336. Latihan Kecepatan

Romance Series 390

BAB 336 — LATIHAN KECEPATAN

POV FIONA

Sejak meninggalkan Crystal Hall—

Fiona belum berani kembali ke hadapan mereka.

Bukan karena ia takut lagi.

Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu.

Melainkan karena—

ia masih merasa sangat malu.

Ia sudah hidup selama ribuan tahun.

Ia pernah menjadi Saintess.

Ia pernah menghadapi perang.

Ia pernah menggunakan Forbidden Magic.

Ia bahkan pernah menghancurkan seluruh pasukan yang mencoba mengambil Darrien darinya.

Namun—

dipeluk Darrien di depan begitu banyak orang?

Itu ternyata jauh lebih memalukan.

Fiona menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa aku melakukan itu…”

Ia mengerang pelan.

“Aku benar-benar kehilangan kendali.”

Ia berjalan melewati sebuah koridor kosong.

Kemudian berhenti.

Mengingat bagaimana Ace dan yang lainnya menertawakannya.

Wajahnya kembali memerah.

“Ahhh…”

Fiona segera menutupi wajahnya lagi.

Tidak.

Ia belum siap kembali.

Setidaknya—

bukan sekarang.

Jadi Fiona mulai memilih tempat-tempat tersembunyi di dalam istana.

Perpustakaan.

Taman belakang.

Koridor yang jarang digunakan.

Bahkan sebuah balkon kecil di sisi timur istana.

Setiap kali mendengar suara langkah kaki—

Fiona langsung menghilang.

Setiap kali melihat Ace dari kejauhan—

menghilang.

Melihat Rowan—

berbalik.

Melihat Kevin—

bersembunyi.

Melihat Elarion—

langsung menggunakan sihir penyembunyian.

Namun yang paling ia hindari—

Darrien.

Fiona bahkan tidak tahu bagaimana harus menatap wajahnya sekarang.

“Bagaimana aku bisa kembali…”

Ia menghela napas.

“Setelah semua orang melihatku memeluknya seperti itu?”

Fiona menatap langit dari balik balkon.

Kemudian bergumam,

“Saintess macam apa yang seperti ini…”

Ia terdiam.

Lalu mengoreksi dirinya sendiri.

“Tidak.”

“Ini bukan masalah Saintess.”

Wajahnya kembali memerah.

“Ini masalah Fiona.”

***

Sementara itu—

di bagian lain Istana Lunaris.

Darrien sedang berjalan bersama Kevin.

Keduanya menuju salah satu bagian latihan kerajaan.

Darrien tampak serius.

Kevin—

jauh lebih curiga.

“Jadi…”

Kevin meliriknya.

“Kita benar-benar akan melakukan ini?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Latihan kecepatan?”

“Ya.”

Kevin menghela napas.

“Kenapa?”

Darrien menatap lurus ke depan.

“Fiona.”

Kevin langsung mengerti.

“Tentu saja.”

Darrien berhenti sebentar.

“Aku tidak ingin dia menghilang begitu saja lagi.”

Kevin mengangkat alis.

“Kau tahu dia bisa menggunakan teleportasi instan, kan?”

“Aku tahu.”

“Dan dia memiliki kecepatan Saintess?”

“Aku tahu.”

“Dan pengalaman lebih dari dua ribu lima ratus tahun?”

“Aku tahu.”

Kevin menghela napas.

“Baiklah.”

Ia menyerah.

“Kalau begitu kita mulai dari dasar.”

Darrien menoleh.

“Dasar?”

Kevin mengangguk.

“Kecepatan bukan hanya tentang berlari.”

Ia mengangkat satu jari.

“Reaksi.”

Jari kedua.

“Perubahan arah.”

Jari ketiga.

“Kontrol tubuh.”

Jari keempat.

“Ledakan kecepatan jarak pendek.”

Kemudian ia menatap Darrien.

“Dan yang paling penting—”

Kevin tersenyum tipis.

“Jangan kehilangan kendali saat bergerak.”

Darrien mengangguk.

“Aku siap.”

Kevin menatapnya beberapa saat.

Kemudian bertanya,

“Kalau begitu…”

“Di mana kita berlatih?”

Darrien juga baru menyadari satu hal.

Mereka belum memiliki tempat.

Ia menoleh ke arah koridor.

“Pasti Lunaris memiliki area latihan.”

Kevin mengangguk.

“Kita perlu tempat yang cukup luas.”

“Dan tidak ada banyak orang.”

“Benar.”

“Lebih baik kalau memiliki penghalang sihir.”

Kevin mengangguk.

“Karena kalau kecepatannya terlalu tinggi…”

Ia menatap Darrien.

“…kita tidak ingin merusak setengah istana.”

Darrien tersenyum kecil.

“Masuk akal.”

***

Mereka akhirnya bertemu dengan Elyon.

Elyon yang sedang memeriksa beberapa dokumen berhenti ketika melihat keduanya.

“Darrien?”

Darrien mengangguk.

“Aku membutuhkan tempat latihan.”

Elyon mengangkat alis.

“Latihan?”

“Kecepatan.”

Elyon melihat Kevin.

Kemudian kembali melihat Darrien.

“Dan Kevin?”

Kevin mengangkat tangan.

“Sayangnya.”

Elyon tertawa kecil.

“Baiklah.”

Ia berpikir sebentar.

“Di bagian utara istana terdapat area latihan khusus.”

Kevin langsung tertarik.

“Area latihan khusus?”

“Ya.”

Elyon menjelaskan,

“Biasanya digunakan oleh para kesatria dan penyihir tingkat tinggi.”

“Tempat itu cukup luas.”

“Memiliki penghalang pelindung.”

“Dan lantainya diperkuat dengan sihir.”

Kevin mengangguk puas.

“Bagus.”

Darrien bertanya,

“Bisa kami gunakan?”

Elyon tersenyum.

“Tentu.”

Ia kemudian menatap Darrien dengan ekspresi sedikit geli.

“Namun…”

Darrien menunggu.

Elyon melanjutkan,

“Jangan hancurkan tempatnya.”

Kevin langsung menoleh kepada Darrien.

“Dengar itu?”

Darrien mengangguk.

“Aku akan berhati-hati.”

Kevin menghela napas lega.

“Bagus.”

***

Beberapa saat kemudian—

Darrien dan Kevin tiba di area latihan.

Tempat itu jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Lapangan luas terbentang di antara beberapa menara pelindung.

Garis-garis sihir tertanam di tanah.

Penghalang transparan mengelilingi area tersebut.

Kevin berjalan ke tengah.

Ia melihat sekeliling.

“Tempat ini cukup bagus.”

Darrien mengangguk.

Kemudian ia berdiri di samping Kevin.

“Mulai dari mana?”

Kevin tersenyum.

“Pertama…”

Ia menunjuk garis di tanah.

“Kita lihat seberapa cepat kau sekarang.”

Darrien berdiri di belakang garis.

Kevin berjalan menjauh beberapa meter.

“Ketika aku memberi tanda—lari ke sini.”

Darrien mengangguk.

Kevin mengangkat tangan.

“Dan jangan menggunakan teleportasi.”

Darrien tersenyum.

“Baik.”

Kevin menarik napas.

“Siap?”

Darrien menundukkan tubuh sedikit.

“Siap.”

Kevin mengangkat tangannya lebih tinggi.

“Tiga…”

Darrien memusatkan energinya.

“Dua…”

Udara di sekelilingnya mulai bergerak.

“Satu…”

Kevin menurunkan tangannya.

“Mulai!”

**WHOOSH!**

Darrien langsung menghilang dari tempatnya.

Kevin membeku.

“….”

Beberapa detik kemudian—

Darrien sudah berdiri di ujung lapangan.

Kevin menatapnya.

Darrien menoleh.

“Bagaimana?”

Kevin terdiam.

Kemudian menghela napas.

“Cepat.”

Darrien tersenyum.

Kevin menunjuknya.

“Tapi belum cukup.”

Senyum Darrien menghilang.

“Belum?”

Kevin menggeleng.

“Kalau kau ingin mengejar Fiona…”

Ia menunjuk kembali ke garis awal.

“…kau masih harus jauh lebih cepat.”

Darrien kembali ke posisi awal.

“Sekali lagi.”

Kevin menghela napas.

“Baiklah.”

Ia sudah tahu.

Hari ini—

akan menjadi hari yang panjang.

Dan di suatu tempat di dalam istana—

Fiona masih bersembunyi karena malu.

Tanpa mengetahui bahwa karena dirinya—

Darrien baru saja memulai latihan kecepatan bersama Kevin.

Dan Kevin—

sekali lagi—

kehilangan hari liburnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience