Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 410 — DI BAWAH BULAN YANG SAMA
Shadowcresent—
Hari perlahan mulai berakhir.
Matahari yang sejak pagi menggantung di atas wilayah vampire akhirnya bergerak semakin rendah.
Cahaya keemasan perlahan menghilang dari taman.
Fiona masih berada di sana.
Ia tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat.
Sejak pertama kali datang—
ia telah berjalan melewati hampir seluruh bagian taman.
Mawar hitam.
Pohon-pohon tua.
Kolam gelap.
Jalur batu yang dipenuhi bunga-bunga asing.
Bahkan beberapa kali ia berhenti hanya untuk memperhatikan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Fiona akhirnya berdiri di dekat kolam.
Ia melihat pantulan dirinya di permukaan air.
“Sudah sore…”
Raizen berdiri tidak jauh darinya.
“Ya.”
Fiona menoleh.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Kau terlihat menikmatinya.”
Fiona terdiam.
Kemudian mengerutkan kening.
“Aku hanya melihat-lihat.”
Raizen mengangguk.
“Aku tahu.”
Fiona mendengus.
“Jangan salah paham.”
Raizen tidak menjawab.
Fiona kembali melihat taman.
Namun kali ini—
ia tidak menyangkalnya.
Ia memang menyukai tempat ini.
Ada sesuatu yang tenang di dalam taman tersebut.
Sesuatu yang berbeda dari Veyth.
Berbeda dari Lunaris.
Gelap—
namun tidak terasa menakutkan.
Fiona menarik napas perlahan.
“Kalau aku bisa menggunakan magicure…”
Ia menatap bunga hitam di dekatnya.
“…aku ingin tahu apakah aku bisa membuat bunga seperti ini tumbuh di Veyth.”
Raizen menatapnya.
“Bisa.”
Fiona menoleh.
“Kau yakin?”
“Magicure-mu cukup kuat.”
Fiona terdiam.
Ia kemudian tersenyum kecil.
“Hmm…”
Namun segera mengingat sesuatu.
“Sayangnya, kau menyegel magicure-ku.”
Raizen hanya menjawab,
“Benar.”
Fiona memandangnya.
“Kau memang menyebalkan.”
Raizen tidak membantah.
***
Matahari akhirnya benar-benar menghilang.
Langit Shadowcresent berubah menjadi warna marun gelap.
Raizen kemudian berkata,
“Kita kembali.”
Fiona mengangguk.
Mereka berjalan meninggalkan taman.
Pintu kayu hitam yang dihiasi ukiran bulan sabit kembali terlihat di hadapan mereka.
Fiona berhenti sebentar.
Ia menatap ukiran tersebut sekali lagi.
Kemudian mengikuti Raizen.
Mereka berjalan melewati koridor panjang.
Lampu-lampu bulan sabit di dinding mulai menyala satu demi satu.
Cahaya merah tua menyelimuti lorong.
Fiona memperhatikan semuanya.
“Kalian benar-benar tidak menggunakan kristal?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Sudah menjadi bagian dari Shadowcresent.”
Fiona mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Namun matanya terus mengamati.
***
Akhirnya—
mereka tiba di depan kamar Raizen.
Raizen berhenti.
Fiona juga berhenti.
Raizen membuka pintu.
Fiona masuk.
Namun sebelum ia melangkah lebih jauh—
Raizen tidak ikut masuk.
Fiona menoleh.
“Kau tidak masuk?”
“Aku ada urusan.”
Fiona mengangkat alis.
“Di mana?”
“Ruang kerja.”
Fiona melihat ke dalam kamar.
Kemudian kembali menatapnya.
“Jadi aku sendirian?”
“Ya.”
Fiona terdiam.
Kemudian mengangkat bahu.
“Bagus.”
Karachi menatapnya.
Fiona langsung menambahkan,
“Bukan berarti aku tidak ingin kau masuk.”
Ia berhenti.
“Maksudku…”
Fiona mendengus.
“Ah, sudahlah.”
Raizen hanya menatapnya beberapa detik.
Kemudian—
ia berbalik.
“Beristirahatlah.”
Fiona melihat punggungnya.
“Raizen.”
Raizen berhenti.
“Ya?”
Fiona mengangkat kedua tangannya.
Segel masih berada di sana.
“Jangan berharap aku menyerah.”
Raizen menatapnya dari balik bahu.
“Aku tidak berharap begitu.”
Kemudian ia pergi.
Langkahnya menghilang di sepanjang koridor.
Fiona menatap punggungnya sampai sosok itu menghilang.
Pintu kamar tertutup perlahan.
***
Fiona berdiri sendirian.
Ia berjalan menuju jendela.
Tirai panjang digeser.
Pemandangan malam Shadowcresent terbentang di hadapannya.
Langit berwarna marun gelap.
Tidak seperti langit malam Veyth.
Tidak seperti Lunaris.
Di kejauhan—
bulan sabit berwarna merah menggantung di antara awan tipis.
Fiona duduk di dekat jendela.
Ia menarik kedua lututnya sedikit.
Tatapannya tertuju pada bulan.
“Darrien…”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Fiona tersenyum kecil.
“Aku merindukanmu.”
Satu air mata jatuh.
Ia segera menghapusnya.
“Cepatlah…”
Suaranya bergetar.
“…datang dan selamatkan aku.”
Fiona menatap bulan lebih lama.
“Aku tahu kau akan datang.”
Air mata kembali jatuh.
Namun kali ini—
ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya.
Karena tidak ada seorang pun di kamar itu yang melihat.
Tidak ada seorang pun yang mendengar.
Hanya dirinya—
dan bulan merah di langit Shadowcresent.
***
RUANG KERJA RAIZEN.
Pintu tertutup.
Raizen duduk sendirian di belakang meja.
Sebuah dokumen terbuka di hadapannya.
Beberapa laporan tersusun rapi.
Namun—
tidak satu pun kata benar-benar masuk ke pikirannya.
Tatapannya berada di atas halaman.
Diam.
Tidak bergerak.
Tangannya bahkan tidak membalik satu halaman pun.
Pikirannya justru kembali kepada taman.
Fiona.
Cara ia melihat bunga-bunga hitam.
Rasa ingin tahunya terhadap tempat itu.
Senyumnya yang muncul tanpa sadar.
Kemudian—
percakapan mereka.
Raizen mengingat satu hal.
Fiona tidak memohon.
Ketika ia menolak membuka segelnya—
Fiona hanya menghela napas.
Kemudian menerima jawabannya.
Tidak menangis.
Tidak memohon.
Tidak berusaha membuatnya berubah pikiran.
Raizen menyandarkan tubuhnya.
“…”
Ia menatap kosong ke depan.
Mengapa?
Mengapa perempuan itu begitu tenang?
Magicure-nya telah disegel.
Ia berada di wilayah asing.
Ia telah dipisahkan dari orang yang dicintainya.
Namun—
ia masih memiliki keyakinan yang sama.
*Darrien akan datang.*
Raizen menurunkan pandangan kepada dokumen.
Namun tetap tidak membaca.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
sebuah laporan kerajaan gagal menarik perhatiannya.
Raizen menutup dokumen tersebut.
Ia berdiri.
Kemudian berjalan menuju jendela ruang kerjanya.
Langit Shadowcresent terlihat dari sana.
Bulan sabit merah masih menggantung.
Raizen menatapnya.
Entah mengapa—
bayangan Fiona kembali muncul dalam pikirannya.
***
VEYTH.
Malam telah tiba.
Halaman istana jauh lebih tenang.
Darrien berdiri sendirian.
Pedangnya telah disimpan.
Latihan hari itu sudah selesai.
Namun ia belum kembali ke kamarnya.
Ia berdiri di bawah langit malam.
Tatapannya tertuju kepada bulan.
Bulan yang sama—
meskipun ia tidak mengetahuinya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Fiona.
“Apakah kau baik-baik saja?”
Tidak ada jawaban.
Darrien menarik napas.
Tangannya mengepal.
“Kau pasti masih menungguku.”
Ia memandang langit.
“Kami akan menemukan lokasinya.”
Namun sampai sekarang—
mereka masih belum memiliki jawaban pasti tentang Shadowcresent.
Darrien menghela napas.
Ia benci menunggu.
Terutama ketika seseorang yang ia cintai berada jauh di tempat yang tidak dapat ia jangkau.
Ia mengingat barrier itu.
Tatapan Fiona.
Tangannya yang hampir menyentuh tangan Fiona.
Kemudian—
Raizen mengambilnya.
Darrien menutup matanya.
“Fiona…”
Ia membuka mata kembali.
“Aku akan datang.”
Ia tidak tahu kapan.
Tidak tahu bagaimana.
Namun ia tahu satu hal.
Ia tidak akan berhenti.
***
Di Shadowcresent—
Fiona masih duduk di dekat jendela.
Di Veyth—
Darrien masih berdiri di bawah langit malam.
Dan di ruang kerjanya—
Raizen masih menatap bulan.
Tiga orang.
Tiga pikiran.
Satu malam.
Namun hanya dua dari mereka yang memikirkan orang yang sama dengan perasaan yang sama sekali berbeda.
Dan tanpa mereka sadari—
bulan merah Shadowcresent menggantung di langit yang sama dengan bulan Veyth.
Terpisah oleh jarak.
Terpisah oleh kerajaan.
Terpisah oleh kekuatan.
Namun tetap—
di bawah bulan yang sama.
