7. Rencana Yang Disembunyikan

Romance Series 94

BAB 7
RENCANA YANG DISEMBUNYIKAN

Sejak malam ketika Darrien mendengar percakapan Maria, ia tidak lagi bisa tidur dengan tenang.

Setiap kali melihat wanita itu tersenyum kepada Fiona, ia teringat percakapan melalui batu kristal tersebut.

Lelang.

Darrien tidak sepenuhnya memahami bagaimana dunia di luar Akasia bekerja, tetapi ia tahu satu hal.

Fiona tidak boleh berada di tangan Maria.

Karena itu, Darrien mulai memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu.

Kapan Maria keluar.

Kapan ia tidur.

Di mana ia menyimpan kunci.

Dan kapan mereka bisa meninggalkan panti tanpa diketahui.

Namun semakin ia memperhatikan, semakin ia sadar bahwa melarikan diri tidak akan semudah yang ia bayangkan.

Mereka tidak memiliki uang.

Tidak memiliki keluarga untuk dituju.

Bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.

Suatu sore, Darrien membawa Fiona ke bawah pohon akasia yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka berbicara.

Fiona langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

“Darrien?”

“Hm?”

“Kau sedang memikirkan sesuatu.”

Darrien terdiam.

Fiona menatapnya.

“Kau akhir-akhir ini sering melamun.”

Darrien akhirnya duduk di sampingnya.

“Fiona…”

“Ya?”

“Kalau kita meninggalkan Akasia, apa yang akan kau lakukan?”

Fiona terkejut.

“Meninggalkan Akasia?”

Darrien mengangguk.

“Misalnya.”

Fiona memikirkan pertanyaan itu cukup lama.

“Aku tidak tahu.”

Kemudian ia tersenyum.

“Kalau kau ikut, aku tidak keberatan pergi ke mana pun.”

Jawaban sederhana itu justru membuat dada Darrien terasa berat.

Ia menundukkan wajah.

“Jangan terlalu percaya padaku.”

“Kenapa?”

“Karena aku mungkin tidak tahu apa yang sedang kulakukan.”

Fiona tertawa kecil.

“Tapi kau selalu tahu bagaimana menjagaku.”

Darrien tidak menjawab.

Ia menatap jalanan Akasia dari kejauhan.

Dulu, kota kecil itu terasa seperti seluruh dunia mereka.

Sekarang, ia mulai melihatnya sebagai tempat yang mungkin harus mereka tinggalkan.

“Fiona.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku menyuruhmu pergi bersamaku…”

Fiona menatapnya serius.

“Aku akan ikut.”

“Jangan bertanya?”

“Tidak.”

Darrien menatapnya.

Fiona tersenyum.

“Karena kalau kau sampai menyuruhku pergi, pasti ada alasan.”

Darrien terdiam cukup lama.

Kemudian ia mengulurkan tangannya.

Fiona menggenggamnya seperti biasa.

“Aku akan menjagamu,” ujar Darrien pelan.

“Aku tahu.”

“Dan kalau kita benar-benar pergi…”

Fiona menyandarkan kepalanya di bahunya.

“Kita akan mencari tempat yang lebih baik.”

Darrien menatap langit sore.

“Tempat yang tidak mengenal kita?”

“Bukan.”

Fiona menggeleng.

“Tempat yang bisa menjadi rumah baru kita.”

Darrien tersenyum tipis.

Malamnya, setelah Fiona tertidur, Darrien mulai menyiapkan beberapa barang kecil.

Dua potong pakaian.

Sedikit makanan kering.

Sebotol air.

Dan beberapa benda yang mereka anggap berharga.

Ia membuka telapak tangannya.

Di sana terdapat daun perak yang pernah diberikan hutan kepada Fiona.

“Jangan sampai hilang,” gumamnya.

Ia menyimpannya bersama barang-barang mereka.

Namun sebelum Darrien sempat menutup tas kecil itu, suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Ia langsung memadamkan cahaya lilin.

Langkah tersebut berhenti tepat di depan pintu.

Darrien menahan napas.

Gagang pintu bergerak perlahan.

Untuk beberapa detik, ia hanya bisa berdiri diam dalam kegelapan.

Kemudian langkah itu menjauh.

Darrien baru berani bernapas kembali.

Ia menatap Fiona yang masih tertidur.

Keputusan itu semakin jelas.

Mereka harus pergi.

Dan kali ini, Darrien tidak akan menunggu sampai seseorang mengambil kesempatan untuk memisahkan mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience