“Tapi dia tahu aku datang.”

Dan untuk pertama kalinya sejak Fiona dibawa pergi…

Darrien merasa jarak di antara mereka tidak lagi sebesar sebelumnya.

***

Malam itu, keduanya tidur dengan perasaan berbeda.

Fiona tahu Darrien telah datang.

Darrien tahu Fiona masih menunggunya.

Namun keduanya belum tahu…

bahwa keluarga Ardika telah meningkatkan penjagaan karena pernikahan tinggal beberapa hari lagi.

Mereka telah menemukan satu sama lain melalui sihir.

Sekarang…

mereka hanya perlu menemukan jalan untuk bertemu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience