446. Ketika Kesabaran Raizen Habis

Romance Completed 594

BAB 446 — KETIKA KESABARAN RAIZEN HABIS

Malam telah turun di Starlight Falls.

Cahaya-cahaya kecil masih bergerak di antara air terjun, berkilauan seperti bintang yang jatuh terlalu rendah untuk kembali ke langit.

Fiona sudah mulai mengantuk.

Ia bersandar pada dada Raizen dengan mata setengah tertutup.

Raizen memeluknya dari belakang.

Tidak ada percakapan besar.

Tidak ada pembicaraan tentang kerajaan.

Mereka hanya duduk bersama.

Menikmati malam.

Sesekali Fiona menunjuk cahaya kecil yang bergerak di permukaan air.

"Yang itu..."

"Hm?"

"Sepertinya lebih terang."

Raizen melihat ke arah yang ditunjuknya.

"Benar."

"Kenapa?"

"Mungkin karena kau memperhatikannya."

Fiona menoleh sedikit.

"Itu rayuan lagi?"

"Mungkin."

Fiona tersenyum kecil.

"Dasar."

Ia kembali menyandarkan kepala.

Raizen tersenyum.

Namun beberapa saat kemudian...

senyum itu perlahan menghilang.

Tatapannya bergerak ke arah pegunungan yang jauh.

Ada sesuatu yang baru saja menyentuh indranya.

Sangat tipis.

Hampir tidak terasa.

Namun Raizen mengenalinya.

Energi Veyth.

Masih ada.

Masih bergerak.

Masih hidup.

Masih mencari.

Raizen diam cukup lama.

Fiona tidak menyadarinya.

"Raizen?"

"Hm?"

"Kau diam."

"Aku hanya berpikir."

"Tentang apa?"

Raizen menatapnya.

Kemudian menggeleng.

"Tidak penting."

Fiona tidak bertanya lagi.

Ia hanya kembali bersandar padanya.

Raizen menatap wajahnya.

Ketegangan di matanya perlahan menghilang.

Untuk beberapa detik.

Kemudian...

ia kembali merasakan energi itu.

Veyth.

Masih bergerak.

Raizen menghela napas.

"Mereka benar-benar tidak menyerah."

Fiona mengangkat kepala.

"Apa?"

"Ah?"

"Kau tadi mengatakan sesuatu."

Raizen tersenyum.

"Tidak ada."

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian menyipitkan mata.

"Kau aneh."

"Mungkin."

Ia mencium pelipis Fiona dengan lembut.

"Sudah malam. Tidurlah."

Fiona menguap.

"Baik."

Ia kembali bersandar.

Raizen menatap pegunungan.

Kali ini ekspresinya berubah.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa kesabarannya mulai menipis.

---

Keesokan harinya...

Mufasa datang membawa laporan.

Raizen berada di salah satu balkon istana.

Ia berdiri sendirian ketika Mufasa tiba.

"Yang Mulia."

Raizen tidak langsung menoleh.

"Mereka?"

Mufasa sudah tahu siapa yang dimaksud.

"Masih bergerak."

Hening.

Raizen akhirnya menoleh.

"Masih?"

"Ya."

Mufasa menghela napas.

"Mereka melewati jalur yang kami ubah tadi malam."

Raizen menatapnya.

"Bagaimana?"

"Mereka menemukan pola baru."

"Dan?"

"Mereka menyesuaikan diri."

Raizen diam.

Mufasa melanjutkan.

"Mereka tidak secepat sebelumnya."

"Tentu."

"Mereka lelah."

"Namun?"

"Mereka tetap berjalan."

Raizen menatap jauh.

"Mereka tidak tahu kapan harus berhenti."

Mufasa hampir tersenyum.

"Saya juga mulai berpikir begitu."

Raizen berbalik.

"Berapa banyak pertahanan luar yang sudah mereka lewati?"

"Sebagian besar."

"Berapa banyak yang tersisa?"

Mufasa terdiam sebentar.

"Kalau mereka terus seperti ini..."

Ia melihat peta.

"...tidak banyak."

Raizen tidak menjawab.

Ia hanya menatap peta tersebut.

Jalur-jalur pegunungan.

Jaringan ruang.

Titik-titik pertahanan.

Semua yang selama ini digunakan untuk menjaga Shadowcresent.

Veyth telah mempelajarinya.

Mereka gagal.

Belajar.

Gagal lagi.

Belajar lagi.

Dan sekarang...

mereka mulai memahami bahasa tempat ini.

Raizen mengetukkan satu jari pada meja.

Tok.

Tok.

Tok.

Mufasa memperhatikan.

"Yang Mulia?"

"Berapa lama lagi?"

"Mungkin satu atau dua hari."

Raizen berhenti mengetukkan jarinya.

Satu atau dua hari.

Itu jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

Ia menutup mata sesaat.

Kemudian membukanya kembali.

"Baik."

Mufasa menunggu.

Namun Raizen tidak mengatakan apa pun.

"Yang Mulia?"

"Biarkan."

Mufasa sedikit mengernyit.

"Biarkan mereka?"

"Ya."

Mufasa menatap Raizen dengan lebih serius.

"Anda ingin mereka terus maju?"

Raizen mengangguk.

"Jangan gunakan perangkap baru."

Mufasa terdiam.

"Jangan?"

"Jangan."

"Bagaimana dengan jalur luar?"

"Biarkan terbuka."

Mufasa akhirnya memahami bahwa ini bukan kelalaian.

Ini keputusan.

"Anda ingin mereka masuk."

"Ya."

"Ke wilayah dalam?"

"Ya."

Mufasa menatapnya lama.

"Apakah Anda yakin?"

Raizen menatapnya.

"Sudah waktunya."

---

Mufasa meninggalkan ruangan.

Namun sebelum pergi, ia masih memiliki satu pertanyaan.

"Yang Mulia."

Raizen mengangkat mata.

"Jika mereka menyerang..."

"Jangan bunuh mereka."

Mufasa mengangguk.

"Dan jika mereka menyerang Anda?"

Raizen tersenyum tipis.

"Biarkan mereka mencoba."

Mufasa tidak berkata apa-apa lagi.

Ia pergi.

Pintu tertutup.

Raizen berdiri sendirian.

Untuk beberapa saat...

ia hanya diam.

Kemudian ia berjalan menuju kamar Fiona.

Fiona sedang duduk di dekat jendela.

Ia menoleh ketika Raizen masuk.

"Kau selesai?"

"Ya."

"Urusan kerajaan?"

"Sedikit."

Fiona tersenyum.

"Capek?"

"Belum."

Raizen berjalan mendekat.

Fiona mengulurkan tangan.

Raizen langsung menggenggamnya.

Tidak ada yang aneh.

Namun di dalam pikirannya...

sebuah keputusan telah dibuat.

Veyth akan datang.

Darrien akan datang.

Dan kali ini...

Raizen tidak akan menghentikan mereka di gunung.

Ia akan membiarkan mereka melewati pertahanan.

Membiarkan mereka melihat istana.

Membiarkan mereka percaya bahwa mereka akhirnya berhasil.

Karena Raizen ingin mengetahui sesuatu.

Bukan seberapa kuat Darrien.

Bukan seberapa jauh Veyth bisa berjalan.

Ia sudah mengetahui cukup banyak tentang itu.

Yang ingin ia lihat adalah Fiona.

Bagaimana Fiona akan bereaksi ketika melihat Darrien.

Apakah ia akan mengenalinya?

Apakah hatinya akan berubah?

Apakah tubuhnya akan bereaksi sebelum pikirannya?

Atau...

apakah ritual Raizen benar-benar telah menghapus tempat Darrien dari dalam dirinya?

Raizen tidak pernah benar-benar mendapatkan jawabannya.

Fiona sendiri tidak pernah memberikan kesempatan untuk menguji hal itu.

Sampai sekarang.

Raizen tahu ada risiko.

Namun ia tidak berniat menyerahkan Fiona begitu saja.

Kalau Darrien menyerang...

Raizen bisa menghentikannya.

Kalau Veyth mencoba mengambil Fiona...

Raizen bisa menghentikan mereka.

Dan jika Fiona sendiri memilih untuk mendekati Darrien...

Raizen ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Ia tidak mau lagi hanya menebak.

Ia ingin tahu.

---

Hari mulai sore.

Fiona berada di taman.

Raizen duduk bersamanya di bawah pohon tua.

Fiona memegang sebuah buku kecil.

Namun tidak benar-benar membacanya.

Ia lebih sering memperhatikan bunga di sekitarnya.

Raizen memandangnya.

"Fiona."

"Hm?"

"Kalau suatu hari kau menemukan seseorang dari masa lalumu..."

Fiona menoleh.

Raizen berhenti.

Ia hampir melanjutkan.

Namun kemudian ia mengubah pertanyaannya.

"...apa kau akan mengingatnya?"

Fiona mengerutkan kening.

"Entahlah."

Jawaban sederhana.

Namun cukup membuat Raizen diam.

Fiona menatapnya.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Tidak ada alasan khusus."

Fiona tersenyum.

"Kau memang aneh hari ini."

Raizen tersenyum balik.

"Mungkin."

Fiona kemudian kembali melihat bukunya.

Tidak memikirkan pertanyaan itu lagi.

Raizen justru terus memikirkannya.

Ia menatap Fiona cukup lama.

Lalu tersenyum tipis.

"Sebentar lagi."

Ia mengatakannya begitu pelan hingga Fiona tidak mendengar.

Sebentar lagi...

ia akan mendapatkan jawabannya.

---

Malam tiba.

Raizen kembali duduk bersama Fiona.

Ia menarik Fiona ke dalam pelukannya.

Fiona bersandar padanya seperti biasa.

Tidak tahu bahwa jauh di pegunungan...

Veyth sedang mendekati batas terakhir.

Tidak tahu bahwa jalan yang selama ini begitu sulit...

sebentar lagi akan terasa anehnya mudah.

Raizen menutup matanya.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari...

ia tidak merasa terganggu oleh kedatangan Veyth.

Justru sebaliknya.

Ia menunggu.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Datanglah."

Kali ini suaranya terdengar jelas.

Fiona mengangkat kepala.

"Apa?"

Raizen menatapnya.

"Tidak ada."

Ia memeluknya sedikit lebih erat.

Fiona tidak curiga.

Ia kembali bersandar.

Dan Raizen tersenyum.

Karena permainan yang sebenarnya...

baru akan dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience