Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 346 — MENUNGGU DENGAN TENANG
POV FIONA
Fiona muncul kembali di salah satu lorong yang jauh dari ruang diskusi.
Begitu kakinya menyentuh lantai—
ia langsung bersandar pada dinding.
Ia menutup wajahnya.
“…”
Hening.
Kemudian ia menghela napas panjang.
“Kenapa aku malah kabur?”
Fiona menatap langit-langit.
Ia sudah menghadapi begitu banyak hal dalam hidupnya.
Perang.
Pengkhianatan.
Kematian.
Forbidden Magic.
Kesepian selama ribuan tahun.
Namun sekarang—
hanya karena mengetahui Darrien berada di ruangan yang sama…
ia malah menggunakan teleportasi untuk melarikan diri.
Fiona menutup wajahnya lagi.
“Memalukan…”
Ia mengingat kembali bagaimana Darrien memeluknya.
Dan bagaimana semua orang melihat mereka.
Wajahnya kembali memerah.
“Tidak.”
Ia menggeleng cepat.
“Aku tidak akan memikirkannya.”
Beberapa detik kemudian—
ia mengintip ke arah lorong.
Tidak ada siapa-siapa.
“Lebih baik aku menunggu.”
Fiona menarik napas.
“Darrien pasti sedang bersama yang lain.”
Ia tersenyum kecil.
“Setidaknya…”
“…aku bisa tenang sebentar.”
Namun jauh di dalam hatinya—
ia tahu dirinya tidak benar-benar ingin menghindari Darrien.
Ia hanya belum tahu bagaimana harus bersikap di hadapannya.
Setelah ribuan tahun menunggu seseorang—
ternyata memiliki orang itu kembali jauh lebih menakutkan daripada menunggunya.
Fiona tersenyum kecil.
“Beri aku sedikit waktu…”
Kemudian ia berbalik dan berjalan perlahan menuju taman kecil di sisi istana.
Untuk sementara—
ia memilih menunggu.
***
DI RUANG DISKUSI
Darrien masih duduk di kursi yang tadi ia pilih.
Di hadapannya—
Zeith, Seraphine, Edward, Gloria, dan Elyon.
Tidak ada Fiona.
Namun kali ini Darrien tidak bertanya lagi.
Ia hanya duduk dan mendengarkan.
Elyon kembali membuka dokumen yang telah mereka susun.
“Kalau begitu, kita lanjutkan.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Elyon melihat seluruh orang di ruangan.
“Kita sudah sepakat bahwa sejarah Light Elf dan Dark Elf akan diperbaiki.”
Darrien memperhatikan.
“Bukan diubah.”
Elyon menekankan.
“Diperbaiki.”
Darrien mengangguk perlahan.
“Artinya kalian akan mengembalikan sejarah yang sebenarnya?”
“Ya.”
Zeith menjawab.
“Namun kita tidak akan membuka identitas Saintess dan Grandmaster.”
Darrien terdiam.
Mendengar dua gelar itu—
dadanya terasa sedikit aneh.
Ia sendiri masih belum sepenuhnya memahami kenapa.
Elyon melanjutkan.
“Kita akan mencatat bahwa Light Elf dan Dark Elf pernah hidup berdampingan.”
“Pernah bekerja sama.”
“Pernah mengalami konflik.”
“Dan akhirnya memasuki era perdamaian.”
Darrien mengangguk.
“Menurutku itu lebih baik.”
Edward tersenyum kecil.
“Karena sejarah tidak seharusnya hanya menceritakan kebencian.”
Darrien menatapnya.
“Benar.”
Gloria menambahkan,
“Yang penting generasi berikutnya mengetahui apa yang benar-benar terjadi.”
Darrien mengangguk lagi.
Kemudian Zeith menjelaskan tentang keputusan Lunaris dan Veyth untuk mempertahankan hubungan mereka seperti sekarang.
Kerja sama.
Perdagangan.
Perlindungan.
Hubungan antar kerajaan.
Semua yang telah dibangun selama era perdamaian.
Darrien mendengarkan tanpa menyela.
Sesekali ia memberikan pendapat.
“Jangan hapus bagian perang.”
Semua menoleh kepadanya.
Darrien melanjutkan,
“Kalau kita menghapus perang, generasi berikutnya tidak akan tahu apa yang menyebabkan kedua ras saling membenci.”
Elyon tersenyum.
“Itu juga keputusan kami.”
“Biarkan kesalahan tetap tercatat.”
Darrien menatap dokumen.
“Tapi jangan biarkan kesalahan itu menentukan masa depan.”
Edward menatap Darrien dengan sedikit kebanggaan.
“Itulah yang kami pikirkan.”
Darrien tersenyum kecil.
Kemudian ia kembali mendengarkan.
***
Beberapa saat kemudian—
Elyon menambahkan,
“Dan tentang Saintess…”
Darrien kembali memperhatikan.
“Identitasnya akan tetap disembunyikan.”
Darrien diam.
“Kenapa?”
Elyon menatapnya.
“Karena kami tidak ingin kisah masa lalu kembali menjadi alasan bagi dunia untuk menciptakan konflik.”
Darrien mengangguk.
Ia bisa memahami itu.
Namun entah kenapa—
ketika mendengar kata *Saintess*,
bayangan Fiona muncul di pikirannya.
Cara Fiona menggunakan Silver Leaf magic.
Cara crystal berubah menjadi anting-antingnya.
Cara ia berbicara seolah-olah pernah hidup di zaman yang sangat jauh.
Dan—
cara Fiona terus menghindarinya.
Darrien menghela napas pelan.
Ia masih tidak mengerti.
Namun ia tidak memaksa.
Jika Fiona belum siap—
ia akan menunggu.
***
Zeith kemudian menutup dokumen.
“Kalau begitu, keputusan ini sudah jelas.”
Elyon mengangguk.
“Sejarah akan ditulis kembali secara bertahap.”
Darrien menyandarkan tubuhnya.
Ia menatap keluar jendela.
Pemandangan Lunaris terlihat tenang.
“Bagus.”
Edward melihatnya.
“Kau tidak keberatan dengan semua ini?”
Darrien menggeleng.
“Tidak.”
Ia tersenyum.
“Kalau sejarah lama itu memang membawa terlalu banyak kebencian…”
Ia berhenti.
“…mungkin sudah waktunya orang-orang melihat sisi lain dari cerita itu.”
Tidak ada yang menjawab.
Namun semua memahami maksudnya.
Darrien tidak sedang berbicara tentang sejarah saja.
Ia juga sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Tentang Fiona.
Tentang masa lalu mereka.
Dan tentang masa depan yang sekarang sedang mereka bangun.
***
Di luar ruangan—
Fiona berhenti di dekat taman.
Ia bisa merasakan aura Darrien.
Masih di ruang diskusi.
Belum pergi.
Fiona tersenyum kecil.
“Dia masih di sana…”
Untuk sesaat ia berpikir untuk pergi.
Namun kemudian—
ia menggeleng.
“Tidak.”
“Aku tidak bisa terus menghindarinya.”
Ia menarik napas.
“Mungkin…”
Fiona menatap pintu taman.
“…sebentar lagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin—
ia mulai mempersiapkan dirinya untuk kembali.
Bukan sebagai Saintess.
Bukan sebagai wanita dari masa lalu.
Tetapi hanya—
sebagai Fiona.
Wanita yang masih mencintai Darrien.
