Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BONUS CHAPTER — SENYUMAN YANG AKHIRNYA MENJADI MILIKNYA
Hari itu—
Veyth dipenuhi cahaya.
Bendera-bendera putih dan emas berkibar di sepanjang jalan menuju taman kerajaan.
Bunga-bunga memenuhi setiap sudut.
Musik lembut terdengar dari kejauhan.
Para bangsawan, penyihir, elf, penjaga kerajaan, dan teman-teman terdekat mereka memenuhi taman yang telah dihias untuk satu hari yang telah lama ditunggu.
Hari pernikahan Fiona dan Darrien.
Tidak ada perang.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada sihir kuno yang harus dihentikan.
Tidak ada kerajaan yang berada di ambang kehancuran.
Hari itu hanya milik mereka.
Fiona berdiri di ujung taman.
Gaun putihnya bergerak perlahan tertiup angin.
Rambutnya dihiasi bunga-bunga kecil.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut.
Melainkan karena bahagia.
Di ujung jalan—
Darrien menunggunya.
Ketika mata mereka bertemu—
Darrien tersenyum.
Fiona membalasnya.
Dan tiba-tiba, semua suara di sekelilingnya terasa menghilang.
Yang tersisa hanya dia.
Darrien.
Pria yang telah mencarinya.
Menunggunya.
Bertarung untuknya.
Dan pada akhirnya—
membiarkannya memilih dengan kehendaknya sendiri.
Fiona berjalan mendekatinya.
Setiap langkah terasa ringan.
Ketika akhirnya berdiri di hadapannya, Darrien mengulurkan tangan.
Fiona menggenggamnya.
“Gugup?”
Darrien bertanya pelan.
Fiona tersenyum.
“Sedikit.”
Darrien tertawa kecil.
“Aku juga.”
Fiona menatapnya tidak percaya.
“Kau?”
“Kenapa?”
“Kau biasanya tidak takut apa pun.”
Darrien mendekat sedikit.
“Karena kali ini aku takut membuat kesalahan.”
Fiona tertawa kecil.
“Kau sudah terlalu banyak membuat kesalahan.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Mereka tertawa.
Dan di antara para tamu—
Ace langsung berbisik kepada Rowan.
“Lihat? Mereka bahkan masih sempat bercanda.”
Rowan menghela napas.
“Biarkan mereka.”
Kevin berdiri di samping mereka.
“Yang penting setelah ini Darrien masih harus latihan.”
Ace menoleh.
“Ini pernikahannya.”
“Justru setelah menikah dia harus lebih kuat.”
Rowan menatap Kevin.
“Tidak.”
Kevin mengerutkan kening.
“Tidak apa?”
“Tidak ada Version 7.”
Kevin terdiam.
Ace tersenyum.
“Untuk hari ini, biarkan pengantin pria hidup.”
Kevin mendengus.
“Baiklah.”
Untuk sementara.
---
Di tempat yang sangat jauh dari taman—
sebuah bayangan berdiri di antara pepohonan.
Raizen.
Tidak ada seorang pun di sana bersamanya.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada Mufasa.
Tidak ada pasukan Shadowcresent.
Hanya dirinya.
Dia datang tanpa memberitahu siapa pun.
Tidak untuk menghentikan pernikahan.
Tidak untuk mengambil Fiona kembali.
Dia hanya ingin melihat.
Melihatnya sekali lagi.
Dari kejauhan, melalui pepohonan dan sihir penglihatan yang sangat halus—
Raizen melihat taman Veyth.
Dan kemudian—
dia melihat Fiona.
Raizen terdiam.
Untuk beberapa saat, dia bahkan tidak bernapas.
Fiona tertawa.
Tawa yang dulu pernah memenuhi taman mawar hitamnya.
Tawa yang pernah dia dengar ketika Fiona menemukan makanan kesukaannya.
Ketika Fiona melihat bunga-bunga.
Ketika mereka berjalan di tepi danau.
Ketika mereka menari di bawah bulan merah.
Tawa itu masih sama.
Tetapi hari ini—
tawa itu terdengar berbeda.
Lebih ringan.
Lebih bebas.
Lebih bahagia.
Raizen menatapnya lama.
Kemudian matanya berpindah kepada Darrien.
Pria itu berdiri di sisi Fiona.
Menggenggam tangannya.
Dan untuk pertama kalinya—
Raizen tidak merasa ingin memisahkan mereka.
Dia hanya menatap.
Menyaksikan Fiona tersenyum kepadanya.
Raizen menundukkan kepala sedikit.
“Jadi... kau benar-benar bahagia.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Bukan senyum seorang raja.
Bukan senyum seseorang yang menang.
Hanya senyum seseorang yang akhirnya menerima kenyataan.
Dia pernah memiliki bagian dari hidup Fiona.
Dan sekarang—
bagian itu telah berakhir.
Tetapi kenangan itu tidak harus menjadi sesuatu yang dia sesali.
Raizen kembali melihat Fiona.
Dia tertawa lagi.
Kali ini bahkan lebih keras karena sesuatu yang dikatakan Darrien.
Raizen ikut tersenyum.
“Bagus.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Begitu seharusnya.”
Angin bergerak.
Jubah hitamnya berkibar.
Raizen mundur satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Dia tidak ingin Fiona mengetahui bahwa dia ada di sana.
Hari ini bukan miliknya.
Hari ini adalah milik Fiona.
Dan Darrien.
Raizen menatap mereka untuk terakhir kalinya.
“Selamat...”
Dia berhenti.
Senyumnya menjadi sedikit lebih dalam.
“...Fiona.”
Kemudian—
dia berbalik.
Dan berjalan pergi.
Tanpa melihat ke belakang.
---
Di taman—
Fiona tiba-tiba berhenti.
Darrien menoleh.
“Kenapa?”
Fiona melihat ke arah pepohonan.
Entah kenapa—
untuk sesaat dia merasa seperti sedang diperhatikan.
Angin menyentuh rambutnya.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Sesuatu yang jauh.
Sebuah taman.
Mawar hitam.
Bulan merah.
Seseorang yang pernah mencintainya dengan caranya sendiri.
Fiona tersenyum kecil.
Dia tidak tahu kenapa.
Tetapi dia tidak merasa sedih.
Dia hanya mengembuskan napas.
Kemudian kembali melihat Darrien.
“Tidak apa-apa.”
Darrien menggenggam tangannya.
“Kita?”
Fiona tersenyum.
“Kita.”
Mereka kembali berjalan.
Menuju altar.
Menuju kehidupan baru.
Dan jauh di belakang mereka—
sebuah bayangan menghilang di antara pepohonan.
Raizen tidak mengambil apa pun.
Tidak meminta apa pun.
Dia hanya membawa satu hal bersamanya.
Kenangan tentang seorang wanita yang pernah membuat kerajaan yang sunyi terasa hidup.
Dan hari itu—
untuk pertama kalinya—
dia tidak berharap Fiona kembali.
Dia hanya berharap Fiona terus tertawa.
Karena ternyata—
melihat orang yang pernah dia cintai bahagia...
sudah cukup.
Di bawah langit Veyth yang cerah—
Fiona tertawa sekali lagi.
Dan Raizen terus berjalan.
Meninggalkan suara itu di belakangnya.
Bukan sebagai luka.
Melainkan sebagai kenangan terindah yang pernah dia miliki.
**TAMAT.**
