Series
382
BAB 239
Malam telah benar-benar menguasai Veyth.
Cahaya bulan masuk melalui jendela kamar Fiona, jatuh lembut di lantai dan sisi tempat tidurnya.
Ruangan itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Darrien masih duduk di sisi tempat tidur.
Sejak Fiona mulai menunjukkan tanda-tanda akan kembali—
ia tidak bergerak terlalu jauh.
Tangannya masih menggenggam tangan Fiona.
Jari-jari gadis itu sesekali bergerak kecil.
Namun matanya belum terbuka.
Darrien menatap wajahnya.
Untuk beberapa saat—
ia hanya diam.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam mimpi Fiona.
Tidak tahu apa yang dilihatnya.
Tidak tahu siapa yang ditemuinya.
Dan yang paling membuatnya tidak nyaman—
ia bahkan tidak tahu apakah Fiona bisa menemukan jalan pulang sendiri.
Darrien menundukkan kepala.
“Fiona…”
Suaranya sangat pelan.
“Aku di sini.”
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum tipis.
“Jadi jangan terlalu lama.”
Tangannya mengusap rambut Fiona perlahan.
“Kalau kau menemukan sesuatu…”
Ia berhenti.
“…”
Darrien menghela napas.
“Bawa pulang saja.”
Ia menatap wajah Fiona.
“Tidak perlu memaksakan diri mencari semuanya malam ini.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian—
jari Fiona bergerak.
Darrien langsung memperhatikan.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Namun jari itu bergerak lagi.
Kali ini—
jari Fiona menggenggam tangannya.
Sangat lemah.
Namun jelas.
Darrien terdiam.
Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
“Jadi kau benar-benar mendengarku.”
***
Di dalam mimpi—
Fiona berdiri di tengah cahaya putih.
Ia tidak lagi bisa melihat Crystal Hall.
Tidak bisa melihat pintu.
Tidak bisa melihat kedua tiny elf.
Hanya cahaya.
Namun sesuatu masih berada di tangannya.
Kristal kecil itu.
Fiona menatapnya.
“…”
Kristal berbentuk daun tersebut berkilau lembut.
Ia mencoba menggenggamnya lebih erat.
Namun benda itu terasa semakin ringan.
Seperti tidak lagi menjadi benda padat.
Kemudian—
cahaya dari kristal perlahan mengalir menuju gelangnya.
Fiona membelalakkan mata.
“Tunggu…”
Cahaya masuk ke simbol daun perak.
Gelang itu menyala.
Kemudian—
kristal tersebut menghilang.
Fiona menatap tangannya.
“Ke mana?”
Tidak ada jawaban.
Ia memutar pergelangan tangannya.
Tidak ada kristal.
Hanya gelang.
Namun—
ada sesuatu yang berbeda.
Simbol daun perak itu sekarang memiliki garis cahaya kecil di tengahnya.
Fiona menyentuhnya.
“Apa kau…”
Ia berhenti.
“…masuk ke gelangku?”
Cahaya itu berdenyut sekali.
Fiona mengerutkan kening.
“Jangan bilang iya.”
Cahaya itu berdenyut lagi.
Fiona menatapnya.
“…”
“Baiklah.”
Ia menghela napas.
“Setidaknya sekarang aku tahu kau masih ada.”
Kemudian—
suara yang sama kembali terdengar.
“Fiona…”
Fiona langsung menoleh.
“Siapa kau?”
Hening.
“Kenapa kau terus memanggilku?”
Tidak ada jawaban.
Fiona mulai merasa kesal.
“Aku sudah bertanya berkali-kali.”
Ia menatap sekeliling.
“Kau tahu siapa aku?”
Hening.
“Wanita di potret itu siapa?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa wajahnya mirip denganku?”
Tetap tidak ada jawaban.
Fiona menggenggam tangannya.
“Dan kenapa tempat ini terasa seperti…”
Ia berhenti.
“…rumah?”
Untuk pertama kalinya—
suara itu tidak langsung menghilang.
Ia terdengar sangat lembut.
“Pulang…”
Fiona terdiam.
“Pulang ke mana?”
Tidak ada jawaban.
Fiona memejamkan mata.
“Kalau kau ingin aku menemukan sesuatu…”
Ia membuka mata kembali.
“…setidaknya beri aku sedikit petunjuk.”
Cahaya di sekelilingnya mulai bergerak.
Kemudian—
dua cahaya kecil muncul.
Tiny elf.
Keduanya terbang mendekat.
Fiona tersenyum kecil.
“Kalian…”
Kedua tiny elf menunjuk ke arah dadanya.
Fiona mengerutkan kening.
“Dadaku?”
Salah satunya mengangguk.
Fiona meletakkan tangan di dadanya.
Tidak ada apa-apa.
Namun—
perlahan ia merasakan sesuatu.
Hangat.
Sangat lembut.
Seperti cahaya kecil yang berdenyut jauh di dalam dirinya.
Fiona membeku.
“Apa ini?”
Tiny elf hanya tersenyum.
Fiona mengerutkan kening.
“Kalian tahu sesuatu.”
Mereka tertawa.
“Tentu saja.”
Fiona menghela napas.
“Kenapa kalian tidak pernah bisa bicara?”
Tiny elf pertama menutup mulutnya.
Tiny elf kedua tertawa lebih keras.
Fiona akhirnya ikut tertawa.
Namun—
tawa itu tidak berlangsung lama.
Karena tiba-tiba—
sebuah bayangan muncul di hadapannya.
Fiona langsung terdiam.
Bayangan itu semakin jelas.
Darrien.
Ia sedang duduk di samping tempat tidurnya.
Fiona membeku.
“Darrien…”
Ia mendekat.
Bayangan itu memperlihatkan wajah Darrien yang terlihat lelah.
Ia masih menggenggam tangan Fiona.
Masih menunggunya.
Fiona menyentuh permukaan cahaya.
“…”
Tangannya menembusnya.
Ia tidak bisa menyentuh Darrien.
Namun ia bisa melihatnya.
Mendengar suaranya.
“Aku di sini.”
Mata Fiona mulai berkaca-kaca.
“…”
Ia menatapnya beberapa saat.
Kemudian tersenyum kecil.
“Bodoh…”
Darrien di dalam bayangan tentu tidak bisa mendengarnya.
Fiona menyeka sudut matanya.
“Aku tidak pergi.”
Ia menarik napas.
“Aku cuma…”
Ia melihat kembali Crystal Hall yang perlahan muncul di belakangnya.
“…tersesat sedikit.”
Tiny elf menatapnya.
Fiona mengangguk perlahan.
“Baiklah.”
“Aku harus kembali.”
Ia melihat pintu terakhir yang tadi terbuka.
Pintu itu sudah tertutup.
Namun kali ini—
Fiona tidak merasa kecewa.
Ia sudah menemukan sesuatu.
Tidak semua jawaban.
Namun cukup untuk membawanya pulang.
***
Di dunia nyata—
Darrien masih duduk di sisi tempat tidur.
Jari Fiona kembali bergerak.
Kemudian—
kelopak matanya bergetar.
Darrien langsung menegakkan tubuh.
“Fiona?”
Kali ini—
mata Fiona perlahan terbuka.
Pandangannya kosong beberapa detik.
Ia menatap langit-langit.
Berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian perlahan menoleh.
Darrien berada di sana.
Fiona menatapnya.
“…”
Darrien juga tidak langsung berkata apa-apa.
Seolah-olah keduanya hanya memastikan bahwa yang satu benar-benar ada di hadapan yang lain.
Akhirnya Fiona berbisik,
“Darrien…”
Darrien menghela napas panjang.
“Ya.”
Fiona menatapnya.
“Kita di mana?”
“Kamar kamu.”
Fiona melihat sekeliling.
Kemudian mengingat sesuatu.
“Tunggu…”
Ia mencoba duduk.
Namun tubuhnya masih terasa berat.
Darrien langsung menopangnya.
“Pelan-pelan.”
Fiona mengerutkan kening.
“Aku…”
Ia melihat jendela.
Bulan sudah tinggi.
Matanya langsung membesar.
“Sudah malam?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
“Jam berapa?”
“Sudah cukup larut.”
Fiona menatapnya.
“Berapa lama aku tidur?”
Darrien menatapnya beberapa detik.
“Cukup lama.”
“Berapa lama?”
Darrien akhirnya menjawab.
“Beberapa jam.”
Fiona langsung menutup wajahnya.
“Ya ampun…”
Darrien tertawa kecil.
“Aku sudah menduga kau akan bereaksi seperti itu.”
“Aku tidak bermaksud tidur selama itu.”
“Aku tahu.”
“Serius.”
“Aku tahu.”
Fiona menurunkan tangannya.
“Kenapa kau tidak membangunkanku?”
Darrien diam sebentar.
“Karena aku pikir kau masih berada di sana.”
Fiona langsung tahu maksudnya.
“Mimpi itu?”
Darrien mengangguk.
“Aku tidak tahu bagaimana cara masuk ke sana.”
Fiona menatapnya.
“Jadi kau menunggu?”
“Ya.”
“Selama itu?”
“Ya.”
Fiona terdiam.
Wajahnya perlahan menjadi lembut.
“Darrien…”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Darrien tersenyum.
“Tidak perlu.”
Fiona menunduk.
Namun beberapa detik kemudian—
ia sadar bahwa tangannya masih berada dalam genggaman Darrien.
Wajahnya langsung memerah.
Ia mencoba menarik tangannya perlahan.
Darrien memperhatikan.
Namun bukannya melepaskan—
ia justru tersenyum kecil.
“Kau tadi yang menggenggam.”
Fiona langsung menatapnya.
“Aku?”
“Ya.”
“Aku tidak sadar.”
“Aku tahu.”
Fiona memalingkan wajah.
“Jangan menggodaku.”
“Aku tidak menggodamu.”
“Kau tersenyum.”
“Itu bukan kesalahan.”
Fiona mendengus kecil.
Namun senyum juga muncul di wajahnya.
***
Beberapa saat kemudian—
Fiona kembali menyentuh gelangnya.
Darrien langsung memperhatikan.
“Ada apa?”
Fiona memutar pergelangan tangannya.
“Di mimpiku…”
Ia berhenti.
Darrien menunggu.
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Kristal kecil.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kristal?”
Fiona mengangguk.
“Bentuknya seperti daun.”
“Seperti simbol di gelangmu?”
Fiona langsung menatapnya.
“Ya.”
Darrien memperhatikan gelang tersebut.
“Lalu di mana kristalnya?”
Fiona menggeleng.
“Entah.”
“Bukankah tadi kau bilang menemukannya?”
“Aku menemukannya.”
“Lalu?”
“Kristalnya berubah menjadi cahaya.”
Fiona menyentuh simbol daun perak.
“Dan masuk ke gelangku.”
Darrien terdiam.
“Masuk?”
“Ya.”
“Apakah kau merasakan sakit?”
“Tidak.”
“Panas?”
“Tidak.”
“Dingin?”
Fiona berpikir.
“Tidak.”
Darrien menghela napas lega.
“Kalau begitu jangan memaksakan diri.”
Fiona mengangguk.
Namun kemudian—
ia meletakkan tangan di dadanya.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Setelah kristal itu menghilang…”
Fiona terdiam.
“Aku merasa seperti ada sesuatu di sini.”
Darrien langsung serius.
“Di dalam tubuhmu?”
Fiona mengangguk.
“Seperti cahaya kecil.”
Darrien menatapnya.
“Sekarang?”
Fiona memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian—
“Masih.”
Darrien mengerutkan kening.
“Apakah sakit?”
“Tidak.”
“Kalau begitu…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena tiba-tiba—
cahaya kecil muncul di pergelangan tangan Fiona.
Keduanya langsung melihat.
Simbol daun perak itu menyala.
Fiona membeku.
Darrien juga tidak bergerak.
Cahaya itu perlahan bergerak dari gelang—
menuju telapak tangannya.
Fiona menarik napas.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Aku tahu.”
Cahaya tersebut berhenti.
Kemudian menghilang.
Fiona menatap tangannya.
“…”
Darrien masih memperhatikannya.
“Sepertinya sesuatu memang ikut kembali bersamamu.”
Fiona mengangguk perlahan.
“Tapi aku belum tahu apa.”
***
Tok.
Tok.
Tok.
Keduanya menoleh ke arah pintu.
Suara Elarion terdengar dari luar.
“Fiona?”
Darrien menjawab,
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Elarion muncul dengan beberapa buku dan catatan di tangannya.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama membaca.
Fiona langsung tertawa kecil.
“Kau belum tidur?”
Elarion menatapnya.
“Aku bisa bertanya hal yang sama.”
Fiona menunjuk dirinya.
“Aku baru bangun.”
“Aku tahu.”
Elarion berjalan mendekat.
Namun begitu melihat gelang Fiona—
langkahnya berhenti.
Tatapannya langsung berubah.
“…”
Fiona menyadarinya.
“Apa?”
Elarion tidak menjawab.
Ia membuka salah satu buku.
Membalik beberapa halaman.
Kemudian melihat gelang Fiona lagi.
Fiona semakin bingung.
“Elarion?”
“Jangan bergerak.”
Fiona langsung diam.
Elarion mendekat.
Ia tidak menyentuh gelang itu.
Hanya mengamatinya.
Kemudian membuka halaman lain.
Simbol yang sama terlihat di sana.
Fiona menatapnya.
“Itu…”
“Ya.”
Elarion mengangguk perlahan.
“Aku menemukan simbol ini dalam catatan lama.”
Darrien langsung bertanya,
“Dan?”
Elarion menghela napas.
“Dan seperti biasa…”
Ia menunjukkan halaman tersebut.
“…bagian pentingnya hilang.”
Fiona mengerang.
“Lagi?”
Elarion tersenyum kecil.
“Sayangnya.”
Namun kali ini—
ia tidak terlihat kecewa.
Justru semakin tertarik.
Karena sekarang mereka memiliki sesuatu yang lebih jelas.
Simbol.
Gelang.
Kristal.
Dan sebuah mimpi yang mulai meninggalkan jejak nyata.
Elarion menutup bukunya.
“Ceritakan semuanya.”
Fiona menatap Darrien.
Kemudian kembali melihat Elarion.
“Semua?”
“Semua.”
Fiona menarik napas.
“Baik.”
Ia mulai bercerita.
Tentang pintu.
Tentang kotak.
Tentang kristal.
Tentang wanita yang kembali muncul.
Tentang suara yang memanggil namanya.
Dan tentang satu kata yang masih tertinggal di pikirannya.
**Pulang.**
Elarion mendengarkan tanpa menyela.
Namun semakin lama Fiona bercerita—
semakin serius ekspresinya.
Ketika Fiona selesai—
ruangan menjadi sunyi.
Darrien menatap Elarion.
“Apa kau tahu sesuatu?”
Elarion tidak langsung menjawab.
Ia menatap simbol di gelang Fiona.
Kemudian menutup buku di tangannya.
“Aku belum tahu.”
Fiona menghela napas.
“Jawaban yang menyebalkan.”
Elarion tertawa kecil.
“Namun sekarang…”
Tatapannya menjadi lebih tajam.
“…aku punya alasan untuk mencari lebih jauh.”
Darrien mengangguk.
Fiona memandang gelangnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak lagi merasa bahwa mimpi itu hanya sebuah tempat aneh yang terus memanggilnya.
Karena sekarang—
sesuatu dari sana telah kembali bersamanya.
Sesuatu yang bahkan belum mereka pahami.
Dan jauh di dalam gelang itu—
cahaya kecil kembali berdenyut.
Sekali.
Sangat pelan.
Seolah-olah—
sesuatu di dalamnya baru saja terbangun.
Share this novel