Completed
594
BAB 360 — HARI YANG TERLALU DAMAI
Kompetisi memancing antara Ace dan Rowan ternyata belum berakhir.
Meskipun sampai sekarang—
tidak ada satu pun ikan yang berhasil mereka tangkap.
Keduanya masih bersikeras bahwa mereka belum kalah.
Di tengah danau, Ace menyelam lagi.
Rowan mengikutinya.
Beberapa saat kemudian—
Ace muncul ke permukaan.
“Tidak ada!”
Rowan muncul di sampingnya.
“Di sebelah sana.”
Ace menunjuk.
“Kau yakin?”
“Ya.”
Mereka berenang ke arah yang ditunjukkan Rowan.
Beberapa detik kemudian—
keduanya kembali menyelam.
Di bawah pohon besar—
Fiona memperhatikan mereka sambil tersenyum.
Darrien duduk di sampingnya.
“Sudah berapa lama mereka melakukan itu?”
Fiona berpikir.
“Mungkin…”
Ia melihat matahari.
“…cukup lama.”
Darrien tertawa kecil.
“Mereka bahkan belum menyerah.”
Elarion yang duduk tidak jauh dari mereka menggeleng.
“Mereka akan menyerah setelah matahari tenggelam.”
Elyon menutup bukunya.
“Kalau mereka tidak menyerah sebelum itu.”
Seraphine tertawa.
“Biarkan saja.”
Hari itu memang bukan untuk menghentikan mereka.
***
Sementara Ace dan Rowan masih sibuk mencari ikan—
yang lainnya menikmati waktu dengan cara masing-masing.
Zeith dan Seraphine berjalan santai di sepanjang tepi danau.
Edward dan Gloria duduk bersama sambil menikmati minuman.
Elyon akhirnya benar-benar meletakkan semua dokumen kerajaan dan memilih menikmati pemandangan.
Elarion berbaring di atas rumput sambil memandang langit.
Fiona duduk di bawah pohon besar.
Darrien berada di sampingnya.
Tidak ada yang terburu-buru.
Tidak ada yang membutuhkan mereka.
Untuk sekali ini—
mereka hanya menikmati waktu.
***
Beberapa waktu kemudian—
matahari mulai bergerak lebih tinggi.
Ace dan Rowan akhirnya muncul dari dalam danau.
Keduanya berjalan menuju tepi.
Basah kuyup.
Rambut menempel di wajah.
Pakaian mereka juga benar-benar basah.
Ace menghela napas.
“Tidak ada.”
Rowan juga terlihat lelah.
“Tidak satu pun.”
Mereka saling menatap.
Hening.
Kemudian Ace menunjuk Rowan.
“Ini semua salahmu.”
Rowan langsung mengangkat alis.
“Kenapa aku?”
“Kau yang mendorongku ke danau.”
Rowan menatapnya.
“Karena kau yang memulai kompetisinya.”
“Tapi kau yang mendorongku.”
“Karena kau terus menyebalkan.”
Ace membuka mulut.
Kemudian menutupnya lagi.
“…”
Rowan tersenyum puas.
Ace akhirnya duduk di pasir.
“Pokoknya ini salahmu.”
Rowan duduk di sampingnya.
“Kenapa aku?”
“Kau yang menarikku.”
“Kau yang menarikku kembali.”
“Karena kau menarikku!”
“Karena kau mendorongku!”
Keduanya kembali saling menatap.
Kemudian—
mereka tertawa.
Tidak ada ikan.
Tidak ada pemenang.
Tidak ada yang kalah.
Namun entah kenapa—
mereka tetap menganggap kompetisi itu sukses.
***
Ace merebahkan tubuhnya di atas rumput.
“Sudah.”
Rowan ikut berbaring.
“Setuju.”
Keduanya menikmati hangatnya matahari.
Beberapa saat kemudian—
Ace berkata,
“Setidaknya kita bisa mengeringkan pakaian dengan sihir.”
Rowan mengangguk.
“Kenapa baru sekarang kau memikirkannya?”
Ace menoleh.
“Karena aku terlalu sibuk mencari ikan.”
Rowan menutup wajahnya.
“Tidak ada harapan.”
Mereka akhirnya menggunakan sedikit magicure.
Sihir hangat mengalir dari tubuh mereka.
Air yang menempel pada pakaian perlahan menguap.
Rambut kembali kering.
Tubuh mereka pun terasa lebih nyaman.
Ace menghela napas lega.
“Ah…”
Rowan tersenyum.
“Jauh lebih baik.”
Kemudian—
keduanya kembali berbaring.
Tidak ada lagi kompetisi.
Tidak ada lagi ikan.
Hanya menikmati matahari.
***
Waktu terus berlalu.
Siang perlahan berubah menjadi sore.
Angin danau semakin sejuk.
Beberapa orang mulai mengantuk.
Fiona duduk bersandar pada batang pohon.
Darrien berada di sampingnya.
Sesekali mereka berbicara.
Sesekali hanya diam.
Tidak perlu mengisi setiap keheningan dengan kata-kata.
Hari itu sudah cukup indah tanpa perlu banyak hal.
Fiona melihat permukaan danau.
“Rasanya cepat sekali.”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
“Padahal baru saja kita sampai.”
“Dan sekarang hampir sore.”
Fiona tersenyum.
“Kalau setiap hari seperti ini…”
Ia berhenti.
Kemudian tertawa kecil.
“…mungkin aku tidak akan keberatan.”
Darrien menatapnya.
“Kita bisa melakukannya lagi.”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
***
Matahari mulai mendekati cakrawala.
Cahaya keemasan menyelimuti permukaan danau.
Akhirnya—
Zeith berdiri.
“Sepertinya kita harus kembali.”
Tidak ada yang membantah.
Semua mulai membereskan perlengkapan.
Selimut dilipat.
Keranjang makanan dikumpulkan.
Barang-barang yang tersisa dimasukkan kembali.
Ace dan Rowan membantu membawa beberapa barang.
Kali ini—
tidak ada yang bertengkar.
Mungkin karena mereka sudah terlalu lelah.
Atau mungkin karena mereka tahu hari libur itu benar-benar hampir berakhir.
***
Perjalanan kembali ke istana berlangsung santai.
Tidak ada yang terburu-buru.
Semua masih menikmati sisa-sisa suasana tenang dari danau.
Ketika mereka akhirnya tiba di Istana Lunaris—
hari sudah hampir gelap.
Mereka langsung menuju ruang makan.
Makan malam telah disiapkan.
Dan seperti saat piknik—
semua duduk bersama.
Makanan sederhana disajikan.
Tidak ada pembicaraan serius.
Sebagian besar hanya membicarakan kejadian hari itu.
Terutama—
kompetisi memancing Ace dan Rowan.
“Tidak ada ikan sama sekali?”
Gloria bertanya sambil menahan tawa.
Ace menggeleng.
“Tidak.”
Rowan menambahkan,
“Bahkan satu pun.”
Seraphine tertawa.
“Lalu apa yang kalian lakukan selama berjam-jam?”
Ace berpikir.
“…Berenang.”
Semua tertawa.
Rowan menatap Ace.
“Jangan lupa bertengkar.”
Ace mengangguk.
“Benar juga.”
Darrien tersenyum.
“Setidaknya kalian bersenang-senang.”
Ace mengangguk puas.
“Itu yang penting.”
***
Setelah makan malam selesai—
Edward dan Gloria mulai bersiap untuk kembali ke Veyth.
Gloria melihat kepada Darrien.
“Kami akan kembali malam ini.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Edward kemudian bertanya,
“Kau tidak ikut?”
Darrien menggeleng.
“Aku akan tinggal di Lunaris beberapa hari lagi.”
Gloria tersenyum.
“Berapa lama?”
“Tiga hari.”
“Setelah itu baru aku kembali ke Veyth.”
Edward mengangguk.
“Baik.”
Ia kemudian melihat Ace, Rowan, Elarion, dan Elyon.
“Bagaimana dengan kalian?”
Ace mengangkat bahu.
“Aku belum memutuskan.”
Rowan tertawa.
“Setelah seharian di danau, mungkin aku butuh istirahat dulu.”
Elarion tersenyum.
“Kita lihat nanti.”
Elyon mengangguk.
“Tidak perlu terburu-buru.”
Gloria tersenyum.
“Baiklah.”
Ia kemudian melihat Fiona.
“Kau juga akan tinggal?”
Fiona mengangguk.
“Untuk sementara.”
Darrien melirik Fiona.
Fiona membalas tatapannya.
Tidak ada kata-kata.
Namun keduanya sama-sama tahu—
tiga hari ke depan mungkin akan terasa cukup berbeda.
***
Edward dan Gloria akhirnya berdiri di depan teleportation circle Istana Lunaris.
Zeith dan Seraphine mengantar mereka.
Elyon dan yang lainnya juga ikut mengantar sampai batas ruangan.
Edward tersenyum.
“Sampai bertemu lagi.”
Zeith mengangguk.
“Sampai bertemu.”
Gloria memandang Darrien.
“Jaga dirimu.”
Darrien tersenyum.
“Aku akan baik-baik saja.”
Gloria kemudian menatap Fiona.
“Dan…”
Ia tersenyum penuh arti.
“Jaga dia juga.”
Fiona membeku sebentar.
Kemudian tertawa kecil.
“Baik.”
Darrien menahan senyum.
Edward dan Gloria akhirnya berdiri di dalam lingkaran.
Teleportasi magic mulai berputar perlahan.
Cahaya lembut memenuhi ruangan.
Kemudian—
**WHOOSH!**
Keduanya menghilang.
Teleportasi membawa mereka kembali menuju Veyth.
***
Ruangan kembali tenang.
Darrien menghela napas.
“Besok…”
Ia melihat ke arah Fiona.
“Tidak ada jadwal?”
Fiona menggeleng.
“Tidak ada.”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Fiona mengangkat alis.
“Kenapa?”
Darrien hanya tersenyum.
“Nanti kau tahu.”
Fiona menyipitkan mata.
“Aku mulai khawatir.”
Darrien tertawa.
Dan malam itu—
setelah semua kekacauan yang mereka lalui—
akhirnya mereka memiliki sesuatu yang sederhana.
Tiga hari.
Tanpa kewajiban besar.
Tanpa sejarah yang harus diperbaiki.
Tanpa perang.
Tanpa masa lalu yang mengejar.
Hanya waktu.
Dan untuk sekali ini—
mereka berniat menikmatinya.
Share this novel