Series
94
BAB 13
SANG PENGEMBARA
Pria asing itu masih berdiri di antara pepohonan.
Tatapannya tenang, tetapi tidak pernah benar-benar lepas dari Darrien.
Darrien tetap berdiri di depan Fiona.
“Kami tidak punya urusan denganmu,” katanya hati-hati.
Pria itu mengangkat alis.
“Begitu?”
Ia melirik pakaian mereka yang berdebu, tas kecil yang mereka bawa, lalu melihat ke arah jalan di belakang mereka.
“Kalian terlihat seperti anak-anak yang baru saja melarikan diri.”
Fiona terdiam.
Darrien tidak menjawab.
Pria itu tersenyum tipis.
“Tidak perlu menjawab.”
Ia berbalik sedikit, seolah hendak pergi.
Namun tiba-tiba ia berhenti.
Tatapannya berubah.
“Kalian dengar itu?”
Darrien menegang.
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki.
Banyak.
Fiona langsung menggenggam tangan Darrien.
“Mereka…”
Darrien mengangguk pelan.
Ia mengenali suara itu.
Maria.
Mereka telah menemukan jejak mereka.
Pria Elf itu menatap ke arah pepohonan.
“Berapa banyak?”
“Entahlah,” jawab Darrien.
Ia menarik Fiona sedikit ke belakang.
“Kami harus pergi.”
“Tidak akan sempat.”
Darrien menatapnya.
“Apa?”
Pria itu menunjuk ke arah jalan.
“Kalau kalian berlari sekarang, mereka akan melihat kalian.”
Darrien terdiam.
Benar.
Suara langkah semakin dekat.
Kemudian terdengar suara seseorang berteriak.
“Cari di sekitar sungai!”
Fiona mulai gemetar.
Darrien menggenggam tangannya.
“Jangan takut.”
Pria Elf itu memperhatikan mereka berdua.
Kemudian ia menghela napas.
“Baiklah.”
Ia mengambil sebuah botol kecil dari tasnya.
Cairan berwarna biru pucat berkilau di dalamnya.
Fiona menatap penasaran.
“Itu apa?”
“Bukan waktunya bertanya.”
Pria itu membuka tutup botol.
Ia menuangkan sedikit cairan ke tanah.
Dalam sekejap, kabut tipis menyebar di antara pepohonan.
Aromanya seperti tanah basah setelah hujan.
Darrien terkejut.
“Apa yang kau lakukan?”
“Membuat mereka kehilangan jejak.”
Langkah kaki semakin dekat.
Beberapa pria muncul dari balik pepohonan.
“Itu mereka!”
Darrien langsung berdiri di depan Fiona.
Namun sebelum ia sempat bergerak, sang Elf mengangkat satu tangan.
Angin tiba-tiba berputar.
Daun-daun beterbangan.
Kabut semakin tebal.
Para pengejar terbatuk dan kehilangan arah.
“Apa—”
“Di mana mereka?!”
Salah satu dari mereka mencoba maju, tetapi akar pohon tiba-tiba terangkat dari tanah dan melilit kakinya.
Yang lain berusaha menyerang, namun hembusan angin kuat membuat mereka terjatuh.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Tidak ada pertarungan panjang.
Sang Elf hanya mengendalikan lingkungan di sekitarnya seolah hutan itu sendiri mendengarkan perintahnya.
Darrien terpaku.
Ia belum pernah melihat seseorang menggunakan sihir seperti itu.
Beberapa saat kemudian, para pengejar mundur dengan panik.
“Kita tidak bisa melihat apa-apa!”
“Tarik diri!”
Suara mereka perlahan menghilang.
Kabut mulai menipis.
Hutan kembali tenang.
Fiona menghela napas lega.
Darrien masih menatap pria itu.
“Kau… penyihir?”
Pria itu tertawa kecil.
“Bukan.”
Ia menunjuk telinganya sendiri.
Darrien baru menyadarinya.
Telinga pria itu sedikit lancip.
“Aku Elf.”
Fiona membelalakkan mata.
“Elf sungguhan?”
“Sejauh yang kuketahui.”
Fiona hampir tertawa karena jawabannya.
Darrien masih waspada.
“Kenapa kau membantu kami?”
Sang Elf menatap mereka berdua.
“Karena aku tidak suka melihat orang dewasa mengejar anak-anak.”
Ia mengangkat tasnya.
“Dan karena kalian jelas tidak tahu bagaimana cara melarikan diri dengan benar.”
Fiona menunduk malu.
Darrien mengerutkan kening.
“Kami tidak punya pilihan.”
“Aku tahu.”
Sang Elf tersenyum kecil.
“Kalau kalian mau selamat, kalian membutuhkan lebih dari sekadar kaki yang cepat.”
Darrien menatapnya.
Pria itu kemudian berjalan melewati mereka.
“Namaku Elarion.”
Ia berhenti beberapa langkah kemudian.
“Dan kalau kalian masih ingin hidup sampai besok pagi, sebaiknya ikut denganku.”
Share this novel