Series
382
BAB 259 — SEBELUM LATIHAN DIMULAI LAGI
Setelah beberapa saat berada di dalam kamar—
akhirnya Darrien dan Fiona keluar.
Darrien terlihat jauh lebih tenang dibandingkan ketika mereka meninggalkan lapangan latihan.
Namun tubuhnya masih terasa lelah.
Sangat lelah.
Fiona berjalan di sampingnya sambil memperhatikannya.
“Kau lapar?”
Darrien berhenti sebentar.
Kemudian menatap Fiona.
“…Sangat.”
Fiona tertawa kecil.
“Kalau begitu kita makan.”
Darrien mengangguk.
“Itu ide terbaik yang kudengar hari ini.”
Mereka berjalan menuju ruang makan.
***
Istana Veyth sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Tidak ada lagi kerumunan tamu.
Tidak ada musik pesta.
Tidak ada pelayan yang berlarian membawa persiapan upacara.
Hanya aktivitas biasa sebuah istana pada siang hari.
Ketika Darrien dan Fiona memasuki ruang makan—
beberapa pelayan langsung memberi hormat.
“Yang Mulia.”
Darrien mengangguk.
“Tidak perlu terlalu formal.”
Pelayan tersebut tersenyum.
“Baik, Yang Mulia.”
Tak lama kemudian, makanan mulai disajikan.
Darrien menatap meja.
Matanya langsung berbinar.
Fiona memperhatikannya.
“Kau terlihat lebih bahagia melihat makanan daripada hadiah kerajaan kemarin.”
Darrien mengambil sumpitnya.
“Hadiah tidak bisa dimakan.”
Fiona tertawa.
“Benar juga.”
Darrien mulai makan.
Dan untuk beberapa menit—
tidak ada pembicaraan.
Tidak ada politik.
Tidak ada latihan.
Tidak ada Lunaris.
Hanya makanan.
Setelah latihan berat seperti tadi—
Darrien benar-benar merasa seperti bisa menghabiskan seluruh meja.
Fiona memperhatikannya.
“Kau makan seperti belum pernah diberi makan.”
Darrien berhenti.
“Kevin.”
Fiona berkedip.
“Apa?”
“Semua ini salah Kevin.”
Fiona tertawa.
“Bagaimana bisa?”
“Dia membuatku lapar.”
“Jadi sekarang semua salah Kevin?”
“Ya.”
Fiona mengangguk serius.
“Baiklah.”
***
Setelah makan—
Darrien bersandar di kursinya.
Ia menghela napas puas.
“Ini baru hidup.”
Fiona menatapnya.
“Bukankah tadi kau bilang ingin menjadi lebih kuat?”
Darrien mengangguk.
“Benar.”
“Lalu?”
“Menjadi kuat membuatku lapar.”
Fiona tertawa.
Darrien ikut tersenyum.
Namun beberapa saat kemudian—
ekspresinya menjadi lebih serius.
Ia teringat latihan tadi.
Pertarungannya dengan Kevin.
Ilusi Fiona.
Kehilangan kendali.
Kemudian—
ia mengingat saat dirinya berhasil menarik kembali kekuatannya.
“Aku masih punya banyak hal yang harus kupelajari.”
Fiona menatapnya.
“Kau sudah jauh lebih baik.”
“Aku tahu.”
Darrien melihat tangannya.
“Tapi aku tidak ingin berhenti di sini.”
Fiona tersenyum.
“Kalau begitu jangan.”
Darrien mengangguk.
“Aku ingin bisa melindungimu tanpa kehilangan diriku sendiri.”
Fiona diam sebentar.
Kemudian tersenyum lembut.
“Kalau begitu…”
Ia mengambil sedikit makanan terakhir dari piringnya.
“…makan yang banyak.”
Darrien menatapnya.
“Itu nasihat latihan?”
“Nasihat kehidupan.”
Darrien tertawa.
***
Malam akhirnya tiba.
Darrien kembali ke kamarnya dengan tubuh yang lebih tenang.
Namun sebelum tidur—
ia berdiri di depan jendela.
Memandang langit Veyth.
Pikirannya kembali pada latihan.
Kecepatan.
Pernapasan.
Kontrol.
Dan sihir tanpa chant.
Ia mengangkat tangannya.
Dark mana perlahan muncul di telapak tangannya.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada mantra.
Hanya pikirannya.
Mana bergerak mengikuti kehendaknya.
Kemudian menghilang kembali.
Darrien tersenyum kecil.
“Sedikit lagi.”
Ia memejamkan mata.
“Besok…”
Ia menarik napas.
“…aku akan lebih baik.”
***
Keesokan paginya—
Darrien berdiri kembali di lapangan latihan.
Kali ini—
ia datang lebih awal.
Kevin sudah menunggu.
Darrien berhenti.
“…Kau bahkan lebih awal dariku.”
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien mulai merasa tidak nyaman.
“Kenapa kau mengatakan ‘bagus’ dengan nada seperti itu?”
Kevin menunjuk arena.
“Hari ini berbeda.”
Darrien melihat ke depan.
Beberapa lapisan penghalang telah disiapkan.
Lebih banyak magical dummy berdiri di dalam.
Beberapa bahkan bergerak perlahan, seolah-olah sudah aktif.
Darrien menatapnya.
“Berapa banyak?”
“Cukup.”
“Definisi ‘cukup’ milikmu mengkhawatirkan.”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya berjalan menuju arena.
“Masuk.”
Darrien menghela napas.
“Baik.”
Ia mengikuti.
***
Begitu Darrien memasuki arena—
Kevin mengaktifkan penghalang.
Lapisan pertama terbentuk.
Kemudian lapisan kedua.
Kemudian ketiga.
Darrien melihat tangannya.
Tidak ada cahaya luar yang terlihat lagi.
Ia menarik napas.
Kevin berdiri di seberangnya.
“Hari ini kita tidak hanya melatih kecepatan.”
Darrien menatapnya.
“Lalu?”
“Kontrol.”
Kevin mengangkat satu tangan.
“Dan sihir tanpa chant.”
Darrien terdiam.
“Jadi hari ini…”
Kevin mengangguk.
“Master-level training.”
Darrien menghela napas.
“Aku seharusnya menikmati sarapan lebih lama.”
Kevin mengabaikannya.
“Mulai.”
Seketika—
seluruh magical dummy bergerak.
Darrien mengangkat senjatanya.
Tidak ada chant.
Tidak ada kata.
Dark mana mengalir ke tubuhnya.
Ia menarik napas.
Tenang.
Mengatur ritme.
Satu langkah.
Kemudian—
menghilang.
***
Di luar arena—
Fiona tiba beberapa saat kemudian.
Ia berdiri bersama Elarion, Ace, dan Rowan.
Mereka melihat Darrien bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemarin.
Fiona tersenyum.
“Dia benar-benar serius.”
Elarion mengangguk.
“Karena sekarang dia tahu apa yang harus dikuasai.”
Ace memperhatikan arena.
“Dan Kevin sepertinya juga serius.”
Rowan menelan ludah.
“Lebih serius dari kemarin.”
Fiona melihat ke dalam.
“Semoga dia baik-baik saja.”
Elarion menghela napas.
“Dia akan baik-baik saja.”
Ace tersenyum.
“Yang belum tentu baik-baik saja adalah lapangan latihan.”
Rowan tertawa.
“Benar.”
***
Di dalam arena—
Darrien menghindari satu serangan.
Kemudian dua.
Tiga.
Ia tidak menggunakan chant.
Dark mana muncul langsung di telapak tangannya.
Sebuah bilah gelap terbentuk.
Darrien bergerak.
**BOOM!**
Satu dummy hancur.
Ia tidak berhenti.
Darrien berputar.
Napasnya tetap teratur.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Setiap serangan hanya menggunakan kekuatan yang dibutuhkan.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Kevin memperhatikan dari kejauhan.
“Bagus.”
Darrien mendengar suara itu.
Namun kali ini—
ia tidak kehilangan fokus.
Ia hanya tersenyum kecil.
Karena ia mulai memahami.
Kekuatan bukan tentang seberapa besar ledakan yang bisa ia keluarkan.
Kekuatan adalah—
seberapa baik ia bisa mengendalikan apa yang sudah berada di dalam dirinya.
Dan latihan master-level—
baru saja dimulai.
Share this novel