Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 501 — LUKA YANG TERLALU DALAM
Cahaya teleportasi baru saja menghilang dari aula utama Veyth.
Namun tidak ada satu pun anggota Veyth yang sempat bernapas lega.
“Bawa dia ke ruang penyembuhan!”
Suara Kevin menggema di seluruh aula.
Darrien langsung mengangkat tubuh Fiona.
Tidak peduli dengan darah yang mulai membasahi pakaiannya sendiri.
Tidak peduli dengan luka di tubuhnya.
Tidak peduli dengan rasa sakit yang masih tersisa setelah pertarungannya dengan Raizen.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Fiona harus hidup.
“Cepat!”
Pintu ruang penyembuhan terbuka lebar.
Beberapa healer kerajaan yang sudah dipanggil berlari masuk.
Tempat itu langsung dipenuhi cahaya.
Lingkaran sihir penyembuhan muncul satu demi satu di lantai.
“Letakkan dia di sini!”
Darrien menurunkan Fiona dengan sangat hati-hati.
Tangannya bahkan sempat ragu untuk melepaskannya.
Seolah jika ia menjauh sedikit saja—
Fiona akan menghilang.
Seorang healer langsung memeriksa denyut nadinya.
Wajahnya berubah.
“Denyutnya sangat lemah.”
Healer lain memeriksa aliran magicure.
“Magicure-nya kacau!”
“Siapkan pemulihan jaringan!”
“Gunakan Light Healing!”
“Tidak cukup!”
“Gunakan Life Recovery!”
Cahaya memenuhi ruangan.
Satu demi satu mantra penyembuhan dilemparkan ke tubuh Fiona.
Lingkaran sihir berputar.
Cahaya putih, emas, dan biru bercampur di udara.
Luka di tubuh Fiona perlahan tertutup di beberapa bagian.
Namun—
bagian luka terdalam tidak berubah.
Darah masih merembes.
Seorang healer mengerutkan kening.
“Tidak bisa.”
Healer di sebelahnya langsung menoleh.
“Apa?”
“Mantranya tidak menembus sampai ke bagian dalam.”
“Apa maksudmu?”
Healer itu menelan ludah.
“Serangan ini bukan sekadar melukai tubuh.”
Ruangan mendadak lebih sunyi.
“Energinya menembus jaringan magicure.”
Ia melihat luka Fiona lagi.
“Bahkan sampai ke jalur inti kehidupannya.”
Darrien membeku.
“Apa?”
Healer itu menundukkan kepala.
“Kalau serangan ini diterima langsung oleh tubuh biasa...”
Ia berhenti sebentar.
“...itu seharusnya menjadi serangan yang mematikan.”
Darrien menatap Fiona.
Wajahnya semakin pucat.
“Jadi...”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“...dia seharusnya sudah mati?”
Healer tersebut tidak langsung menjawab.
“Secara teori...”
Ia menarik napas.
“Ya.”
Darrien mengepalkan tangan.
Namun sebelum emosinya meledak—
sebuah suara terdengar dari pintu.
“Geser.”
Elarion masuk.
Di belakangnya Elyon.
Keduanya langsung menuju meja penyembuhan.
Elarion menatap kondisi Fiona.
Ekspresinya yang biasanya tenang berubah serius.
“Berapa banyak mantra yang sudah digunakan?”
“Enam jenis.”
“Dan?”
“Tidak cukup.”
Elarion mengangguk pelan.
Ia menempatkan tangannya beberapa sentimeter di atas tubuh Fiona.
Cahaya muncul.
Namun beberapa detik kemudian—
Elarion menarik tangannya.
“Benar.”
Elyon langsung bertanya,
“Seberapa parah?”
Elarion menatapnya.
“Lebih buruk daripada yang terlihat.”
Darrien langsung mendekat.
“Apa yang harus dilakukan?”
Elarion menatap Darrien.
“Kami membutuhkan healer dengan tingkat yang jauh lebih tinggi.”
“Seberapa tinggi?”
Elarion diam beberapa detik.
“Bukan sekadar Grandmaster.”
Darrien membeku.
Elyon melanjutkan dengan suara rendah.
“Kita membutuhkan seseorang yang mampu memulihkan kerusakan magicure sekaligus jaringan kehidupan.”
Darrien menatap Fiona.
Tangannya perlahan menyentuh rambut Fiona.
“...Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Karena bahkan mereka belum tahu.
***
Pintu ruang penyembuhan kembali terbuka.
Semua orang menoleh.
King Edward dan Queen Gloria akhirnya tiba.
Wajah keduanya berubah ketika melihat keadaan ruangan.
Healer memenuhi sisi ranjang.
Cahaya penyembuhan terus mengalir.
Darrien berdiri di sisi Fiona.
Dan Fiona—
terbaring tanpa sadar.
Pucat.
Diam.
Gloria langsung menutup mulutnya.
“...Fiona.”
Edward berhenti beberapa langkah dari ranjang.
Ia menatap darah yang masih terlihat.
Kemudian menatap Darrien.
“Apa yang terjadi?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Darrien menundukkan kepala.
“Raizen.”
Hanya satu nama.
Namun Edward langsung memahami.
Gloria berjalan mendekat.
“Apakah dia...”
Elarion menggeleng.
“Belum.”
Gloria menarik napas lega.
Namun Elarion melanjutkan.
“Tapi kondisinya sangat kritis.”
Ekspresi Gloria langsung berubah.
“Seberapa kritis?”
Elarion melihat Fiona.
“Serangan yang mengenainya adalah serangan yang ditujukan untuk membunuh.”
Ruangan kembali sunyi.
Edward mengepalkan tangan.
“Dan dia mengambilnya untuk Darrien...”
Tidak ada yang menjawab.
Karena itulah kenyataannya.
***
Darrien duduk di sisi ranjang.
Ia menggenggam tangan Fiona.
Tangan yang dingin.
Terlalu dingin.
“Fiona...”
Tidak ada jawaban.
Darrien menundukkan kepala.
“Aku sudah menemukanmu.”
Suaranya bergetar.
“Aku sudah mendapatkanmu kembali.”
Ia menarik napas.
“Jangan buat aku kehilanganmu lagi.”
Jarinya menggenggam tangan Fiona sedikit lebih erat.
Namun ia segera mengendurkannya.
Takut menyakitinya.
“Aku masih punya banyak hal yang ingin kukatakan.”
Matanya memerah.
“Kau bahkan belum sempat memarahiku.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Namun senyum itu cepat menghilang.
“Jadi...”
Darrien menatap wajah Fiona.
“...tolong bangun.”
Di sisi lain ruangan—
Elarion dan Elyon terus bekerja.
Healer lain bergantian menggunakan mantra.
Satu lingkaran sihir padam.
Lingkaran lain langsung menggantikannya.
Waktu terus berjalan.
Namun luka Fiona masih belum sepenuhnya tertutup.
Bahkan setelah begitu banyak sihir digunakan—
mereka masih belum berhasil melewati bagian terdalam luka tersebut.
Elyon akhirnya menarik napas panjang.
“Kita kehabisan pilihan.”
Elarion menggeleng.
“Belum.”
Ia kembali melihat Fiona.
“Kita hanya belum menemukan healer yang tepat.”
Edward langsung bertanya,
“Kalau begitu cari.”
Elarion menatap sang raja.
“Bahkan jika harus mengirim pasukan?”
Edward menjawab tanpa ragu.
“Jika itu yang diperlukan untuk menyelamatkan Fiona.”
Gloria mengangguk.
“Cari siapa pun yang mampu.”
Ia menatap Fiona dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak peduli dari mana dia berasal.”
Ruangan kembali dipenuhi cahaya.
Para healer melanjutkan pekerjaan mereka.
Darrien tetap berada di sisi Fiona.
Tangannya tidak pernah melepaskan tangan perempuan itu.
Namun jauh di dalam pikirannya—
satu kenyataan terus berputar.
Fiona masih hidup.
Tetapi hanya dengan sedikit jarak dari kematian.
Dan mereka membutuhkan seseorang...
yang memiliki kemampuan penyembuhan jauh di atas apa yang Veyth miliki.
Seseorang yang mampu menyembuhkan luka—
yang bahkan sihir penyembuhan tingkat tinggi tidak mampu sentuh.
Sementara itu—
napas Fiona semakin pelan.
Darrien langsung mengangkat kepala.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Monitor magicure di samping ranjang berkedip.
Sekali.
Kemudian dua kali.
Cahayanya semakin lemah.
Elarion langsung menoleh.
“...Jangan.”
Semua healer bergerak kembali.
“Cepat!”
Cahaya penyembuhan memenuhi ruangan.
Darrien menggenggam tangan Fiona.
“Fiona!”
Namun perempuan itu tetap tidak membuka mata.
Dan untuk pertama kalinya—
seluruh ruang penyembuhan Veyth menyadari bahwa mereka tidak sedang mencoba menyembuhkan luka biasa.
Mereka sedang...
**berlomba dengan kematian.**
