Series
94
BAB 36
TAMU DI TENGAH MALAM
Malam turun perlahan di hutan.
Setelah makan malam, Fiona membantu Elarion membersihkan peralatan ramuan.
Darrien duduk di dekat jendela.
Sejak sore tadi, pikirannya masih tertuju pada sesuatu yang ia lihat di antara pepohonan.
“Kau masih memikirkannya?”
Suara Fiona membuatnya menoleh.
“Sedikit.”
Fiona duduk di sampingnya.
“Mungkin memang hanya pantulan cahaya.”
“Mungkin.”
Darrien tidak yakin.
Elarion yang sedang menyusun botol di meja tidak ikut berkomentar.
Malam semakin larut.
Fiona akhirnya pergi tidur.
Darrien masih terjaga beberapa saat.
Ia menatap hutan melalui jendela.
Tidak ada apa-apa.
Hanya kegelapan.
Akhirnya ia berbaring.
Namun beberapa jam kemudian—
**Tok.**
Darrien membuka mata.
Ia terdiam.
**Tok. Tok.**
Suara itu terdengar lagi.
Bukan dari pintu.
Dari jendela.
Darrien langsung bangun.
Hawa dingin samar muncul di sekeliling tubuhnya.
Ia berjalan perlahan menuju jendela.
Di luar hanya ada pepohonan.
Tidak ada siapa-siapa.
Kemudian sesuatu bergerak di bawah pohon.
Darrien menyipitkan mata.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Ia membuka jendela sedikit.
“Kalau kau membutuhkan sesuatu, katakan.”
Sebuah suara akhirnya terdengar.
“Jangan takut.”
Darrien langsung menutup jendela.
Fiona terbangun.
“Apa yang terjadi?”
“Diam.”
Darrien berdiri di depan tempat tidur Fiona.
Elarion tiba-tiba muncul dari ruangan sebelah.
“Ada apa?”
Darrien menunjuk jendela.
“Ada seseorang.”
Elarion segera mengambil tongkatnya.
Mereka bertiga berdiri diam.
Beberapa detik kemudian, suara dari luar terdengar lagi.
“Aku tidak datang untuk bertarung.”
Elarion menatap jendela.
“Kalau begitu, tunjukkan dirimu.”
Tidak ada jawaban.
Kemudian sebuah bayangan bergerak keluar dari balik pepohonan.
Seseorang berdiri cukup jauh dari rumah.
Ia tidak mendekat.
Hanya berdiri di bawah cahaya bulan.
Fiona menatapnya.
“Aku tidak bisa melihat wajahnya.”
Darrien juga memperhatikan.
Namun ia bisa merasakan sesuatu.
Sangat samar.
Tidak seperti manusia biasa.
Tidak seperti makhluk liar.
Ada energi sihir yang tenang.
Elarion mengangkat tangan.
“Siapa kau?”
Sosok itu diam beberapa saat.
Kemudian menjawab,
“Seorang pengelana.”
Elarion tidak menurunkan tangannya.
“Dan apa yang kau inginkan?”
Sosok itu menatap rumah.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
Darrien mengerutkan kening.
“Memastikan apa?”
Sosok itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia menatap Darrien cukup lama.
Kemudian berkata,
“Jadi benar…”
Hawa dingin di tubuh Darrien tiba-tiba bergerak.
Elarion langsung menyadarinya.
“Darrien.”
“Aku baik-baik saja.”
Sosok itu mundur satu langkah.
“Aku akan pergi.”
“Tidak semudah itu,” kata Elarion.
Namun sebelum Elarion sempat bergerak, angin tiba-tiba bertiup kencang.
Daun-daun berputar di udara.
Ketika angin berhenti—
sosok itu sudah menghilang.
Fiona menatap tempat kosong itu.
“Dia pergi.”
Elarion berjalan keluar rumah.
Ia memeriksa tanah.
Tidak ada jejak.
Darrien berdiri di dekat pintu.
“Apa dia mengenalku?”
Elarion tidak langsung menjawab.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi dia berkata ‘jadi benar’.”
“Aku mendengarnya.”
Darrien mengepalkan tangannya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kemampuan aneh yang selama ini mereka sembunyikan mungkin bukan rahasia yang hanya mereka ketahui.
Ada seseorang di luar sana…
yang mulai menyadari keberadaan mereka.
Dan mereka belum tahu apakah orang itu datang sebagai teman—
atau sebagai ancaman.
Share this novel