Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 495 — SUARA YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
DUARRRR!
Benturan kedua kekuatan mengguncang seluruh main hall.
Tubuh Darrien dan Raizen kembali terpental ke arah berlawanan.
Sepatu Darrien menggesek lantai marmer hingga meninggalkan dua garis panjang.
Ia menahan tubuhnya dengan satu tangan.
Napasnya berat.
Di hadapannya, Raizen hanya bergeser beberapa langkah.
Tidak lebih.
Raizen mengangkat wajah.
Tatapan crimson-nya semakin tajam.
"Menarik."
Darrien berdiri kembali.
"Apa?"
"Serangan pertamaku seharusnya menghancurkan pertahananmu."
Raizen mengusap sedikit debu dari bahunya.
"Ternyata aku salah menilaimu."
Darrien mengangkat dagu.
"Aku juga tidak datang ke sini dengan kekuatan yang sama seperti sebelumnya."
"Benarkah?"
Raizen tersenyum tipis.
"Kalau begitu tunjukkan."
Darrien langsung bergerak.
Kakinya menghantam lantai.
Tubuhnya melesat ke depan.
Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Raizen.
Tinju kanan Darrien meluncur.
Raizen mengangkat lengannya.
BUUM!
Kedua kekuatan bertabrakan.
Raizen memutar tubuhnya dan melepaskan serangan siku.
Darrien menundukkan kepala.
Serangan itu melewati rambutnya.
Darrien membalas dengan tendangan ke arah rusuk.
Raizen menahan dengan satu tangan.
Namun kekuatan tendangan itu tetap membuat tubuhnya bergeser.
Darrien tidak memberinya kesempatan.
Satu pukulan.
Dua.
Tiga.
Serangan bertubi-tubi menghujani Raizen.
Raizen menangkis semuanya.
Gerakan keduanya begitu cepat hingga suara benturan terdengar seperti rentetan ledakan kecil.
DUK!
BRAK!
BUUM!
Fiona berdiri di balik penghalang.
Matanya mengikuti mereka.
Namun semakin lama ia melihat Darrien bergerak—
semakin aneh perasaannya.
Gerakan itu...
Entah mengapa terasa familiar.
Bukan karena ia pernah melihatnya di dunia nyata.
Tidak.
Ia yakin belum pernah bertemu pria itu.
Tetapi tubuhnya seperti mengingat sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh pikirannya.
Darrien berputar.
Rambutnya bergerak mengikuti tubuhnya.
Ia menghindari serangan Raizen dengan gerakan yang sangat mirip dengan—
Fiona tiba-tiba memegang kepalanya.
"Akh..."
Sebuah gambaran muncul.
Danau.
Malam.
Seorang pria berdiri membelakanginya.
Fiona berkedip.
Gambaran itu hilang.
Ia menarik napas.
"Kenapa..."
Tangannya turun perlahan.
Ia menatap Darrien.
Pria itu kembali bergerak.
Dan ketika ia berbicara—
"Fiona!"
Suara itu terdengar jelas.
Jantung Fiona berhenti sesaat.
Suara itu.
Suara yang sama.
Suara yang selalu muncul dalam mimpinya.
Suara yang pernah mengatakan kepadanya agar ia tidak khawatir.
Suara yang pernah mengingatkannya agar tidak jatuh sakit.
Fiona menatap Darrien dengan mata melebar.
"Tidak mungkin..."
Ia berbisik.
"Bagaimana bisa..."
Pria dari mimpinya—
ada di sini.
Benar-benar ada.
Dan sedang bertarung melawan Raizen.
Fiona menggeleng pelan.
"Tidak."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Itu hanya mimpi."
Ia menutup matanya sebentar.
"Dia hanya kebetulan memiliki suara yang sama."
Namun dadanya tidak mempercayainya.
***
Di tengah ruangan—
Darrien dan Raizen kembali berhadapan.
Raizen tiba-tiba mengangkat tangannya.
Puluhan bilah sihir hitam terbentuk di udara.
Darrien menatap ke atas.
Bilah-bilah itu turun sekaligus.
SHRAAAK!
Darrien melompat.
Satu bilah melewati bahunya.
Yang kedua ia hindari dengan memutar tubuh.
Yang ketiga ia hancurkan dengan satu pukulan.
Yang keempat—
BRAK!
Darrien menendangnya hingga pecah menjadi partikel hitam.
Namun Raizen sudah berada di belakangnya.
Darrien merasakan tekanan di belakang lehernya.
Ia menunduk.
Tangan Raizen melintas di atas kepalanya.
Darrien berbalik dan menghantamkan siku.
Raizen menahan.
Keduanya kembali bertukar serangan dalam jarak sangat dekat.
Tidak ada ruang.
Tidak ada waktu.
Hanya gerakan.
Pukulan.
Tangkisan.
Sihir.
Dan kekuatan fisik.
Raizen akhirnya menangkap pergelangan tangan Darrien.
"Kau terlalu fokus pada kecepatanku."
Darrien menyeringai tipis.
"Dan kau terlalu fokus pada kekuatanku."
Ia memutar pergelangan tangannya.
Magicure meledak dari telapak tangannya.
DUARR!
Raizen terpaksa melepaskan pegangan.
Darrien langsung mundur.
Keduanya kembali mengambil jarak.
Raizen mengusap sudut bibirnya.
Ada sedikit darah.
Ia melihatnya.
Kemudian tertawa pelan.
"Sudah lama sekali."
Darrien mengerutkan kening.
"Sejak kapan kau bisa menikmati pertarungan?"
"Sejak seseorang datang dan membuat hidupku jauh lebih berisik."
Raizen melirik Fiona.
Darrien mengikuti pandangannya.
Fiona masih berdiri di balik penghalang.
Mata mereka bertemu.
Sekali lagi.
Darrien membeku.
Dan Fiona juga.
Untuk sesaat—
semuanya terasa sunyi.
Tatapan Darrien.
Cara ia memandangnya.
Entah kenapa...
begitu sedih.
Begitu familiar.
Seolah pria itu sedang melihat seseorang yang telah hilang darinya selama waktu yang sangat lama.
Bukan seseorang yang baru ditemuinya.
Tetapi seseorang yang telah ia cari.
Fiona tanpa sadar melangkah mendekati batas penghalang.
Tangannya terangkat.
Hampir menyentuh permukaannya.
"Darrien..."
Nama itu hampir keluar dari bibirnya.
Namun ia berhenti.
Fiona mengerutkan kening.
"Siapa..."
Ia bahkan tidak tahu mengapa nama itu muncul di kepalanya.
***
Di dalam ruang mimpi yang tersegel—
dua tiny elf mendengar suara samar.
Mereka menoleh bersamaan.
Kristal itu kembali bergetar.
*Krek.*
Tiny elf pertama menatap retakan yang baru muncul.
"Dia mulai mendengar suaranya."
Tiny elf kedua mengangguk cepat.
"Dan mulai mengenali wajahnya."
"Kita harus menjaga segelnya."
Tiny elf kedua menatap kristal.
"Tapi bagaimana?"
Ia menunjuk retakan.
"Kenangannya sudah mulai menemukan jalan sendiri."
Tiny elf pertama menggigit bibirnya.
Mereka tidak dapat menghentikan sesuatu yang sudah mulai bergerak dari dalam.
*Krek...*
Retakan berikutnya muncul.
Cahaya keemasan merembes keluar.
***
Main hall.
Raizen tiba-tiba menyerang kembali.
Darrien mengangkat lengannya.
BUUM!
Kekuatan mereka bertabrakan begitu keras hingga seluruh lantai bergetar.
Raizen mendorong.
Darrien menahan.
Keduanya saling menatap dari jarak sangat dekat.
"Kau tidak akan membawanya pergi."
Raizen berbicara dengan suara rendah.
Darrien menjawab.
"Aku akan membawanya kembali."
"Dia sudah memilihku."
"Dia tidak memilih."
Tatapan Raizen menjadi dingin.
"Apa maksudmu?"
Darrien menahan tekanan di lengannya.
"Dia tidak mengingatku."
Hening sepersekian detik.
Darrien melanjutkan.
"Itu bukan berarti dia tidak pernah mencintaiku."
Raizen terdiam.
Kata-kata itu mengenai sesuatu yang tidak ingin ia dengar.
Darrien mendorong balik.
Magicure meledak dari tubuhnya.
Raizen terdorong beberapa meter.
Darrien langsung mengejar.
Raizen mengangkat tangannya.
Sebuah dinding sihir muncul.
Darrien menghantamnya.
BRAAAK!
Dinding itu retak.
Raizen mengerutkan mata.
Darrien terus menekan.
Satu pukulan.
Retakan semakin besar.
Pukulan kedua.
BRAK!
Dinding sihir pecah.
Darrien melesat melewatinya.
Raizen sudah menunggunya.
Tinju mereka bertemu.
DUARRRR!
Gelombang energi menyapu ruangan.
Penghalang Fiona bergetar.
Namun tidak pecah.
Fiona memegang dadanya.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Suara Darrien.
Tatapannya.
Siluetnya.
Semuanya mulai bertumpuk dengan potongan-potongan mimpi yang selama ini tidak ia pahami.
Dan untuk pertama kalinya—
Fiona mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
*Bagaimana mungkin seseorang yang tidak kukenal...*
*...terlihat persis seperti pria yang selalu datang dalam mimpiku?*
Matanya perlahan berkaca.
Ia tidak tahu mengapa.
Ia bahkan tidak tahu untuk siapa air mata itu.
Namun jauh di dalam dirinya—
sebuah kenangan telah mulai mengetuk pintu.
Dan pintu itu...
perlahan mulai terbuka.
***
Di luar kesadarannya—
*KRAK.*
Retakan besar membelah kristal.
Kedua tiny elf mundur.
Cahaya keemasan memenuhi ruangan.
Mereka menatap kristal dengan ketakutan.
Karena kali ini...
retakannya jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Dan dari balik cahaya itu—
sebuah suara perempuan terdengar sangat samar.
"...Darrien."
