492. Tamu Yang Akhirnya Tiba

Romance Completed 594

BAB 492 — TAMU YANG AKHIRNYA TIBA

Istana Shadowcresent akhirnya terlihat jelas di hadapan mereka.

Setelah berhari-hari melewati pegunungan yang seolah tidak memiliki akhir, keenam anggota Veyth akhirnya berdiri di depan bangunan utama kerajaan vampire kuno itu.

Tidak ada lagi kabut tebal.

Tidak ada lagi jalan yang berubah.

Tidak ada lagi dimensi yang memisahkan mereka.

Yang tersisa hanya sebuah jalan batu hitam panjang yang mengarah langsung menuju gerbang utama istana.

Menara-menara tinggi menjulang di kedua sisi.

Dinding hitam tua berdiri kokoh, dipenuhi ukiran kuno yang tidak dapat mereka pahami sepenuhnya.

Beberapa tanaman merambat dengan bunga hitam tumbuh di sepanjang dinding, seolah istana itu sendiri telah hidup selama ribuan tahun.

Dan di atas semuanya—

bulan merah Shadowcresent menggantung di langit.

Darrien berhenti beberapa langkah dari gerbang.

Untuk sesaat, ia hanya menatap.

Istana itu jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya.

"Jadi..."

Ace mendongak sampai lehernya hampir sakit.

"Ini benar-benar istananya."

Kevin berdiri di sampingnya.

"Sepertinya begitu."

Ace menatapnya.

"Setelah semua yang kita lewati..."

Ia menghela napas.

"Entah kenapa aku malah merasa kita sedang masuk ke mulut naga."

Rowan menjawab datar.

"Karena mungkin memang begitu."

Ace langsung menoleh.

"Terima kasih. Aku sekarang jauh lebih tenang."

Elarion hanya menghela napas.

"Kalian berdua bisa tidak bicara selama lima detik?"

"Tidak."

Jawaban Ace terlalu cepat.

Elyon tertawa kecil.

Namun Darrien tidak ikut tertawa.

Matanya tetap tertuju pada pintu utama.

Fiona berada di balik sana.

Jantungnya berdetak lebih keras.

Tangannya perlahan mengepal.

"Aku akan membawanya pulang."

Kalimat itu sangat pelan.

Tetapi semua orang mendengarnya.

Tidak ada yang menjawab.

Mereka tahu betapa panjang perjalanan ini.

***

Pintu utama istana terbuka.

Seorang pria berdiri di sana.

Mufasa.

Ia berdiri tenang di ambang pintu, mengenakan pakaian bangsawan hitam khas Shadowcresent.

Tatapannya mengarah langsung kepada mereka.

Tidak ada ekspresi terkejut.

Tidak ada amarah.

Tidak ada rasa takut.

Seolah kedatangan mereka memang sudah diperkirakan sejak awal.

Ace langsung berhenti.

Tangannya refleks mendekati senjatanya.

"Dia..."

Kevin juga memasang kewaspadaan.

"Jangan bergerak dulu."

Elyon memperhatikan Mufasa dari kejauhan.

"Dia sendirian."

Elarion menyipitkan mata.

"Justru itu yang mencurigakan."

Rowan melihat ke belakang Mufasa.

Kosong.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada penyihir.

Tidak ada penjaga yang terlihat.

Ace berbisik.

"Setelah semua jebakan di gunung tadi..."

Ia menelan ludah.

"...kalian yakin kita mau masuk?"

Darrien tidak menjawab.

Mufasa hanya menatap mereka.

Lalu berkata dengan tenang.

"Kalian sudah datang."

Suaranya terdengar biasa.

Tidak ada ancaman.

Namun justru itu yang membuat mereka semakin curiga.

Kevin melangkah sedikit maju.

"Ini jebakan?"

Mufasa mengangkat alis.

"Tidak."

Ace langsung menyela.

"Jawaban itu terlalu cepat."

Mufasa menatap Ace.

"Kalau aku mengatakan ya, apakah kalian akan pulang?"

Ace terdiam.

"...Tidak."

"Kalau begitu tidak ada gunanya bertanya."

Ace membuka mulut.

Menutupnya kembali.

Kevin menahan tawa.

Elarion memijat pelipis.

Mufasa berbalik.

"Ikuti aku."

Darrien tetap berdiri.

"Kau tidak akan mencoba mengubah jalan?"

"Tidak."

"Memindahkan dimensi?"

"Tidak."

"Mengirim monster?"

"Tidak."

Ace menambahkan.

"Ilusi?"

Mufasa menatapnya.

"Tidak."

Ace menoleh kepada Kevin.

"...Aku mulai merasa kehilangan sesuatu."

Kevin berbisik.

"Jangan berharap."

Mufasa sudah berjalan masuk.

"Aku tidak memiliki alasan untuk menghentikan kalian lagi."

Kalimat itu membuat semua orang kembali serius.

Darrien akhirnya melangkah.

Satu demi satu, Veyth mengikuti Mufasa memasuki istana.

***

Di dalam istana.

Jauh dari gerbang utama—

Raizen sedang duduk di ruang pribadinya bersama Fiona.

Fiona terlihat jauh lebih sehat dibanding beberapa hari sebelumnya.

Demamnya telah berlalu.

Namun Raizen masih memperhatikannya dengan kewaspadaan berlebihan.

Fiona menatapnya sambil tersenyum kecil.

"Aku sudah sehat."

"Aku tahu."

"Tapi kau masih melihatku seperti aku akan pingsan kapan saja."

Raizen diam.

Fiona mendekat.

"Raizen."

"Hm?"

"Aku benar-benar baik-baik saja."

Raizen menatap wajahnya beberapa detik.

Kemudian menghela napas.

"Baiklah."

Fiona tersenyum puas.

"Bagus."

Raizen berdiri.

"Kalau begitu ikut aku."

"Ke mana?"

"Main hall."

Fiona berkedip.

"Kenapa?"

"Minum teh."

"Teh?"

Raizen mengangguk.

"Aku ingin menghabiskan sedikit waktu bersamamu."

Fiona tersenyum.

"Baik."

Mereka berjalan berdampingan menuju main hall.

Tidak ada pembicaraan penting.

Tidak ada perang.

Tidak ada masalah.

Hanya langkah kaki mereka di sepanjang koridor istana.

Untuk beberapa menit...

Raizen menikmati ketenangan itu.

Ia tahu Veyth sudah mencapai istana.

Ia tahu mereka akan segera tiba.

Dan ia juga tahu—

hari ini semuanya akan berakhir.

Mereka telah mengganggu ketenangannya terlalu lama.

Hari ini...

ia akan memastikan mereka tidak pernah mengganggu hari-harinya bersama Fiona lagi.

Raizen memasuki main hall bersama Fiona.

Sebuah meja teh telah disiapkan di dekat jendela besar.

Fiona duduk.

Raizen menuangkan teh untuknya.

Fiona menerima cangkir tersebut.

"Terima kasih."

Raizen duduk di hadapannya.

Mata mereka bertemu.

Fiona tersenyum.

Dan untuk beberapa saat—

tidak ada dunia di luar ruangan itu.

Tidak ada Veyth.

Tidak ada perang.

Tidak ada masa lalu.

Hanya mereka.

***

Di koridor utama.

Mufasa membawa Veyth semakin dekat ke main hall.

Langkah mereka bergema di lantai marmer hitam.

Semakin dekat mereka berjalan—

semakin sunyi suasananya.

Ace memperhatikan sekeliling.

"Ini terlalu tenang."

Rowan menjawab.

"Jangan mulai."

"Aku hanya mengatakan."

"Kau sudah mengatakan itu lima kali."

"Aku tetap tidak percaya."

Kevin menahan senyum.

Darrien tidak mengatakan apa pun.

Namun detak jantungnya semakin keras.

Mereka akhirnya berhenti di depan dua pintu besar.

Mufasa berbalik.

"Main hall."

Ia membuka kedua pintu.

Perlahan.

Pintu terbuka.

Cahaya dari dalam menyambut mereka.

Dan—

semua orang membeku.

Bukan karena jebakan.

Bukan karena monster.

Bukan karena sihir.

Tetapi karena pemandangan di hadapan mereka.

Di sisi lain ruangan—

Raizen berdiri sangat dekat dengan Fiona.

Fiona bersandar pada dinding.

Kedua lengannya melingkar santai di leher Raizen.

Wajah mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

Raizen menundukkan wajahnya.

Bibirnya hanya tinggal beberapa sentimeter dari bibir Fiona.

Fiona menatapnya.

Tidak menjauh.

Tidak menolak.

Justru menunggu.

Seolah mereka memang sedang berada di tengah-tengah sebuah momen yang sangat pribadi.

Dan tepat pada saat pintu terbuka—

Raizen berhenti.

Fiona juga menoleh.

Mata mereka bertemu dengan enam pasang mata dari Veyth.

...

...

...

Hening.

Tidak ada seorang pun bergerak.

Tidak ada seorang pun bernapas dengan normal.

Ace perlahan membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Kevin membeku.

Elarion berkedip sekali.

Elyon memalingkan wajah selama dua detik.

Rowan menatap langit-langit.

Darrien—

tidak bergerak sama sekali.

Matanya hanya tertuju kepada Fiona.

Fiona masih memegang leher Raizen.

Raizen masih berdiri sangat dekat dengannya.

Tidak ada yang berubah.

Mufasa berdiri di belakang Veyth.

Ia melihat pemandangan itu.

Kemudian melihat Veyth.

Kemudian kembali melihat Raizen dan Fiona.

Wajahnya tetap datar.

Seolah tidak ada sesuatu yang aneh sama sekali.

Ace akhirnya berbisik.

"...Kita salah pintu?"

Kevin langsung menyikutnya.

"Diam."

"Tapi—"

"Diam."

Elarion menarik napas panjang.

"Kita seharusnya mengetuk."

Rowan menjawab pelan.

"Pintunya sudah dibuka oleh Mufasa."

"Benar."

"Jadi secara teknis..."

Elarion memejamkan mata.

"Jangan lanjutkan."

Darrien masih diam.

Tatapannya tidak berpindah dari Fiona.

Fiona perlahan melepaskan kedua tangannya dari leher Raizen.

Wajahnya mulai memerah.

Ia menatap seluruh anggota Veyth.

Kemudian—

"Ah."

Hanya satu suara kecil.

Raizen juga akhirnya berdiri tegak.

Tatapan crimson-nya beralih kepada mereka.

Dingin.

Tenang.

Sangat tenang.

Terlalu tenang.

Mufasa berdiri di belakang mereka sambil berkata tanpa ekspresi—

"Selamat datang di Shadowcresent."

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Ace menatap Kevin.

Kevin menatap Rowan.

Rowan menatap Elarion.

Elarion menatap Elyon.

Elyon menatap Darrien.

Dan Darrien...

masih menatap Fiona.

Setelah perjalanan panjang mereka.

Setelah semua jebakan.

Setelah semua pertarungan.

Setelah semua penderitaan.

Setelah bertahun-tahun kehilangan.

Inilah hal pertama yang mereka lihat ketika akhirnya mencapai istana.

Darrien perlahan mengepalkan tangannya.

Bukan karena marah.

Bukan karena ingin menyerang.

Tetapi karena melihat Fiona berdiri di sana—

hidup.

tersenyum.

dan berada di dalam pelukan pria lain—

membuat seluruh perjalanan panjang itu terasa semakin nyata.

Sementara Raizen hanya menatap mereka dengan tenang.

Seolah berkata tanpa suara—

**Kalian akhirnya sampai.**

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Shadowcresent...

Veyth benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience