275. Sarapan Dengan Wajah Masam

Romance Series 382

BAB 275 — SARAPAN DENGAN WAJAH MASAM

Cahaya pagi perlahan masuk melalui jendela kamar Fiona.

Burung-burung terdengar berkicau dari taman.

Udara pagi Lunaris terasa segar.

Semuanya terlihat sempurna.

Semuanya terasa damai.

Kecuali satu orang.

Fiona membuka matanya.

“…Tidak.”

Ia langsung menarik selimut menutupi wajahnya.

Mimpi itu.

Lagi.

Wajah Darrien yang berbeda.

Cahaya aneh.

Kemudian—

darah.

Fiona mengerutkan kening di balik selimut.

“Aku tidak mau mengingatnya.”

Ia membuka mata lagi.

Kemudian menatap langit-langit.

“Aku bilang itu hanya mimpi.”

Hening.

Beberapa detik kemudian—

Fiona duduk.

Rambutnya sedikit berantakan.

Ekspresinya masam.

Ia menatap kosong ke depan.

“…Tetap saja menyebalkan.”

Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

***

Air dingin mengalir dari telapak tangannya.

Fiona membasuh wajahnya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian ia menatap pantulan dirinya di cermin.

“Lupakan.”

Ia membasuh wajahnya lagi.

“Lupakan.”

Sekali lagi.

“Lupakan.”

Ia mengangkat kepala.

“Sudah.”

Beberapa detik.

Kemudian—

“…Tapi kenapa terasa begitu nyata?”

Fiona langsung menggeleng.

“Tidak.”

Ia menunjuk pantulannya sendiri.

“Itu hanya mimpi.”

Pantulan Fiona menatapnya kembali.

Fiona mengangguk.

“Bagus.”

Kemudian—

perutnya berbunyi.

**Krrrrk.**

Fiona membeku.

Ia menatap perutnya.

“…Baiklah.”

Ia menghela napas.

“Mungkin aku harus sarapan.”

***

Tok.

Tok.

Tok.

Fiona baru saja selesai bersiap ketika pintu kamarnya diketuk.

“Yang Mulia Fiona?”

“Ya?”

Seorang pelayan berdiri di luar.

“Ratu Seraphine meminta Anda untuk menuju ruang makan.”

Fiona mengangguk.

“Baik.”

Pelayan itu tersenyum.

“Semua orang sudah menunggu.”

Fiona berhenti.

“…Semua?”

“Ya.”

Fiona berkedip.

“Sejak kapan?”

Pelayan itu terlihat sedikit bingung.

“Sarapan dimulai beberapa waktu lalu.”

Fiona terdiam.

“…Oh.”

Ia melihat jam kristal di dinding.

Matanya melebar.

“Sudah selama itu?”

Pelayan mengangguk.

Fiona langsung mempercepat langkahnya.

“Ayo.”

***

Beberapa menit kemudian—

pintu ruang makan terbuka.

Fiona masuk.

Dan langsung berhenti.

Semua orang sudah duduk.

Darrien.

Elarion.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Raja Zeith.

Ratu Seraphine.

Bahkan Sylvester dan Elyon juga ada.

Semua kepala langsung menoleh kepadanya.

Hening.

Fiona menatap mereka.

Mereka menatap Fiona.

Kemudian Ace tersenyum.

“Selamat pagi.”

Fiona membalas dengan senyum kecil.

“Pagi.”

Rowan memperhatikan wajahnya.

Kemudian—

menyipitkan mata.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Ace ikut memperhatikan.

“Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang.”

Fiona langsung menatapnya.

“Aku tidak.”

Ace mengangguk perlahan.

“Baik.”

Rowan berbisik,

“Dia pasti sedang lapar.”

Fiona mendengarnya.

“Aku tidak lapar.”

Perutnya berbunyi.

**Krrrrk.**

Semua orang terdiam.

Fiona menunduk.

“…Aku mungkin sedikit lapar.”

Darrien langsung menahan tawa.

Fiona menatapnya.

“Jangan.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Tapi kau tertawa.”

“Sedikit.”

Fiona duduk di kursinya.

“Jangan tertawa.”

Darrien langsung menutup mulut.

Namun bahunya masih bergerak.

Fiona memelototinya.

***

Seraphine tersenyum melihat mereka.

“Tidurmu nyenyak?”

Fiona terdiam sepersekian detik.

Mimpi itu kembali muncul di pikirannya.

Namun ia segera menggeleng.

“Lumayan.”

Seraphine memperhatikannya.

“Kau terlihat sedikit lelah.”

“Tidak apa-apa.”

Fiona mengambil cangkir tehnya.

“Sekarang sudah lebih baik.”

Darrien memperhatikannya.

Ia tidak bertanya.

Namun matanya sempat berhenti di wajah Fiona sedikit lebih lama.

Fiona menyadarinya.

“Apa?”

Darrien menggeleng.

“Tidak ada.”

“Kenapa melihatku?”

“Aku hanya memastikan kau baik-baik saja.”

Fiona terdiam.

Kemudian—

tersenyum kecil.

“Aku baik-baik saja.”

Darrien mengangguk.

“Bagus.”

***

Sarapan mulai berlangsung.

Dan dalam waktu kurang dari lima menit—

suasana kembali normal.

Ace mulai membicarakan tempat yang ingin dikunjungi.

Rowan sibuk memilih makanan.

Seraphine membicarakan taman.

Zeith berbicara dengan Elarion mengenai rencana mereka hari itu.

Kevin makan dengan tenang.

Fiona perlahan mulai melupakan mimpi buruknya.

Sampai—

Ace tiba-tiba berkata,

“Ngomong-ngomong, hari ini kita mau ke mana?”

Seraphine menjawab,

“Aku ingin membawa Fiona ke taman timur.”

Fiona langsung mengangkat kepala.

“Taman?”

Seraphine tersenyum.

“Ya.”

Mata Fiona langsung berbinar.

“Aku mau!”

Darrien tertawa kecil.

“Tadi wajahmu masih seperti ingin membunuh seseorang.”

Fiona menoleh.

“Sekarang aku tidak.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Rowan menambahkan,

“Makanan dan taman berhasil menyembuhkan suasana hatinya.”

Fiona menunjuk mereka.

“Kalian berdua…”

Ace langsung memasukkan makanan ke mulut.

Rowan pura-pura tidak mendengar.

Darrien tertawa.

Bahkan Seraphine ikut tertawa.

***

Elyon yang sejak tadi lebih banyak diam hanya memperhatikan Fiona.

Kemudian—

tanpa sengaja—

matanya turun ke pergelangan tangan Fiona.

Silver Leaf Bracelet.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada reaksi.

Hanya sebuah gelang perak sederhana.

Elyon kemudian mengalihkan pandangan.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Belum.

Sementara Fiona—

akhirnya mulai menikmati sarapannya.

Mimpi tadi perlahan menjauh dari pikirannya.

Setidaknya untuk saat ini.

Dan pagi pertama mereka di Lunaris kembali dipenuhi suara tawa.

Tidak ada yang tahu—

bahwa malam sebelumnya, sesuatu telah bereaksi di dalam Crystal Hall.

Tidak ada yang tahu—

bahwa sebuah buku tua dengan simbol Silver Leaf sedang menunggu untuk diteliti.

Dan Fiona sendiri—

sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya berada di tengah semua misteri itu.

Untuk saat ini—

ia hanya punya satu tujuan.

Menikmati sarapan.

Dan melihat taman Lunaris.

“Seraphine.”

“Ya?”

“Setelah taman…”

Fiona berpikir sebentar.

“…boleh kita mencari makanan lagi?”

Seraphine tertawa.

“Tentu.”

Darrien langsung menghela napas.

“Sudah kuduga.”

Fiona tersenyum puas.

“Ini liburan.”

Kevin mengangguk serius dari ujung meja.

“Benar.”

Darrien menatapnya.

“Jangan mendukungnya.”

Kevin menyeruput teh.

“Aku juga sedang menikmati liburan.”

Ace dan Rowan langsung tertawa.

Pagi itu—

untuk sementara—

Lunaris kembali terasa seperti tempat yang sangat damai.

Dan Fiona akhirnya tersenyum lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience