Series
382
BAB 306 — JANJI YANG TIDAK TERPENUHI
Di dunia nyata—
ruang perawatan masih sunyi.
Darrien duduk di sisi tempat tidur Fiona.
Tangannya masih menggenggam tangan gadis itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya duduk di sana.
Menunggu.
Kemudian—
jari Fiona bergerak.
Darrien langsung menoleh.
“Fiona?”
Genggaman Fiona perlahan menguat.
Seolah-olah ia sedang mencari sesuatu.
Atau seseorang.
Darrien membalas genggamannya.
“Aku di sini.”
Namun Fiona tidak membuka mata.
Alisnya justru berkerut.
Napasnya menjadi sedikit tidak teratur.
Darrien langsung menyadarinya.
“Fiona…”
Tangannya yang lain bergerak menyentuh rambutnya.
“Bangun.”
Namun Fiona masih terdiam.
Karena di dalam pikirannya—
ia kembali berada di tempat lain.
***
—Di dalam mimpi—
Sang Saintess berdiri di balik sebuah penghalang.
Tangannya menempel pada permukaan cahaya yang memisahkannya dari dunia luar.
“Darrien…”
Di seberang sana—
Darrien masih bertarung.
Terlalu banyak musuh menghalangi jalannya.
Para Dark Elf Master berdiri di antara mereka.
Serangan demi serangan menghantam tubuhnya.
Ia sudah kelelahan.
Namun ia masih berdiri.
Masih mencoba mendekatinya.
Sang Saintess memukul penghalang itu.
“Darrien!”
Ia tidak bisa melewatinya.
Penghalang Light Magic itu terlalu kuat.
Dan setiap kali ia mencoba menghancurkannya—
pasukan di sekitarnya kembali memperkuatnya.
“Lepaskan aku!”
Tidak ada jawaban.
Ia hanya bisa menyaksikan.
Darrien semakin lambat.
Napasnya semakin berat.
Namun ia tetap bertarung.
Sang Saintess menangis.
“Jangan…”
Ia menggeleng.
“Jangan berhenti…”
***
Kemudian—
seseorang muncul di belakang Darrien.
Sosok yang selama ini berada di balik pengkhianatan mereka.
Sang pengkhianat.
Ia mengangkat tangannya.
Sang Saintess melihatnya.
“DARRIEN!”
Terlambat.
Serangan terakhir dilepaskan.
**BOOM!**
Tubuh Darrien tersentak.
Ia terdiam.
Pedangnya perlahan jatuh.
Sang Saintess membeku.
“Tidak…”
Darrien masih berdiri.
Namun hanya untuk beberapa detik.
Ia tahu.
Waktunya hampir habis.
Ia perlahan menoleh.
Mencari sosok yang berada di balik penghalang.
Dan akhirnya—
ia melihatnya.
Mata mereka bertemu.
Tidak ada suara.
Tidak ada kata-kata yang terdengar.
Namun sang Saintess dapat membaca gerakan bibirnya.
**“Aku mencintaimu.”**
Mata sang Saintess membesar.
“Darrien…”
Senyum kecil muncul di wajah Darrien.
Kemudian—
tubuhnya jatuh.
“DARRIEN!”
Sang Saintess berteriak.
Ia memukul penghalang.
Sekali.
Dua kali.
Lagi.
Dan lagi.
Air mata mengalir tanpa henti.
“Tidak!”
Penghalang itu mulai retak.
“Jangan tinggalkan aku!”
**KRAK.**
Sang Saintess menatap Darrien yang tidak bergerak.
“Kau berjanji…”
Tangannya kembali menghantam penghalang.
**KRAK!**
“Kau berjanji kita akan pergi bersama!”
**KRAAAK!**
Cahaya mulai memenuhi tubuhnya.
Namun bukan cahaya lembut seperti sebelumnya.
Kali ini—
kekuatan yang jauh lebih besar muncul.
Amarah.
Kesedihan.
Keputusasaan.
Semuanya bercampur menjadi satu.
“Jangan tinggalkan aku!”
**BOOOOOOM!**
Penghalang Light Magic akhirnya pecah.
Sang Saintess melesat.
Dalam satu gerakan—
ia telah berada di sisi Darrien.
Ia berlutut.
Menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
“Darrien…”
Tidak ada jawaban.
Ia mengguncang tubuhnya.
“Bangun.”
Tetap tidak ada jawaban.
Air matanya jatuh ke wajah Darrien.
“Tidak…”
Suaranya semakin lemah.
“Kau berjanji…”
Ia memeluknya lebih erat.
“Kau bilang kita akan pergi bersama.”
Tidak ada jawaban.
Kemudian—
kekuatan di dalam tubuhnya meledak.
**BOOOOOOM!**
Gelombang energi menyapu seluruh tempat itu.
Para Dark Elf yang masih berdiri terlempar.
Para Light Elf juga tidak mampu bertahan.
Tanah retak.
Pohon-pohon hancur.
Cahaya dan kegelapan bercampur dalam satu ledakan besar.
Sang Saintess tidak memperhatikan apa pun.
Ia hanya memeluk Darrien.
Namun kekuatannya terus meningkat.
Semakin kuat.
Semakin liar.
Sampai akhirnya—
tidak ada seorang pun yang tersisa di sekitarnya.
Hanya dia.
Dan Darrien.
***
Kemudian—
Sang Saintess menutup matanya.
Ia tahu sesuatu.
Sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Sesuatu yang telah dilarang sejak zaman dahulu.
Namun ia tidak peduli.
“Kalau dunia tidak mengizinkanmu tetap bersamaku…”
Tangannya mulai memancarkan cahaya.
“…maka aku tidak akan membiarkan dunia mengambilmu.”
Energi kuno mulai berkumpul.
Udara di sekelilingnya bergetar.
Sang Saintess menggunakan kekuatan yang bahkan tidak seharusnya disentuh.
**Forbidden Magic.**
Sihir yang mampu mengikat jiwa.
Mengunci keberadaan seseorang agar tidak sepenuhnya meninggalkan dunia.
Ia memeluk Darrien lebih erat.
“Jiwamu…”
Air matanya jatuh.
“…tetap bersamaku.”
Cahaya memenuhi tubuh mereka.
Kemudian—
perlahan—
jiwa Darrien mulai terbungkus dalam sihir kuno itu.
Tidak dihancurkan.
Tidak dihapus.
Tetapi—
**dikunci.**
Tetap dekat dengannya.
Tetap berada dalam pelukannya.
Sang Saintess menundukkan kepala.
“Sekarang…”
Suaranya bergetar.
“…kau tidak akan pergi.”
Dan dunia di sekeliling mereka—
perlahan menjadi putih.
***
Di dunia nyata—
jari Fiona masih menggenggam tangan Darrien.
Lebih erat dari sebelumnya.
Darrien menatapnya dengan cemas.
“Fiona…”
Namun Fiona masih belum membuka matanya.
Dan jauh di Crystal Hall—
cahaya kembali berdenyut.
**…tik.**
Kali ini—
lebih kuat.
Share this novel