231. Cahaya Yang Terlanjur Lihat

Romance Series 382

BAB 231

Debu perlahan mulai mengendap.

Suara benturan yang sejak tadi memenuhi battlefield akhirnya menghilang.

Barrier di sekeliling arena perlahan memudar.

Darrien berdiri di tengah lapangan dengan napas yang masih berat.

Tubuhnya terasa lelah.

Sangat lelah.

Namun kali ini—

ia tidak merasa seperti baru saja dihancurkan.

Ada sesuatu yang berbeda.

Ia berhasil mengikuti gerakan Kevin lebih lama.

Ia berhasil membaca beberapa serangan.

Bahkan sempat membuat Kevin mundur.

Bagi Darrien—

itu sudah cukup untuk membuatnya merasa bahwa semua penderitaan selama beberapa hari terakhir tidak sia-sia.

Ia mengangkat wajah.

Kevin sudah berjalan keluar dari battlefield.

Ace dan Rowan mengikuti di belakangnya.

Kevin tidak menoleh.

Tidak mengatakan apa-apa lagi.

Hanya satu kalimat yang masih tertinggal di kepala Darrien.

**“Besok, bawa Fiona masuk ke battlefield.”**

Darrien mengerutkan kening.

Ia menoleh ke arah Fiona.

Namun—

Fiona tidak bergerak.

Gadis itu masih berdiri di tempat yang sama sejak Kevin pergi.

Diam.

Tidak bergerak.

Matanya menatap tangannya sendiri.

Wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa dirinya telah membuat kesalahan terbesar hari itu.

Darrien berkedip.

“Fiona?”

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah mendekat.

“Fiona?”

Masih tidak ada jawaban.

Darrien akhirnya berdiri tepat di depannya.

Fiona masih menatap pergelangan tangannya.

Cahaya yang tadi muncul sudah menghilang.

Namun Fiona masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Cahaya kecil itu.

Hanya sedikit.

Ia bahkan tidak bermaksud menunjukkannya.

Ia hanya ingin mencoba merasakan aliran energi yang sedang ia lihat dari Kevin.

Dan sekarang—

Kevin melihatnya.

Fiona perlahan mengepalkan tangannya.

“…”

*Kenapa aku harus menggunakan Light Magic tadi?*

Ia menghela napas.

*Kenapa tidak diam saja?*

*Kenapa harus mencoba?*

*Kenapa Kevin melihatnya?*

“Fiona.”

Suara Darrien kembali terdengar.

Kali ini lebih lembut.

Fiona akhirnya mengangkat wajah.

“Hmm?”

Darrien langsung terdiam.

Matanya sedikit melebar.

Mata Fiona terlihat berkaca-kaca.

“Kenapa?”

Fiona cepat-cepat menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Darrien menatapnya.

“Benarkah?”

Fiona mengangguk.

“Benar.”

Namun suaranya tidak terdengar meyakinkan.

Darrien melirik ke arah battlefield.

Kemudian kembali melihat Fiona.

“Karena Kevin?”

Fiona menundukkan kepala.

“…Sedikit.”

Darrien hampir tersenyum.

“Takut?”

Fiona langsung mengangkat wajah.

“Bukan!”

Jawabannya terlalu cepat.

Darrien akhirnya tertawa kecil.

“Baiklah.”

“Aku tidak takut.”

“Ya.”

“Aku hanya…”

Fiona menghela napas.

“…menyesal.”

Darrien mengerutkan kening.

“Menyesal?”

Fiona mengangkat tangannya.

“Aku tidak seharusnya menggunakan Light Magic tadi.”

Darrien terdiam.

“Kenapa?”

“Karena sekarang Kevin melihatnya.”

“Dan?”

Fiona menatapnya dengan wajah serius.

“Dia menyuruhmu membawaku ke battlefield besok!”

Darrien terdiam.

Kemudian—

ia tersenyum.

Fiona langsung memelototinya.

“Jangan tertawa!”

“Aku tidak tertawa.”

“Kau tersenyum!”

Darrien berusaha menahan tawanya.

“Maaf.”

Fiona mengembungkan pipinya.

“Aku hanya ingin menonton.”

“Aku ingin belajar dari luar.”

“Sekarang aku malah harus masuk ke dalam.”

Darrien mengangguk.

“Sepertinya begitu.”

Fiona menatapnya tidak percaya.

“Kau tidak akan membelaku?”

Darrien tertawa kecil.

“Aku akan bersamamu.”

Fiona berhenti.

“Apa?”

“Kalau Kevin benar-benar melatihmu besok…”

Darrien menatapnya.

“…aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian.”

Fiona perlahan tersenyum.

“Benarkah?”

“Benar.”

Fiona akhirnya sedikit lega.

Namun hanya beberapa detik.

Ia kembali teringat Kevin.

Wajahnya langsung berubah.

“Tapi…”

Darrien menunggu.

“Aku tetap menyesal.”

Darrien tertawa.

“Kau sudah terlambat.”

Fiona memukul lengannya pelan.

“Jangan mengejekku.”

***

Tidak jauh dari mereka—

Elarion masih berdiri.

Ia tidak ikut tertawa.

Tatapannya tertuju pada arah Kevin pergi.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Bukan tentang latihan Darrien.

Bukan juga tentang bagaimana Fiona takut masuk ke battlefield.

Melainkan—

cara Kevin melihat Fiona.

Elarion masih mengingatnya dengan jelas.

Kevin tidak sekadar melihat cahaya itu.

Ia mengamati.

Seolah-olah mencoba memahami sesuatu.

Elarion menghela napas pelan.

“Menarik…”

Fiona yang mendengarnya langsung menoleh.

“Apa yang menarik?”

Elarion tersenyum kecil.

“Tidak ada.”

“Elarion.”

“Hm?”

“Kau tersenyum aneh.”

Elarion tertawa kecil.

“Aku hanya berpikir tentang latihan besok.”

Fiona langsung mengerang.

“Jangan mengingatkanku.”

Darrien tertawa.

Elarion kemudian kembali melihat battlefield.

“Kevin bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan.”

Fiona terdiam.

Darrien juga berhenti tertawa.

“Apa maksudmu?”

Elarion tidak langsung menjawab.

Ia melihat ke arah pintu tempat Kevin tadi pergi.

“Dia melihat sesuatu.”

Fiona menelan ludah.

“Apa?”

Elarion menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

“Dan justru itu yang membuatku penasaran.”

Darrien mengerutkan kening.

“Menurutmu dia akan melakukan apa?”

Elarion tersenyum tipis.

“Besok kita akan tahu.”

Fiona langsung menghela napas.

“Aku tidak suka jawaban itu.”

Elarion tertawa kecil.

“Sayangnya, aku juga tidak punya jawaban lain.”

***

Sementara itu—

di koridor menuju area penjaga—

Kevin berjalan dengan tenang.

Ace dan Rowan mengikutinya.

Keduanya masih membicarakan latihan tadi.

Namun Kevin tidak banyak menjawab.

Ia hanya berjalan.

Sampai akhirnya—

Rowan bertanya,

“Kevin.”

“Hm?”

“Kenapa Fiona harus masuk besok?”

Kevin berhenti.

Ace juga ikut berhenti.

Kevin menoleh kepada mereka.

“Karena dia belajar.”

Ace mengangkat alis.

“Dengan menonton?”

“Ya.”

“Lalu?”

Kevin menatap telapak tangannya sendiri.

“Dia mencoba mengikuti aliran energi.”

Rowan terdiam.

Kevin melanjutkan,

“Dia tidak sadar bahwa dirinya sedang melakukannya.”

Ace mengerutkan kening.

“Dan itu bagus?”

Kevin tersenyum tipis.

“Belum tahu.”

Ia kembali berjalan.

“Tapi kalau dia bisa merasakan sesuatu hanya dengan melihat…”

Kevin berhenti sebentar.

“…aku ingin melihat apa yang terjadi ketika dia berada di tengah pertarungan.”

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Kevin kemudian menambahkan,

“Besok bukan hanya Darrien yang akan belajar.”

Lalu ia berjalan pergi.

Meninggalkan Ace dan Rowan dalam keheningan.

***

Kembali di battlefield—

Fiona masih berdiri di samping Darrien.

Ia menatap pergelangan tangannya.

Gelang dengan simbol daun perak masih berada di sana.

Cahaya kecil yang tadi muncul sudah hilang.

Namun untuk beberapa alasan—

Fiona merasa seolah-olah gelang itu masih menyimpan sisa kehangatan.

Ia mengusapnya perlahan.

“…”

Darrien memperhatikan.

“Ada apa?”

Fiona menggeleng.

“Tidak tahu.”

Ia menatap gelang itu sekali lagi.

Kemudian menghela napas.

“Besok…”

Darrien menunggu.

Fiona menatapnya dengan wajah pasrah.

“Aku benar-benar harus masuk ke battlefield?”

Darrien tersenyum.

“Sepertinya.”

Fiona menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa…”

Elarion tertawa kecil.

“Karena kau terlalu penasaran.”

Fiona mengintip dari sela jarinya.

“…Mungkin.”

Namun tidak ada seorang pun dari mereka yang tahu—

bahwa keputusan Kevin untuk membawa Fiona ke battlefield besok bukan hanya karena ia ingin menguji kemampuan Light Magic-nya.

Ada sesuatu yang Kevin lihat.

Sesuatu yang bahkan Fiona sendiri belum sadari.

Dan jika pengamatannya benar—

**latihan besok mungkin akan menunjukkan kemampuan Fiona yang bahkan belum pernah ia gunakan sebelumnya.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience