471. Jika Jalannya Tidak Bisa Ditembus

Romance Completed 594

BAB 471 — JIKA JALANNYA TIDAK BISA DITEMBUS

Malam mulai turun di Veyth.

Ruangan penelitian masih dipenuhi cahaya kristal sihir.

Peta-peta Shadowcresent terbentang di atas meja.

Beberapa buku kuno terbuka.

Catatan tentang teleportasi, resonansi ruang, jalur pegunungan, dan jaringan sihir memenuhi hampir seluruh permukaan meja.

Namun sampai saat ini—

belum ada jawaban.

Rowan menunjuk salah satu bagian peta.

"Kalau kita mengikuti jalur ini, kemungkinan besar kita akan kembali diarahkan ke sisi timur."

Elyon menggeleng.

"Jalur itu sudah berubah dua kali."

"Berarti yang ini."

Elarion menunjuk jalur lain.

Ace langsung menyela.

"Sudah dicoba."

Elarion menoleh.

"Benarkah?"

"Ya."

Ace menunjuk catatan di sampingnya.

"Kita berakhir di tebing."

Kevin, yang masih berada di luar bersama Darrien beberapa saat sebelumnya, belum kembali.

Rowan menghela napas.

"Kalau begitu jalur utara."

Elyon menatapnya.

"Jalur utara membawa kita semakin jauh dari istana."

"Bagaimana kalau kita memotong bagian tengah?"

"Mustahil."

"Kenapa?"

"Karena bagian tengah adalah area yang paling banyak mengalami perubahan."

Ace mengangkat tangan.

"Jadi..."

Semua menoleh.

"Kesimpulannya?"

Hening.

Ace menunggu.

"Kesimpulannya?"

Elarion menghela napas.

"Kita belum tahu."

Ace menjatuhkan tangannya.

"Ah."

Beberapa detik kemudian—

perdebatan kembali dimulai.

"Menurutku kita harus menguji resonansi—"

"Sudah."

"Kalau kita memperkuat teleportasi—"

"Juga sudah."

"Bagaimana dengan—"

"Belum tentu berhasil."

Suara mereka terdengar semakin ramai.

Tidak benar-benar marah.

Lebih seperti sekelompok orang yang sudah terlalu lama memikirkan masalah yang sama.

Sesekali terdengar suara tawa kecil.

Sesekali terdengar bantahan.

Sesekali Ace dan Elyon berdebat tentang jalur mana yang paling masuk akal.

Namun tidak ada satu pun yang memberikan jawaban pasti.

Kemudian—

pintu ruangan terbuka.

Semua suara perlahan berhenti.

Darrien berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sedikit berantakan setelah latihan.

Beberapa bagian pakaiannya masih memiliki bekas debu.

Aura magicure di tubuhnya telah kembali tenang.

Kevin masuk beberapa langkah di belakangnya.

Darrien melihat sekeliling.

Peta.

Buku.

Catatan.

Dan wajah-wajah yang tampak semakin lelah.

Ia mengembuskan napas.

"Masih berdebat?"

Ace menunjuk Rowan.

"Dia yang mulai."

Rowan langsung menatap Ace.

"Aku hanya memberikan pendapat."

"Pendapat yang salah."

"Menurut siapa?"

"Menurutku."

Elyon menggeleng kecil.

Darrien menatap mereka beberapa detik.

Kemudian berjalan mendekati meja.

Ia melihat berbagai jalur yang telah mereka tandai.

Begitu banyak garis.

Begitu banyak catatan.

Namun tidak ada satu pun yang benar-benar membawa mereka ke istana Shadowcresent.

Darrien menghela napas lagi.

"Tidak ada yang akan berubah kalau kalian terus berdebat dan meneliti di sini."

Ruangan langsung lebih tenang.

Ace mengangkat alis.

"Itu terdengar seperti kritik."

Darrien meliriknya.

"Memang."

Ace terdiam.

"...Fair."

Kevin hampir tertawa.

Darrien kemudian berjalan menuju jendela.

Ia berdiri di sana.

Tatapannya mengarah ke langit malam.

Bulan terlihat di antara awan.

Entah kenapa...

pikirannya kembali kepada Fiona.

Sudah terlalu lama.

Terlalu lama sejak terakhir kali ia melihatnya.

Darrien meletakkan satu tangannya di sisi jendela.

Suaranya terdengar lebih rendah.

"Aku tidak sabar ingin bertemu Fiona."

Semua orang terdiam.

Darrien menatap jauh ke luar.

"Dia sudah terlalu lama berada di sana."

Jarinya perlahan mengepal.

"Sendirian."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Mereka semua memahami apa yang Darrien rasakan.

Namun mereka juga tahu—

mereka tidak bisa sekadar berjalan masuk ke Shadowcresent.

Tidak setelah semua kegagalan mereka.

Tidak setelah menyadari bahwa gunung itu sendiri seolah-olah menolak keberadaan mereka.

Darrien menundukkan kepala sebentar.

Kemudian berbalik.

Tatapannya jatuh kepada peta di meja.

"Jadi..."

Ia menunjuk salah satu jalur.

"Kalau jalur baru ini juga gagal..."

Semua menunggu.

Darrien menghela napas.

"...bagaimana kalau kita hancurkan saja gunungnya?"

...

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Ace membeku.

Rowan berhenti bernapas selama beberapa detik.

Elarion menatap Darrien seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari mulut seseorang.

Elyon perlahan menurunkan buku di tangannya.

Kevin bahkan tidak langsung menjawab.

Darrien sendiri terlihat serius.

Seolah-olah ia benar-benar sedang mempertimbangkan kemungkinan tersebut.

Ace akhirnya membuka mulut.

"...Kau serius?"

Darrien mengangguk.

"Kalau gunungnya tidak ada, kita tidak perlu mencari jalannya."

Hening lagi.

Kemudian Rowan berkata pelan,

"Itu bukan cara kerja pertahanan Shadowcresent."

Darrien menoleh.

"Kenapa?"

"Karena kita tidak tahu apakah gunung itu hanya gunung."

Elarion menunjuk beberapa catatan.

"Seluruh jaringan sihir yang kita temukan sejauh ini tampaknya terhubung dengan wilayah tersebut."

Elyon mengangguk.

"Kalau benar dugaan kita bahwa Shadowcresent menggunakan resonansi antara darah vampire dan wilayah..."

Ia berhenti.

"...menghancurkan gunung mungkin tidak menghancurkan sistem pertahanannya."

Darrien mengerutkan kening.

"Jadi?"

"Justru sebaliknya."

Elyon menatapnya.

"Kita bisa memicu sesuatu yang tidak kita pahami."

Kevin akhirnya ikut berbicara.

"Dan kalau seluruh gunung merupakan bagian dari jaringan ruang..."

Ia menghela napas.

"...kita mungkin tidak hanya menghancurkan batu."

Darrien diam.

Ace perlahan mengangkat satu jari.

"Dan ada masalah kecil lainnya."

Darrien menatapnya.

"Apa?"

Ace menunjuk peta.

"Kalau kita menghancurkan gunung..."

Ia menelan ludah.

"...kita mungkin tidak punya jalan masuk."

Darrien mengangkat alis.

"Kita tidak punya jalan masuk sekarang."

Ace terdiam.

"...Itu juga benar."

Rowan memijat pelipisnya.

"Jangan membuatnya terdengar masuk akal."

Elarion tertawa kecil.

"Sayangnya."

Elyon kembali menatap Darrien.

"Selain itu..."

Tatapannya menjadi serius.

"Kalau Raizen benar-benar terhubung dengan wilayah Shadowcresent seperti yang kita duga..."

Ia mengetuk peta.

"...mungkin dia akan mengetahui saat kita mencoba menghancurkannya."

Ruangan kembali sunyi.

Darrien tidak menjawab.

Ia menatap peta itu lama.

Ia tahu apa artinya.

Mereka mungkin memancing Raizen keluar.

Tetapi jika salah langkah—

mereka juga bisa membahayakan Fiona.

Itu adalah sesuatu yang tidak ingin ia lakukan.

Darrien akhirnya mengembuskan napas.

"Baik."

Ia mundur dari meja.

"Kita coba jalur baru terlebih dahulu."

Ace mengangguk cepat.

"Bagus."

Darrien menatap peta sekali lagi.

"Tapi kalau itu gagal..."

Ace langsung menunjuknya.

"Jangan bilang kita akan menghancurkan gunung."

Darrien menatapnya datar.

"...Aku belum mengatakan apa-apa."

"Matamu sudah mengatakan semuanya."

Kevin akhirnya tertawa kecil.

Bahkan Darrien hanya menggeleng.

Namun setelah beberapa saat—

senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, suasana ruangan terasa sedikit lebih ringan.

Mereka masih belum menemukan jalan.

Masih belum memiliki jawaban.

Namun penelitian terus berlanjut.

Dan jauh di dalam hati Darrien—

satu hal semakin jelas.

Ia ingin bertemu Fiona.

Sesegera mungkin.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience