Series
94
BAB 77
PERTEMPURAN DI LEMBAH
Angin di lembah tiba-tiba berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian—
“Serang!”
Para penjaga Ardika bergerak lebih dulu.
Kevin mengangkat tangannya.
Sebuah penghalang besar muncul di hadapan mereka.
**BOOM!**
Serangan pertama menghantam penghalang.
Darrien berdiri di belakangnya.
“Fiona, tetap di belakangku.”
Fiona mengangguk.
Namun kali ini ia tidak hanya bersembunyi.
Ia tahu Darrien sedang bertarung untuk melindunginya.
Ace bergerak ke sisi kiri.
Elarion ke kanan.
Kevin mempertahankan garis depan.
Pertempuran langsung pecah.
Pedang beradu.
Sihir meledak.
Tanah lembah retak.
***
Darrien bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Satu penjaga menyerang.
Ia menghindar.
Bayangan menutupi kaki lawannya.
Es muncul dari tanah.
Penjaga itu terjatuh.
Darrien tidak berhenti.
Serangan kedua datang.
Ia membentuk penghalang.
Kemudian membalas dengan sihir es.
**BOOM!**
Penjaga itu terpental.
Kevin melihatnya dari kejauhan.
“Tiga minggu.”
Ia tersenyum kecil.
“Tidak sia-sia.”
***
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Beberapa penjaga berhasil melewati garis depan.
Fiona mundur.
Darrien langsung kembali ke sisinya.
“Jangan jauh dariku.”
“Aku tidak akan.”
Kemudian sebuah serangan datang dari samping.
Darrien menahannya.
Namun serangan lain menyusul.
Fiona mengangkat tangannya.
Sihir kecil muncul.
Ia membantu memperkuat penghalang.
Darrien menoleh.
“Kau juga belajar?”
Fiona tersenyum.
“Sedikit.”
“Bagus.”
Untuk sesaat—
mereka berdiri berdampingan.
Bertarung bersama.
***
Di sisi lain lembah—
Surya memperhatikan mereka.
“Pisahkan mereka.”
Marcus terdiam.
“Tuan…”
“Lakukan.”
Marcus mengangguk.
Para penjaga segera mengubah arah.
Target mereka bukan lagi Darrien.
Melainkan Fiona.
Darrien langsung menyadarinya.
“Jangan sentuh dia!”
Sihir hitam meledak dari tubuhnya.
Beberapa penjaga terpental.
Kevin langsung menoleh.
“Darrien!”
Darrien menarik napas panjang.
Ia menahan dirinya.
Belum.
Ia tidak boleh kehilangan kendali.
***
Keith Varian akhirnya bergerak.
Ia mengangkat tangannya.
Sebuah mantra tingkat tinggi terbentuk.
Elarion langsung memasang penghalang.
**BOOM!**
Tubuh Elarion terdorong beberapa langkah.
Kevin segera membantunya.
“Dia kuat.”
Elarion mengangguk.
“Ya.”
Ace menyerang dari samping.
Keith menghindar.
Clara mulai menggunakan sihir penyembuhan untuk para penjaga Varian.
Clark berdiri di belakang mereka.
Namun matanya terus mencari Fiona.
Ia melihat gadis itu.
Dan melihat bagaimana Darrien terus melindunginya.
Saat itu—
Clark akhirnya memahami sesuatu.
Fiona tidak hanya melarikan diri dari pernikahan.
Ia memilih seseorang.
***
Pertempuran semakin kacau.
Sihir beterbangan dari segala arah.
Darrien mulai kelelahan.
Namun ia tetap berdiri.
Fiona berada tidak jauh di belakangnya.
Kemudian—
Surya sendiri maju.
“Fiona.”
Fiona menatapnya.
“Pulang.”
“Tidak.”
“Kalau begitu…”
Surya mengangkat tangannya.
“…buat pilihanmu.”
Fiona menggenggam tangan Darrien.
“Aku sudah memilih.”
Surya menghela napas.
“Kalau begitu…”
Ia memberi isyarat.
Beberapa penjaga bergerak.
Darrien langsung bersiap.
Satu penjaga menyerang dari depan.
Darrien menahannya.
Penjaga lain datang dari samping.
Darrien berbalik.
Terlalu banyak.
Terlalu cepat.
Namun kemudian—
sebuah kilatan logam muncul dari belakang.
Salah satu penjaga telah berhasil melewati pertahanan.
Bilah pedangnya terangkat.
Dan arahnya—
tepat menuju Darrien.
“Darrien!”
Tidak ada yang sempat bereaksi.
Tidak Kevin.
Tidak Elarion.
Tidak Ace.
Bahkan Darrien sendiri belum sempat berbalik.
Namun Fiona melihatnya.
Matanya membesar.
Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Ia tidak berpikir.
Tidak menghitung.
Tidak mempertimbangkan risiko.
Kakinya melangkah.
Tubuhnya berputar.
Tangannya mendorong Darrien menjauh.
“Fiona?!”
Terlambat.
**SRET!**
Bilah itu mengenai Fiona.
Tubuhnya tersentak.
Darrien membeku.
Waktu seolah berhenti.
Fiona berdiri tepat di depannya.
Beberapa detik—
ia hanya menatap Darrien.
Seolah dirinya sendiri tidak mengerti apa yang baru saja dilakukan.
Kemudian lututnya melemah.
Darrien langsung menangkap tubuhnya.
“Fiona!”
Suara Darrien pecah.
Fiona bersandar di dadanya.
Ia masih sadar.
Namun napasnya mulai tidak teratur.
Darrien menatapnya dengan wajah pucat.
“Kenapa…”
Fiona mencoba tersenyum.
“Aku…”
Ia menarik napas.
“…melihat pedangnya.”
Darrien menatapnya tidak percaya.
“Kau seharusnya tidak bergerak!”
Fiona tertawa kecil meskipun wajahnya pucat.
“Aku juga tidak sempat berpikir.”
Darrien menatap luka itu.
Tangannya mulai gemetar.
“Fiona…”
Seketika—
seluruh suara pertempuran terasa jauh.
Ia kembali mengingat sesuatu.
Sebuah pedang.
Darah.
Saat seseorang mengarahkan bilah ke lehernya—
dan Fiona menyerahkan dirinya agar dia tidak terluka.
Namun kali ini—
Fiona tidak menyerahkan dirinya.
Ia **melangkah ke depan.**
Ia memilih melindunginya.
Tanpa berpikir.
Tanpa ragu.
Darrien memeluknya lebih erat.
“Kenapa kau selalu melakukan ini?”
Fiona menatapnya.
“Karena…”
Ia tersenyum lemah.
“…aku tidak mau melihatmu terluka.”
setelah itu, tubuh Fiona tidak ada respon lagi.
"Fiona?"
Tiada jawaban.
Hanya sekujur tubuh yang tinggal di pelukannya.
Mata Darrien bergetar.
Kemudian—
ia mengangkat kepalanya.
Sesuatu berubah dalam tatapannya.
Kevin langsung menyadarinya.
“Darrien…”
Elarion juga berhenti.
Ia merasakan energi yang mulai meningkat.
Ace menoleh.
“Tidak…”
Darrien berdiri perlahan.
Masih memegang Fiona dengan satu tangan.
Namun hawa gelap mulai menyebar dari tubuhnya.
Tanah di bawah kakinya retak.
Angin di lembah berubah.
Sihir hitam berputar di sekelilingnya.
Surya menatapnya.
“Apa…”
Darrien mengangkat wajah.
Matanya tidak lagi seperti sebelumnya.
Energi yang selama ini ia tahan mulai bangkit.
Semakin kuat.
Semakin gelap.
Semakin liar.
Kevin mengepalkan tangannya.
“Darrien…”
Elarion menatapnya dengan serius.
“Segelnya…”
Retakan energi mulai muncul di sekitar tubuh Darrien.
**KRAK.**
Satu.
**KRAK.**
Dua.
Kemudian—
**BOOOOOOM!**
Ledakan sihir menghantam seluruh lembah.
Para penjaga terpental.
Pohon-pohon berguncang.
Tanah terbelah.
Semua orang terdiam.
Darrien berdiri di tengah badai energi gelap.
Fiona masih berada dalam pelukannya.
Dan kali ini—
tidak ada lagi yang mampu menghentikan apa yang akan keluar dari dirinya.
Karena seseorang baru saja menyakiti orang yang paling tidak ingin ia kehilangan.
Dan tanpa seorang pun menyadarinya—
segel kuno yang selama ini menahan kekuatannya…
telah menemukan alasan untuk mulai reta.
Share this novel