402. Kepulangan Tanpa Fiona

Romance Completed 594

BAB 402 — KEPULANGAN TANPA FIONA

**FWOOSH—!**

Cahaya gelap yang menyelimuti mereka akhirnya menghilang.

Tubuh Edward, Gloria, Darrien, Ace, Rowan, Kevin, Elyon, dan Elarion kembali muncul di ruang kerja Kerajaan Veyth.

Tidak ada suara untuk beberapa detik.

Mereka hanya berdiri—

atau lebih tepatnya—

berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Edward adalah orang pertama yang mengangkat kepalanya.

Tatapannya langsung bergerak ke seluruh ruangan.

Kemudian—

ia menyadari sesuatu.

Fiona tidak ada.

Wajah Edward berubah.

“Fiona…”

Gloria langsung menoleh.

“Dia tidak bersama kita.”

Tidak ada yang menjawab.

Darrien masih berdiri di tempatnya.

Diam.

Matanya kosong.

Seolah pikirannya belum menerima kenyataan bahwa Fiona benar-benar tidak ada di sana.

Kemudian tangannya perlahan mengepal.

“Dia…”

Suaranya rendah.

“Dia masih di Shadowcresent.”

Ace menghela napas berat.

“Raizen membawanya.”

Darrien menoleh tajam.

“Aku tahu.”

Nada suaranya membuat Ace langsung terdiam.

Darrien melihat ke arah tempat mereka semua muncul.

Seolah berharap Fiona akan tiba beberapa detik kemudian.

Namun tidak ada siapa pun.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Tidak ada Fiona.

***

Gloria mendekati Darrien.

“Darrien…”

Darrien tidak menjawab.

Ia masih menatap kosong.

Pikirannya kembali kepada beberapa saat sebelumnya.

Fiona berada di sampingnya.

Kemudian—

Raizen memisahkan mereka.

Barrier.

Tangan Fiona yang mencoba meraihnya.

Jari mereka yang hampir bertemu.

Kemudian semuanya menghilang.

Darrien menutup matanya.

Napasnya menjadi berat.

“Dia bilang akan aku membawanya kembali.”

Edward menatap putranya.

“Kita akan melakukannya.”

Darrien membuka mata.

Tatapannya tajam.

“Kita harus.”

Namun sebelum mereka dapat membicarakan langkah berikutnya—

Kevin akhirnya berbicara.

“Jangan terburu-buru.”

Darrien menoleh.

Kevin masih terlihat tenang.

Namun ada sesuatu yang berbeda pada matanya.

Lebih serius.

“Raizen bukan lawan yang bisa kita hadapi dengan cara biasa.”

Darrien diam.

Kevin melanjutkan.

“Bahkan aku…”

Ia berhenti sebentar.

“…tidak dapat membaca kekuatannya.”

Ruangan kembali hening.

***

Ace menyandarkan tubuhnya ke meja.

“Kalau Grandmaster bahkan tidak bisa membaca kekuatannya…”

Ia menatap Kevin.

“…apa yang sebenarnya kita hadapi?”

Kevin tidak langsung menjawab.

Ia menatap tangannya sendiri.

Masih terasa.

Tekanan tadi.

Aura yang menekan tubuhnya hingga lututnya menyentuh lantai.

Kevin menghela napas.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban itu membuat semua orang diam.

Kevin bukan orang yang mudah mengakui sesuatu seperti itu.

Darrien menatapnya.

“Seberapa kuat dia?”

Kevin menggeleng.

“Itu bukan pertanyaan yang tepat.”

Darrien mengerutkan kening.

Kevin menatapnya.

“Masalahnya bukan apakah dia lebih kuat dariku.”

Ia berhenti.

“Masalahnya adalah…”

Kevin menatap ke arah jendela.

“…aku bahkan tidak memahami dasar dari kekuatannya.”

***

Rowan terdiam.

Ia mengingat bagaimana surat Veyth menghilang.

Bagaimana aura Raizen memenuhi aula.

Bagaimana Fiona harus menggunakan Pure Light untuk memberi mereka ruang bernapas.

Dan akhirnya—

bagaimana Raizen mengambil Fiona.

“Kalau begitu…”

Rowan berbicara perlahan.

“Kita bahkan tidak tahu apa yang harus kita lawan.”

Elarion mengangguk.

“Itu yang lebih berbahaya.”

Ace menoleh.

“Karena kita tidak memiliki catatan tentang mereka.”

“Benar.”

Elarion menjawab.

“Tidak ada catatan yang cukup mengenai struktur magicure vampire.”

“Tidak ada data mengenai kemampuan Raja Vampire.”

“Bahkan cara mereka melakukan teleportasi tadi…”

Ia berhenti.

“…tidak seperti teleportasi mana pun yang pernah kita gunakan.”

***

Edward berjalan menuju jendela.

Ia menatap langit Veyth.

Beberapa saat yang lalu—

mereka semua berada di wilayah yang bahkan tidak mereka ketahui lokasinya.

Dan sekarang mereka kembali.

Tanpa Fiona.

Sebagai Raja—

Edward tahu ia tidak boleh bertindak hanya berdasarkan emosi.

Namun sebagai ayah—

ia tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa seorang putri kerajaan telah dibawa pergi tepat di depan matanya.

Gloria berdiri di sampingnya.

Wajahnya terlihat tegang.

“Kita tidak memiliki informasi mengenai mereka.”

Edward mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

“Dan mereka memiliki kekuatan yang bahkan tidak kita pahami.”

Edward menghela napas.

“Benar.”

Gloria menatap suaminya.

“Kalau kita kembali sekarang…”

Edward tidak menjawab.

Karena mereka berdua tahu jawabannya.

Mereka mungkin tidak akan mampu membawa Fiona pulang.

Bukan dengan kekuatan mereka sekarang.

***

Darrien berdiri beberapa langkah dari mereka.

Ia tidak ikut berbicara.

Namun pikirannya hanya memiliki satu hal.

Fiona.

Ia mengingat wajahnya.

Matanya.

Suara terakhirnya.

Cara ia mencoba mengulurkan tangan kepadanya.

Darrien menatap tangannya sendiri.

Jarinya mengepal.

“Aku akan membawanya kembali.”

Semua orang menoleh.

Darrien mengangkat wajahnya.

Tidak ada kepanikan lagi.

Hanya tekad.

“Aku tidak peduli berapa lama.”

Kevin menatapnya.

Darrien melanjutkan.

“Aku akan menjadi cukup kuat.”

Kevin diam.

Ia memahami apa yang dimaksud Darrien.

Bukan sekadar menjadi Grandmaster.

Darrien ingin menjadi seseorang yang mampu menghancurkan barrier yang tadi memisahkan mereka.

***

Elyon akhirnya berbicara.

“Jangan membuat keputusan terburu-buru.”

Darrien menoleh.

Elyon menatapnya dengan tenang.

“Kita harus memahami mereka terlebih dahulu.”

“Raizen terlalu tua.”

Darrien diam.

Elyon melanjutkan.

“Magicure yang ia gunakan…”

Ia menggeleng perlahan.

“Bukan sesuatu yang bisa kita pahami hanya dengan melihat satu pertarungan.”

“Bahkan menyebutnya overpowering…”

Elyon berhenti.

“…belum tentu tepat.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Ace mengangkat alis.

“Kenapa?”

Elyon menjawab tenang.

“Karena kita tidak tahu batasnya.”

Hening.

Kalimat itu jauh lebih menakutkan daripada mengatakan Raizen sangat kuat.

Mereka tidak tahu—

seberapa jauh kekuatannya.

***

Darrien akhirnya menatap Kevin.

“Latih aku.”

Kevin terdiam.

“Sekarang?”

“Ya.”

Kevin menghela napas.

“Darrien.”

“Aku serius.”

Kevin menatapnya lama.

Kemudian—

ia menghela napas kecil.

“Aku tahu.”

Namun kali ini—

tidak ada senyum sinis.

Tidak ada ejekan.

Karena Kevin juga tahu.

Mereka baru saja bertemu sesuatu yang jauh di luar pemahaman mereka.

Dan itu berarti—

latihan Darrien belum selesai.

Justru—

baru dimulai.

***

SHADOWCRESENT.

Suasana di dalam istana jauh lebih tenang.

Fiona masih berdiri di sisi Raizen.

Kedua pergelangan tangannya masih tersegel.

Namun tatapannya tetap tertuju kepada tempat Darrien menghilang.

Air mata masih menggenang di sudut matanya.

Ia menarik napas.

Kemudian berbisik,

“Darrien akan datang.”

Raizen menatapnya.

Fiona mengangkat wajahnya.

“Aku percaya padanya.”

Tidak ada keraguan dalam suaranya.

“Aku tahu dia akan datang.”

Raizen tidak menjawab.

Fiona menatapnya dengan marah.

“Dan ketika dia datang…”

Ia mengepalkan tangannya.

“…dia akan membawaku kembali.”

Raizen hanya memperhatikannya.

Kemudian—

sudut bibirnya bergerak sedikit.

“We'll see.”

Fiona mengerutkan kening.

Raizen mengangkat tangannya.

Telapak tangannya menyentuh sisi wajah Fiona.

Fiona tersentak.

“Jangan—”

Namun sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya—

magicure yang sangat halus mengalir dari telapak tangan Raizen.

Pandangan Fiona mulai kabur.

Tubuhnya kehilangan kekuatan.

“Darrien…”

Suara itu semakin pelan.

Kemudian—

matanya tertutup.

Tubuhnya jatuh ke depan.

Raizen menangkapnya.

Ia memandang wajah Fiona yang kini tertidur.

Tidak ada perlawanan lagi.

Tidak ada tatapan marah.

Tidak ada suara.

Raizen kemudian mengangkat tubuhnya dengan mudah.

Mufasa yang sejak tadi berada tidak jauh dari sana hanya memperhatikan.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Raizen berjalan menuju kamarnya.

Langkahnya tenang.

***

Pintu kamar pribadi Raizen terbuka.

Ia membawa Fiona masuk.

Sebuah ruangan luas dan gelap menyambut mereka.

Tempat tidur besar berada di tengah ruangan.

Raizen membawa Fiona ke sana.

Kemudian meletakkannya perlahan di atas tempat tidur.

Rambut Fiona tersebar di atas bantal.

Raizen berdiri di samping tempat tidur.

Ia memperhatikan wajahnya.

Fiona terlihat jauh lebih tenang ketika tertidur.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada perlawanan.

Hanya napas yang perlahan dan teratur.

Raizen menatapnya beberapa saat.

Kemudian berkata pelan,

“You are quiet enough when you sleep.”

Ia berbalik.

Tidak ada emosi yang dapat dibaca dari wajahnya.

Ia berjalan meninggalkan tempat tidur.

Pintu kamar perlahan tertutup.

***

Di luar kamar—

Mufasa masih berdiri.

"Jaga dia. Beritahu aku jika dia sudah sadar."

Lalu berlalu pergi.

"Baik, Tuanku."

Setelah Sang Raja berjalan jauh, Mufasa menatap pintu yang baru saja tertutup.

Untuk beberapa saat—

ia tidak bergerak.

ia hanya menghela napas.

Ia telah melihat banyak hal selama hidupnya.

Namun tindakan Sang Rajanya barusan—

tetap membuatnya berpikir.

Mufasa akhirnya menatap lorong.

Kemudian kembali melihat pintu kamar Raizen.

Ia tidak bertanya.

Tidak berani.

Namun satu hal mulai ia sadari.

Raizen tidak lagi hanya ingin membalas kematian Koga dan Kaguya.

Sekarang—

Fiona telah menjadi bagian dari keputusan sang Raja.

Dan itu mungkin akan membuat pertemuan berikutnya dengan Veyth—

jauh lebih rumit.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience