245. Pewaris Yang Kembali

Romance Series 382

BAB 245

Suasana Crystal Hall perlahan berubah setelah kedatangan rombongan Lunaris.

King Edward segera berjalan menyambut tamu yang baru tiba.

Gloria berada di sampingnya.

Keduanya tampak sedikit terkejut.

Bukan karena Lunaris datang.

Namun karena—

King Zeith dan Queen Seraphine datang secara langsung.

Edward tersenyum ketika mereka akhirnya berdiri berhadapan.

“Yang Mulia King Zeith.”

Zeith membalas senyuman itu.

“King Edward.”

Keduanya saling memberi hormat.

Edward kemudian menoleh kepada Seraphine.

“Yang Mulia Queen Seraphine.”

Seraphine tersenyum anggun.

“Suatu kehormatan dapat kembali mengunjungi Veyth.”

Gloria ikut maju.

“Kami justru yang merasa terhormat.”

Ia tersenyum.

“Kami tidak menyangka kedua Yang Mulia akan datang secara langsung.”

Zeith tertawa kecil.

“Acara seperti ini terlalu penting untuk kami lewatkan.”

Edward mengangguk.

“Kami sangat berterima kasih.”

Seraphine kemudian melirik ke arah Crystal Hall.

“Kami juga memiliki alasan lain.”

Edward mengangkat alis.

“Alasan lain?”

Seraphine hanya tersenyum.

“Nanti akan kami bicarakan.”

Edward tidak memaksa.

“Kalau begitu, silakan menikmati perayaan.”

Zeith mengangguk.

“Tentu.”

Kemudian Edward menoleh kepada Elyon.

Tatapannya berhenti sesaat.

“Dan…”

Ia tersenyum.

“Selamat datang di Veyth, Penasihat Agung Lunaris.”

Elyon menundukkan kepala.

“Terima kasih atas sambutannya, Yang Mulia.”

Edward mengangguk.

“Sebuah kehormatan menerima kehadiranmu.”

Elyon hanya tersenyum tipis.

Namun matanya—

sempat bergerak melewati bahu Edward.

Menuju Crystal Hall.

Menuju satu orang.

Fiona.

***

Setelah penyambutan selesai—

para tamu kembali ke tempat mereka.

Musik kembali dimainkan.

Pelayan mulai menghidangkan makanan.

Percakapan perlahan memenuhi aula.

Suasana kembali seperti pesta.

Namun—

ada satu hal yang belum dilakukan.

Perkenalan pewaris Veyth.

King Edward akhirnya berjalan menuju bagian tengah Crystal Hall.

Suara musik perlahan berhenti.

Para tamu mulai memperhatikan.

Edward berdiri di depan mereka.

“Para tamu yang terhormat.”

Suasana menjadi tenang.

“Hari ini adalah hari yang sangat berarti bagi keluarga kerajaan Veyth.”

Ia berhenti sebentar.

“Bertahun-tahun kami mencari seseorang yang telah hilang dari kehidupan kami.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Edward melanjutkan.

“Selama bertahun-tahun…”

Tatapannya berubah sedikit lembut.

“Kami tidak pernah berhenti mencarinya.”

Gloria berdiri beberapa langkah di belakang.

Wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Edward kemudian berkata,

“Dan akhirnya…”

Ia tersenyum.

“Setelah pencarian yang panjang…”

Ia mengangkat tangannya.

“Putra kami telah kembali.”

Semua perhatian tertuju kepada Fiona dan Elarion yang berdiri di sisi ruangan.

Darrien yang sebelumnya berada di dekat Fiona akhirnya bergerak.

Satu langkah.

Dua langkah.

Ia berjalan menuju bagian tengah Crystal Hall.

Fiona memperhatikannya.

Darrien menoleh sebentar.

Tatapan mereka bertemu.

Fiona tersenyum.

Darrien membalasnya.

Kemudian ia terus berjalan.

Hingga akhirnya—

ia berdiri di samping Raja Edward dan Ratu Gloria.

Edward meletakkan tangan di bahunya.

“Perkenalkan.”

Suaranya terdengar jelas di seluruh aula.

“Darrien Veyth.”

“Pewaris kerajaan Veyth.”

Tepuk tangan langsung terdengar.

Namun—

tidak semua orang bertepuk tangan.

Karena beberapa orang justru—

terdiam.

***

Surya Ardika membeku.

Matanya tertuju kepada pemuda yang berdiri di tengah aula.

“…Darrien?”

Susanti yang berdiri di sampingnya juga terdiam.

Lola mengerutkan kening.

Marcus memperhatikan dengan lebih hati-hati.

Tidak jauh dari mereka—

Keith Varian juga berhenti bergerak.

Clara menatap ke arah tengah aula.

Clark bahkan tidak berkedip.

Mereka semua memiliki pemikiran yang hampir sama.

**Itu bukan anak yang mereka kenal.**

Bukan wajah yang mereka ingat.

Bukan penampilan yang mereka lihat beberapa bulan lalu.

Bahkan aura fisiknya terasa jauh lebih matang.

Namun—

ada sesuatu.

Sesuatu yang membuat mereka tidak mampu mengalihkan pandangan.

Surya memperhatikan lebih lama.

“Aneh…”

Susanti menoleh.

“Apa?”

Surya menggeleng.

“Tidak tahu.”

Ia kembali melihat Darrien.

“Wajahnya berbeda.”

Marcus mengangguk.

“Jelas berbeda.”

Lola perlahan berdiri sedikit lebih tegak.

“Tapi…”

Ia berhenti.

“Kenapa rasanya familiar?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena mereka semua merasakan hal yang sama.

***

Di sisi Varian—

Clark menatap Darrien.

“Bukan dia.”

Keith mengangguk.

“Wajahnya bukan.”

Clara menyipitkan mata.

“Namun…”

Ia juga merasakan sesuatu.

“Auranya.”

Clark menoleh.

Keith tidak menjawab.

Ia hanya terus melihat Darrien.

Beberapa bulan lalu—

mereka pernah mengejar seorang pemuda.

Seorang anak yang tidak mereka pahami.

Seorang pemuda yang wajahnya masih jauh berbeda.

Namun aura itu—

tidak pernah mereka lupakan.

Dan sekarang—

aura yang sama berdiri di depan mereka.

Hanya saja—

pemiliknya terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda.

Keith akhirnya berkata pelan,

“Jangan terburu-buru menyimpulkan.”

Clark mengangguk.

“Ya.”

***

Di sisi Ardika—

Surya juga mengatakan hal yang sama.

“Jangan langsung berpikir dia orang yang sama.”

Susanti mengangguk.

“Kita hanya merasakan aura yang mirip.”

Marcus tersenyum kecil.

“Bisa jadi kebetulan.”

Namun Lola masih menatap Darrien.

Tatapannya sedikit berbeda.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya memperhatikan.

Seolah-olah ada sesuatu di dalam dirinya yang terus berkata—

**orang itu familiar.**

***

Di tengah aula—

Darrien berdiri tenang.

Ia melihat seluruh tamu.

Begitu banyak wajah.

Begitu banyak orang yang belum pernah ia kenal.

Namun ada beberapa tatapan yang terasa aneh.

Seperti—

mereka pernah melihatnya sebelumnya.

Darrien tidak tahu kenapa.

Fiona yang berdiri agak jauh memperhatikan hal tersebut.

Ia melihat Surya.

Kemudian Keith.

Kemudian beberapa orang lain.

Ia mengenali mereka.

Namun tidak mengatakan apa-apa.

Darrien akhirnya menoleh ke arah Fiona.

Fiona memberikan senyum kecil.

Darrien membalasnya.

***

Edward kemudian mengangkat gelas.

“Untuk hari ini.”

Para tamu mengikuti.

“Untuk kembalinya pewaris Veyth.”

Suara gelas beradu terdengar.

“Untuk Darrien Veyth!”

“Untuk Darrien!”

Tepuk tangan kembali memenuhi aula.

Darrien menundukkan kepala.

“Terima kasih atas kedatangannya.”

Kemudian—

ia kembali ke sisi keluarganya.

Namun kali ini—

Fiona tidak lagi berdiri tepat di sampingnya.

Darrien sudah berdiri sebagai pewaris Veyth di tengah keluarga kerajaan.

Dan beberapa mata dari masa lalu masih mengikutinya.

***

Lola akhirnya menoleh kepada Clark.

“Menurutmu…”

Clark menatapnya.

“Apa?”

“Fiona.”

Clark berkedip.

“Kenapa dengan Fiona?”

Lola melihat ke arah tempat Fiona berdiri.

“Dia ada di sini, kan?”

Clark mengikuti pandangannya.

Namun kerumunan membuat mereka belum bisa melihat dengan jelas.

Lola tersenyum kecil.

“Kalau Darrien ada di sini…”

Ia menatap sekeliling.

“…berarti Fiona mungkin juga ada.”

Clark mengangguk.

“Kalau begitu kita cari.”

Mereka belum tahu—

bahwa jawaban atas pertanyaan mereka hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.

Dan Fiona sendiri—

masih sibuk memperhatikan makanan di atas meja.

***

Di sisi lain—

Elyon berdiri tenang bersama King Zeith dan Queen Seraphine.

Tatapannya kembali bergerak.

Darrien.

Kemudian Fiona.

Ada sesuatu yang membuat matanya berhenti lebih lama.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Belum.

Sementara itu—

Elarion juga memperhatikan Elyon dari kejauhan.

Aura itu.

Masih terasa.

Sama seperti sebelumnya.

Familiar.

Namun belum cukup untuk memastikan.

Elarion menyipitkan mata.

“…”

Mungkin—

hanya kebetulan.

Atau mungkin—

ada sesuatu yang belum mereka ketahui.

Dan untuk saat ini—

pesta masih berlangsung.

Makanan masih disajikan.

Musik kembali dimainkan.

Para tamu mulai berbicara lagi.

Sementara dua keluarga dari Ardika dan Varian—

perlahan mulai menyadari bahwa perjalanan mereka ke Veyth mungkin akan membawa jauh lebih banyak jawaban daripada yang mereka perkirakan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience