58. Kabar Tentang Pernikahan

Romance Series 94

BAB 58
KABAR TENTANG PERNIKAHAN

Pagi itu, latihan Darrien berlangsung seperti biasa.

Sebuah kristal hitam melayang di hadapannya.

Darrien berdiri dengan kedua tangan terangkat.

Hawa dingin perlahan mengelilingi kristal tersebut.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada retakan.

Es terbentuk dengan sempurna di permukaannya.

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien menurunkan tangannya.

“Selanjutnya.”

Kevin hendak mengambil kristal lain ketika sebuah suara terdengar dari balik pepohonan.

“Kevin.”

Kevin berhenti.

Ia menoleh.

Ace berjalan keluar dari antara pepohonan.

Darrien langsung memperhatikannya.

Ia sudah beberapa kali melihat pria itu di sekitar hutan, tetapi mereka tidak pernah benar-benar berbicara.

Ace berhenti di hadapan Kevin.

“Kita perlu bicara.”

Kevin menatapnya sejenak.

“Ada kabar?”

Darrien mengerutkan kening.

Mereka saling mengenal?

Ia tidak pernah tahu.

Ace mengangguk.

“Ada perkembangan dari kota.”

Elarion yang sedang membawa beberapa tanaman dari dalam rumah ikut keluar.

“Apa yang terjadi?”

Ace menatap Elarion.

Kemudian ia menarik napas.

“Ini mengenai Fiona.”

Darrien langsung menoleh.

“Apa?”

Ace terdiam sesaat.

“Keluarga Ardika telah memutuskan untuk menggunakan Fiona sebagai pengganti putri mereka.”

Darrien membeku.

Kevin melirik Ace.

“Secepat itu?”

Ace mengangguk.

“Tekanan dari keluarga Varian semakin kuat.”

Darrien menatap Ace.

“Pengganti?”

Ace melanjutkan.

“Pernikahan yang selama ini ditunda akan segera dilanjutkan.”

Hening.

Darrien tidak bergerak.

“Pernikahan…”

Ace mengangguk.

“Dengan Clark Varian.”

Sesuatu di dalam diri Darrien runtuh.

Kemudian—

**BOOM!**

Sihir hitam meledak dari tubuhnya.

Tanah di bawah kakinya retak.

Pepohonan berguncang keras.

Hawa dingin bercampur energi gelap menyebar ke segala arah.

Elarion langsung memasang penghalang.

“Darrien!”

Darrien tidak menjawab.

Matanya dipenuhi amarah.

“Tidak.”

Sihir hitam kembali meledak.

“Aku akan mengambilnya.”

Ia berbalik hendak berlari.

Kevin langsung bergerak.

“Darrien!”

Sebuah penghalang muncul di depan anak itu.

**BOOM!**

Darrien menghantamnya dengan sihir.

“Singkirkan!”

“Tidak.”

“Aku harus pergi!”

“Dalam keadaan seperti ini?”

Kevin menahan tekanan sihirnya.

“Kau bahkan tidak bisa mengendalikan kekuatanmu sendiri!”

“Aku tidak peduli!”

Darrien mengangkat tangannya.

Es hitam terbentuk di udara.

Ace langsung bergerak.

“Berhenti.”

Darrien menoleh tajam.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menikahkannya!”

“Aku tahu.”

Ace tetap tenang.

“Tapi kau tidak bisa pergi seperti ini.”

“Aku bisa!”

Darrien mencoba melangkah maju.

Elarion segera berdiri di samping Kevin.

“Darrien.”

“Jangan hentikan aku!”

“Kami bukan menghentikanmu untuk menyelamatkan Fiona.”

Elarion menatapnya tajam.

“Kami menghentikanmu karena kau akan mati sebelum sampai ke sana.”

Darrien terdiam.

Napasnya berat.

Sihir hitam masih berputar liar di sekeliling tubuhnya.

Kevin perlahan menurunkan penghalangnya.

“Lihat tanganmu.”

Darrien menatap tangannya.

Jari-jarinya gemetar.

Es hitam merayap di sepanjang lengannya.

Kevin berkata,

“Ini bukan kendali.”

Darrien mengepalkan tangannya.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Kevin.

“Ajari aku.”

Kevin diam.

“Aku akan belajar.”

Darrien menarik napas.

“Semua yang kau tahu.”

Tatapan Kevin berubah.

Ia tahu anak itu serius.

Namun sebelum Kevin menjawab, Ace berkata,

“Informasi ini belum lengkap.”

Darrien menoleh.

“Apa maksudmu?”

Ace menjawab tenang.

“Kami belum mengetahui kapan pernikahan itu akan dilaksanakan.”

“Kami?”

Darrien memperhatikan kata itu.

Kevin dan Ace saling bertukar pandangan singkat.

Terlalu singkat untuk menarik perhatian Elarion.

Namun cukup bagi keduanya untuk memahami satu sama lain.

Ace melanjutkan,

“Aku akan mencari tahu.”

Darrien menatapnya.

“Dan setelah kau tahu?”

“Aku akan memberitahumu.”

Darrien mengangguk.

Ia kemudian menatap jalan di depan.

Sihir hitam perlahan mulai surut.

Namun amarahnya belum.

“Kalau begitu aku akan menunggu.”

Kevin menatapnya.

“Bagus.”

Darrien menggeleng.

“Bukan menunggu tanpa melakukan apa-apa.”

Ia kembali menatap Kevin.

“Latih aku.”

Kevin tersenyum tipis.

“Baik.”

Elarion menghela napas.

“Dan kau akan beristirahat ketika tubuhmu membutuhkannya.”

Darrien tidak menjawab.

Elarion menatapnya.

“Darrien.”

“…Baik.”

Ace memperhatikan anak itu beberapa saat.

Kemudian berbalik.

“Aku akan pergi.”

Kevin mengangguk.

“Berhati-hatilah.”

Darrien memperhatikan keduanya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Namun sebuah pertanyaan kecil mulai muncul dalam pikirannya.

**Sejak kapan Kevin dan pria itu saling mengenal?**

Ia tidak tahu.

Dan untuk sekarang, pertanyaan itu kalah penting dibanding satu hal lain.

Fiona.

Gadis yang selama ini selalu berada di sisinya…

sekarang sedang dipersiapkan untuk menikah dengan orang lain.

Darrien mengepalkan tangan.

Tidak ada lagi senyum di wajahnya.

“Kevin.”

“Hm?”

“Mulai sekarang…”

Hawa dingin kembali muncul di telapak tangannya.

“…jangan beri aku latihan mudah.”

Kevin menatapnya.

Kemudian tersenyum kecil.

“Dengan senang hati.”

Di belakang mereka, Elarion hanya bisa menghela napas.

Dan Ace yang sudah berjalan menjauh…

tersenyum tipis.

Karena untuk pertama kalinya, anak yang selama ini ia awasi mulai benar-benar memahami arti dari kekuatannya.

Bukan untuk menunjukkan bahwa ia kuat.

Tetapi karena ada seseorang yang ingin ia lindungi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience