412. Sesuatu Yang Berubah

Romance Completed 594

BAB 412 — SESUATU YANG BERUBAH

Shadowcresent—

Malam kembali menyelimuti kerajaan.

Langit berubah menjadi marun gelap.

Cahaya bulan sabit merah perlahan muncul di antara awan.

Fiona telah kembali ke kamar Raizen.

Atau—

seperti yang mulai ia sebut dalam pikirannya—

penjaranya.

Ia duduk di sisi tempat tidur.

Kedua tangannya berada di atas pangkuan.

Tatapannya kosong mengarah ke lantai.

Hari ini—

ia telah melihat sesuatu yang berbeda.

Taman.

Mawar hitam.

Kolam gelap.

Koridor kuno.

Untuk beberapa saat, ia bahkan berhasil melupakan bahwa dirinya sedang ditahan.

Namun setelah kembali ke kamar—

kenyataan kembali menghantamnya.

Ia masih berada di Shadowcresent.

Magicure-nya masih tersegel.

Darrien masih jauh.

Dan ia tidak tahu kapan akan bisa kembali.

Fiona menarik napas panjang.

“Darrien…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia menundukkan kepala.

“Ace…”

Kemudian—

“Rowan…”

“Elyon…”

“Elarion…”

Ia merindukan semuanya.

Istana Veyth.

Hari-hari mereka bersama.

Makanan.

Latihan.

Percakapan kecil.

Tawa.

Kemudian—

wajah Darrien kembali muncul dalam pikirannya.

Fiona menggigit bibir.

“Aku merindukan kalian…”

Air mata perlahan jatuh.

Satu.

Kemudian satu lagi.

Fiona segera mengusapnya.

“Tidak.”

Ia menarik napas.

“Aku tidak boleh menangis.”

Ia mengusap pipinya lagi.

“Tidak di depan dia.”

Raizen.

Ia tidak ingin Raja Vampire itu melihat kelemahannya.

Ia tidak ingin memberinya alasan untuk berpikir bahwa dirinya telah berhasil membuat Fiona menyerah.

Fiona memejamkan mata.

Namun semakin ia mencoba menahan—

semakin banyak air mata yang jatuh.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tidak ada suara tangisan.

Hanya bahunya yang bergerak perlahan.

“Darrien…”

Ia berbisik di antara napas yang bergetar.

“Cepatlah…”

Fiona menghapus air matanya.

“Aku masih menunggumu.”

***

Taman Shadowcresent.

Raizen berdiri sendirian.

Tidak ada Mufasa.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada pelayan.

Hanya dirinya—

dan taman yang selama ribuan tahun menjadi tempat favoritnya.

Angin malam bergerak perlahan.

Mawar hitam bergoyang.

Daun-daun tua berdesir.

Raizen berdiri di jalur batu yang sama yang dilewati Fiona sebelumnya.

Tatapannya mengarah ke taman.

Namun—

entah mengapa—

malam itu terasa berbeda.

Ia melihat sebuah bangku batu.

Tempat Fiona duduk tadi.

Kemudian kolam.

Tempat Fiona berhenti cukup lama.

Kemudian—

sebuah mawar hitam.

Raizen melangkah mendekatinya.

Ia berhenti di depan bunga tersebut.

Tangannya hampir menyentuh kelopaknya.

Namun berhenti.

Tatapannya berubah sedikit.

Ia teringat Fiona.

Cara perempuan itu memperhatikan bunga tersebut.

Cara matanya berbinar ketika melihat sesuatu yang baru.

Cara ia mencoba menyembunyikan rasa kagumnya.

Kemudian—

suara Fiona seakan kembali terdengar di dalam pikirannya.

*“Indah.”*

Raizen terdiam.

Ia menatap bangku batu.

Kosong.

Kemudian menatap jalan.

Kosong.

Untuk pertama kalinya—

taman yang selama ribuan tahun memberinya ketenangan—

terasa terlalu sunyi.

Raizen mengerutkan kening.

“…”

Ia mengangkat tangan.

Perlahan—

telapak tangannya menyentuh bagian kiri dadanya.

Jantungnya.

Detaknya terasa sedikit berbeda.

Tidak cepat.

Namun—

berat.

Raizen berdiri diam.

“Apa…”

Ia menunduk melihat tangannya.

“…yang terjadi?”

Ia kembali melihat taman.

Bayangan Fiona masih terasa ada di sana.

Bukan secara nyata.

Namun cukup kuat untuk membuatnya merasa seolah perempuan itu masih duduk di bangku tersebut.

Raizen menghela napas.

“Ini aneh.”

Ia telah hidup selama ribuan tahun.

Ia telah merasakan kehilangan.

Kemarahan.

Kesendirian.

Kemenangan.

Kekalahan.

Namun perasaan seperti ini—

berbeda.

Ia kembali memegang dadanya.

“Something might be wrong with me…”

Suaranya sangat pelan.

Raizen menatap bulan merah di atas taman.

Kemudian—

ia kembali melihat bangku kosong itu.

“…”

Untuk beberapa saat—

ia tidak bergerak.

Tidak kembali ke ruang kerja.

Tidak kembali ke kamarnya.

Ia hanya berdiri di sana.

Membiarkan angin malam melewati rambut silver-gray miliknya.

Dan tanpa ia sadari—

untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun,

ia mulai merasakan bahwa taman yang biasanya menjadi tempat kesendiriannya—

mungkin tidak lagi terasa lengkap ketika ia sendirian.

Karena seseorang baru saja datang ke dalam hidupnya.

Seseorang yang bahkan belum ia pahami.

Seseorang yang terus mengatakan bahwa ia akan pergi.

Seseorang yang masih menunggu pria lain.

Raizen menutup matanya sebentar.

Kemudian membuka kembali.

“Fiona…”

Nama itu keluar begitu saja.

Ia terdiam setelah mengucapkannya.

Tatapannya kembali kepada bulan.

Dan untuk pertama kalinya—

Raizen tidak yakin apakah yang berubah adalah dirinya…

atau taman yang selama ribuan tahun selalu terasa sama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience