Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 474 — DI BALIK KEGELAPAN
Gelap.
Gelap di mana-mana.
Di depan.
Di belakang.
Di samping.
Di atas.
Di bawah.
Tidak ada apa pun.
Darrien berdiri di tengah kegelapan yang tidak memiliki ujung.
Namun...
ia masih bisa merasakan dirinya sendiri.
Ia bisa merasakan tubuhnya.
Napasnya.
Detak jantungnya.
Bahkan denyut magicure yang mengalir di dalam tubuhnya.
Tetapi selain itu—
tidak ada apa-apa.
Darrien menundukkan kepalanya.
Ia bahkan tidak tahu apakah kedua kakinya benar-benar menyentuh sesuatu.
Tidak ada lantai.
Tidak ada tanah.
Tidak ada permukaan yang bisa dirasakan.
"Di mana..."
Ia mengangkat satu kakinya perlahan.
Lalu melangkah ke depan.
Tidak jatuh.
Tidak tenggelam.
Tidak ada perubahan apa pun.
Darrien mengerutkan kening.
Ia mencoba melangkah sekali lagi.
Kemudian sekali lagi.
Tetap sama.
Seolah-olah ruang di sekitarnya tidak memiliki konsep jarak.
Ia berhenti.
Mengangkat tangannya sendiri.
Magicure perlahan mengalir keluar dari telapak tangannya.
Aura gelap berpendar samar di tengah kegelapan.
Darrien memperhatikan cahaya itu dengan mata menyipit.
"Masih ada..."
Ia mengepalkan tangannya.
Magicure itu masih berada di dalam tubuhnya.
Tidak disegel.
Tidak melemah.
Tidak hilang.
Namun tempat ini tetap tidak memberikan jawaban apa pun.
Darrien memutar tubuhnya.
Tidak ada apa-apa.
Ia melihat ke belakang.
Sama.
Ke kiri.
Sama.
Ke kanan.
Sama.
Kegelapan.
Hanya kegelapan.
"Magic?"
Ia mengangkat tangan dan mencoba merasakan aliran energi di sekelilingnya.
Tidak ada.
"Ilusi?"
Tidak ada reaksi.
Darrien kembali berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sepuluh langkah.
Entah sudah berapa lama ia berjalan.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Bahkan tidak ada bayangan.
Akhirnya Darrien berhenti.
Ia menghela napas panjang.
Tangannya turun di sisi tubuh.
Wajahnya mulai menunjukkan rasa frustrasi.
"Di mana sebenarnya aku...?"
Suaranya menggema.
Namun gema itu terasa aneh.
Tidak ada dinding yang memantulkannya.
Tidak ada arah yang jelas.
Suara itu hanya...
menghilang.
Darrien mengusap wajahnya sebentar.
Biasanya ia bisa mengandalkan indranya.
Magicure.
Aura.
Angin.
Getaran ruang.
Tetapi di tempat ini—
semuanya seperti tidak memiliki arti.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Darrien merasa benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia hadapi.
Kemudian—
sebuah suara terdengar.
"Too weak."
Darrien langsung mengangkat kepalanya.
Tubuhnya menegang.
Matanya menyapu kegelapan.
"Apa?"
Tidak ada jawaban.
Darrien mengepalkan tangannya.
Sebuah aura perlahan muncul di sekeliling tubuhnya.
"Siapa di sana?"
Hening.
Darrien memutar tubuhnya dengan cepat.
Tetap tidak ada siapa-siapa.
"Keluar."
Nada suaranya mulai mengeras.
"Perlihatkan dirimu."
Jarinya mengepal semakin kuat.
Rahangnya mengeras.
Namun kegelapan itu tetap tidak berubah.
Kemudian—
sebuah tawa kecil terdengar.
"Hmph..."
Nada suara pria itu terdengar begitu santai.
"Diucapkan oleh seorang anak yang bahkan tidak mampu melihatku."
Ada sedikit nada mengejek di dalam suaranya.
Senyum buruk bahkan terdengar jelas dari cara ia mengucapkan kalimat itu.
Darrien langsung menyipitkan mata.
"Siapa kau?"
Tidak ada jawaban.
Darrien menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tidak ada.
Kesabarannya mulai habis.
"Jawab aku!"
Magicure di tubuhnya berdenyut lebih kuat.
Namun suara itu justru terdengar semakin santai.
"Baiklah."
Darrien terdiam.
"...Apa?"
"Kalau kau benar-benar menginginkan jawabannya."
Suara itu terdengar lagi.
Kemudian—
cahaya muncul.
Seketika.
Terang.
Sangat terang.
Darrien refleks mengangkat kedua tangannya untuk melindungi matanya.
"Ugh!"
Cahaya itu menyelimuti seluruh pandangannya.
Namun perlahan...
ia merasakan sesuatu yang lain.
Angin.
Lembut.
Hangat.
Menyentuh wajahnya.
Darrien menurunkan tangannya sedikit.
Matanya masih menyipit karena cahaya.
Kemudian terdengar suara lain.
Rerumputan yang bergerak tertiup angin.
Suara air.
Riak danau yang menyentuh tepian.
Darrien terdiam.
Perlahan...
cahaya di hadapannya mulai meredup.
Ia menurunkan kedua tangannya.
Matanya terbuka lebih lebar.
Pemandangan di hadapannya mulai terbentuk.
Danau.
Langit malam.
Bintang-bintang.
Bulan purnama.
Angin yang bergerak lembut di antara rerumputan.
Darrien menatap sekeliling dengan napas tertahan.
Tempat ini...
berbeda.
Jauh berbeda dari kegelapan sebelumnya.
Namun sebelum ia sempat memahami apa pun—
seseorang berdiri di hadapannya.
Seorang pria.
Membelakangi Darrien.
Ia berdiri di tepi danau, memandang permukaan air yang diterangi cahaya bulan.
Darrien membeku.
Matanya langsung tertuju pada sosok itu.
Pada rambutnya.
Pada posturnya.
Dan terutama—
pada pakaian yang dikenakannya.
Darrien tidak bergerak.
Ekspresinya perlahan berubah.
Keningnya berkerut.
Matanya melebar sedikit.
Seolah-olah apa yang sedang dilihatnya...
adalah sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada di tempat ini.
"..."
Darrien menahan napas.
Tangannya yang tadi mengepal perlahan mengendur.
Untuk pertama kalinya sejak suara itu muncul—
ia tidak tahu harus berkata apa.
Tatapannya tetap terpaku pada pria yang berdiri membelakanginya.
Dan pakaian pria itu...
membuat sesuatu yang sangat jauh di dalam ingatan Darrien terasa seperti hendak bangun.
