Series
94
BAB 45
SIHIR YANG TIDAK BIASA
Beberapa hari berlalu.
Latihan bersama Kevin semakin berat.
Darrien mulai terbiasa dengan sikap gurunya yang hampir tidak pernah memuji.
Jika berhasil—
“Bagus.”
Jika gagal—
“Ulangi.”
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada pujian berlebihan.
Namun Darrien mulai memahami bahwa setiap kesalahan selalu memiliki alasan.
Pagi itu, Kevin membawa mereka ke sebuah tempat terbuka di dalam hutan.
Tidak ada kristal.
Tidak ada senjata.
Hanya sebuah batu besar di tengah tanah.
Darrien menatapnya.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Pecahkan.”
Darrien mengangkat alis.
“Dengan sihir?”
“Ya.”
Darrien mengangkat tangan.
Hawa dingin berkumpul.
Ia menyerang batu tersebut.
**BOOM!**
Es menyebar.
Namun batu itu hanya retak sedikit.
Darrien menatapnya.
“Kurang kuat?”
Kevin menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Kau menggunakan terlalu banyak energi.”
Darrien mengerutkan kening.
“Padahal batunya masih berdiri.”
“Karena kau menyerang permukaannya.”
Kevin berjalan mendekat.
“Gunakan sihirmu untuk menemukan titik lemahnya.”
Darrien terdiam.
“Bagaimana?”
“Rasakan.”
Darrien memejamkan mata.
Ia merasakan batu itu.
Energi sihirnya menyebar.
Perlahan ia mulai merasakan bagian dalam batu.
Ada satu titik.
Sangat kecil.
Namun berbeda.
Darrien membuka mata.
“Di sana.”
Kevin mengangguk.
“Sekarang.”
Darrien mengarahkan sihirnya.
Hawa dingin bergerak melalui retakan kecil.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada suara besar.
Kemudian—
**Krak.**
Batu itu terbelah menjadi dua.
Darrien terdiam.
Fiona langsung berseru,
“Wow!”
Darrien tersenyum.
Kevin hanya berkata,
“Lebih baik.”
Darrien menatapnya.
“Itu saja?”
“Ya.”
“Tidak ada ‘bagus’?”
Kevin menatapnya.
“Lebih baik adalah pujian.”
Fiona tertawa.
Darrien menghela napas.
“Guru yang pelit pujian.”
Kevin tidak menjawab.
Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Darrien tidak melihatnya.
Kemudian Kevin berkata,
“Ada sesuatu tentang sihirmu yang perlu kau pahami.”
Darrien menjadi serius.
“Apa?”
“Tubuhmu menghasilkan energi yang sangat padat.”
“Kenapa?”
“Itu yang sedang kita cari tahu.”
Kevin sengaja tidak menyebut darah Veyth.
Ia tidak boleh.
Belum.
“Jika kau mencoba mengeluarkan semuanya sekaligus, tubuhmu akan menerima tekanan.”
Darrien mengangguk.
“Jadi aku harus mengendalikannya.”
“Benar.”
Fiona bertanya,
“Apakah itu berbahaya?”
Kevin menatapnya.
“Jika dia ceroboh, ya.”
Darrien mengangguk.
“Aku akan berhati-hati.”
Kevin menatapnya cukup lama.
“Bagus.”
Ia kemudian menoleh kepada Fiona.
“Dan kau juga.”
Fiona berkedip.
“Aku?”
“Cahayamu memiliki sifat berbeda.”
Kevin memperhatikan telapak tangan Fiona.
“Jangan berpikir karena cahayamu lembut, berarti tidak berbahaya.”
Fiona menatap tangannya.
Kevin melanjutkan,
“Cahaya yang tidak terkendali bisa membakar.”
Fiona mengangguk.
“Jadi aku juga harus belajar mengendalikannya.”
“Benar.”
Darrien menatap Fiona.
“Kalau begitu kita belajar bersama.”
Fiona tersenyum.
“Ya.”
Kevin memandang mereka.
Dua anak.
Dua kekuatan.
Dan hubungan yang semakin kuat.
Ia tahu ada alasan mengapa kekuatan mereka dapat menyatu dengan begitu mudah.
Namun itu bukan sesuatu yang perlu diketahui mereka sekarang.
Untuk saat ini, mereka hanya perlu belajar.
Sore itu, Kevin memberikan latihan terakhir.
“Sepuluh kali.”
Darrien langsung mengeluh.
“Lagi?”
“Ya.”
Fiona tertawa.
“Semangat.”
Darrien menatapnya.
“Kalau kau menyemangatiku, aku harus menyelesaikannya.”
Kevin mengangkat alis.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun dalam hati, ia mulai memahami satu hal.
Jika ingin membuat Darrien berkembang…
tidak cukup hanya mengajarinya sihir.
Ia juga harus memahami apa yang membuat anak itu terus berdiri ketika sudah lelah.
Dan jawabannya…
tampaknya selalu berada tidak jauh darinya.
Seorang gadis bernama Fiona.
Share this novel