Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 170
PAKTA MUSAKA
Musaka masih mengingat malam itu.
Ia masih bisa merasakan hawa dingin yang memenuhi tubuhnya.
Dark Magic.
Begitu dalam.
Begitu kuat.
Bahkan setelah ia berhasil melarikan diri—
ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Darrien.
Musaka mengepalkan tangannya.
Ia membenci pemuda itu.
Namun ada satu hal lain yang terus mengganggu pikirannya.
Fiona.
Gadis manusia itu.
Musaka masih mengingat cahaya samar yang muncul dari tubuhnya.
Ia tidak mengerti bagaimana seorang manusia biasa bisa memiliki sesuatu seperti itu.
Dan justru karena itu—
ia tidak bisa melupakannya.
Musaka menggeleng.
“Tidak penting.”
Yang penting adalah satu hal.
Balas dendam.
***
Setelah kembali ke wilayah klannya, Musaka mulai mencari.
Ia mencari vampire yang lebih kuat.
Lebih berpengalaman.
Lebih berbahaya.
Siapa pun yang mungkin bisa membantunya menghancurkan Darrien.
Namun sebagian besar tidak cukup kuat.
Sampai akhirnya—
ia mengingat satu nama.
Koga.
Seorang vampire yang reputasinya sudah lama dikenal di kalangan tertentu.
Koga tidak membutuhkan gelar bangsawan.
Tidak membutuhkan kerajaan.
Namanya sendiri sudah cukup membuat banyak vampire berpikir dua kali sebelum menantangnya.
Musaka akhirnya menemukannya.
Dan ia datang membawa sebuah tawaran.
***
Koga duduk dengan tenang.
Tatapannya tajam.
Matanya merah gelap.
Wajahnya terlihat tenang, bahkan hampir santai.
Namun aura yang keluar dari tubuhnya membuat Musaka tahu—
ia telah menemukan orang yang dicari.
Koga menatapnya.
“Kau ingin apa?”
Musaka berdiri di hadapannya.
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Untuk?”
“Balas dendam.”
Koga mengangkat alis.
“Terhadap siapa?”
“Seorang manusia.”
Koga tersenyum tipis.
“Manusia?”
“Dia bukan manusia biasa.”
Musaka berhenti sejenak.
Ia tidak menceritakan semuanya.
Tidak tentang Dark Magic.
Tidak tentang bagaimana ia hampir kehilangan nyawanya.
Tidak tentang rasa takut yang masih tersisa setiap kali mengingat Darrien.
Ia tidak ingin terlihat lemah.
“Dia memiliki kekuatan.”
Koga tertawa kecil.
“Dan kau tidak mampu mengalahkannya?”
Musaka mengepalkan tangannya.
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
Koga memperhatikannya beberapa saat.
“Hadiah?”
Musaka tersenyum.
“Ada seorang gadis.”
Koga terdiam.
“Gadis?”
“Ya.”
Musaka menatapnya.
“Jika kau membantuku mendapatkan apa yang kuinginkan…”
Ia berhenti.
“…gadis itu akan menjadi milikmu.”
Koga menyipitkan mata.
“Siapa dia?”
“Namanya Fiona.”
Koga tidak menjawab.
Musaka melanjutkan.
“Dia penting bagiku.”
Itu tidak sepenuhnya benar.
Namun Musaka tidak perlu mengatakan alasannya.
Ia hanya tahu—
ia menginginkan gadis itu.
Dan jika Koga bisa membantunya membalas dendam terhadap Darrien…
maka Fiona akan menjadi hadiahnya.
Koga akhirnya tersenyum.
“Menarik.”
Musaka mengangguk.
“Jadi?”
Koga berdiri.
“Baik.”
Ia berjalan mendekat.
“Aku akan membantumu.”
Musaka tersenyum puas.
“Dan gadis itu?”
“Kau sudah mengatakan hadiahnya.”
Koga menatapnya.
“Aku hanya perlu menunggu.”
Musaka mengangguk.
“Setelah Darrien jatuh…”
Ia tersenyum.
“…Fiona akan menjadi milikmu.”
***
Kesepakatan itu akhirnya dibuat.
Koga memberikan beberapa bawahannya kepada Musaka.
Mereka akan bergerak bersama.
Mengawasi Darrien dan Fiona.
Menunggu waktu yang tepat.
Sementara Koga sendiri tidak terburu-buru.
Ia hanya menunggu hasil dari kesepakatan mereka.
Musaka kembali menatap kediaman dari kejauhan.
Senyum tipis muncul.
“Sekarang…”
Ia mengepalkan tangannya.
“…aku tidak sendirian lagi.”
Namun jauh di dalam dirinya—
Musaka masih menyimpan satu hal.
Ia masih ingat Dark Magic Darrien.
Ia hanya tidak pernah memberitahukan Koga betapa mengerikannya kekuatan itu.
Karena Musaka yakin—
Koga pasti cukup kuat untuk mengalahkannya.
Setidaknya—
itulah yang ingin ia percaya.
Dan sementara mereka merencanakan balas dendam dari dalam kegelapan—
di dalam rumah,
Fiona masih tertawa bersama Darrien dan yang lainnya.
Tidak mengetahui bahwa sebuah perjanjian baru saja dibuat.
Perjanjian yang menjadikan dirinya—
sebagai bagian dari hadiah.
