93. Daun Perak

Romance Series 94

BAB 93
DAUN PERAK

Malam semakin tenang.

Fiona masih duduk di bawah pohon bersama Darrien.

Dari dalam kediaman Rowan, sesekali terdengar suara Ace mengeluh karena terlalu banyak dokumen.

Fiona tertawa kecil.

“Mereka masih bekerja?”

“Sepertinya.”

“Kasihan.”

Darrien mengangkat alis.

“Kau tadi menyuruhku mendengarkan Kevin.”

“Itu berbeda.”

“Bagaimana?”

Fiona berpikir sejenak.

“Karena aku bukan Kevin.”

Darrien tertawa kecil.

Beberapa saat mereka hanya menikmati udara malam.

Kemudian Fiona membuka tas kecilnya.

Sebuah benda berkilau jatuh ke telapak tangannya.

Daun perak.

Darrien langsung mengenalinya.

“Masih kau simpan?”

Fiona tersenyum.

“Tentu.”

Ia mengusap permukaannya.

“Benda ini sudah bersamaku sejak aku masih kecil.”

Darrien mengangguk.

“Aku ingat.”

“Waktu pertama kali mendapatkannya, kita berada di tepi Hutan Perbatasan.”

“Dan kau bilang mungkin itu hadiah dari seseorang yang tidak ingin menunjukkan wajahnya.”

Fiona tertawa.

“Aku masih berpikir begitu.”

Darrien menatap daun itu.

“Setelah bertahun-tahun?”

“Ya.”

Fiona membaliknya.

“Lagipula, benda ini terlalu cantik untuk dibuang.”

Ia tiba-tiba mendapat ide.

“Darrien.”

“Hm?”

“Aku ingin menjadikannya kalung.”

Darrien mengangkat alis.

“Kalung?”

Fiona mengangguk antusias.

“Ya. Aku bisa memasang rantai kecil di sini.”

Ia menunjuk bagian ujung daun.

“Jadi aku tidak perlu terus menyimpannya di dalam tas.”

Darrien tersenyum.

“Itu ide bagus.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku akan membuatnya.”

Fiona memegang daun itu di depan cahaya bulan.

Untuk sesaat—

permukaannya berkilau.

Kemudian…

cahaya perak tipis muncul.

Fiona langsung terdiam.

Darrien memperhatikannya.

“Seperti waktu di desa.”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Ia tersenyum kecil.

“Daun ini memang suka melakukan hal aneh.”

Darrien menyentuhnya dengan satu jari.

Cahaya itu tidak muncul.

Fiona tertawa.

“Sepertinya dia hanya menyukaiku.”

“Bagus.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu jangan sampai hilang.”

“Tidak akan.”

Fiona memasukkannya kembali ke telapak tangannya.

Namun—

jauh di balik pepohonan…

seseorang berhenti.

Ia baru saja merasakan gelombang cahaya perak itu.

Matanya langsung tertuju ke arah taman.

“Daun itu…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia bergerak mendekat.

***

Fiona masih belum menyadarinya.

Ia justru sedang membayangkan bentuk kalungnya.

“Mungkin rantainya warna perak.”

Darrien mengangguk.

“Cocok.”

“Dan daunnya di sini.”

Ia menempelkannya di depan leher.

Darrien memperhatikannya.

“Bagus.”

Fiona tersenyum.

“Kalau sudah jadi, aku tidak akan pernah melepasnya.”

Darrien menatapnya.

“Kenapa?”

Fiona mengangkat bahu.

“Karena ini sudah bersamaku sejak kecil.”

Ia tersenyum.

“Rasanya seperti bagian dari hidupku.”

Darrien terdiam.

Kalimat itu membuatnya mengingat sesuatu.

Janji di tepi Hutan Perbatasan.

*Kalau kau menghadapi badai, aku akan berdiri di sampingmu.*

*Jangan pernah lepaskan tanganku.*

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu, jaga baik-baik.”

“Aku akan.”

***

Di balik pepohonan—

pria itu akhirnya muncul.

Namun kali ini langkahnya berhenti ketika melihat Fiona.

Tatapannya tertuju pada daun perak.

Bukan karena cahaya.

Bukan karena bentuknya.

Tetapi karena ia mengenali **pola ukiran kecil di permukaannya.**

“Itu…”

Tangannya perlahan mengepal.

Daun tersebut seharusnya tidak berada di tangan manusia.

Ia telah mencarinya selama bertahun-tahun.

Namun ternyata—

seorang gadis kecil telah membawanya sejak lama.

Pria itu melangkah keluar dari bayangan.

Darrien langsung berdiri.

“Kau.”

Fiona menoleh.

Ia mengenali pria yang pernah mereka lihat dari kejauhan.

Darrien berdiri sedikit di depan Fiona.

“Kenapa kau terus mengikuti kami?”

Pria itu tidak menjawab.

Tatapannya masih tertuju pada daun perak.

“Dari mana kau mendapatkannya?”

Fiona mengangkat alis.

“Ini?”

Ia menunjukkan daun itu.

“Aku mendapatkannya di Hutan Perbatasan.”

“Berapa lama?”

Fiona berpikir.

“Bertahun-tahun.”

Pria itu membeku.

“Bertahun-tahun…”

Kemudian—

retakan tipis muncul di wajah Darrien.

Hanya sesaat.

Namun cukup.

Sedikit perubahan pada bentuk telinganya terlihat di balik rambut.

Mata pria itu langsung melebar.

Ia menatap Darrien.

Kemudian Fiona.

Kemudian kembali pada daun perak.

Tiga hal yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan muncul bersama.

“Tidak mungkin…”

Darrien menyipitkan mata.

“Apa?”

Pria itu akhirnya menarik napas.

“Aku berasal dari klan Light Elf.”

Fiona berkedip.

“Light Elf?”

Pria itu menatap daun perak.

“Dan benda yang kau pegang…”

Ia berhenti.

“…bukan sekadar daun.”

Pria itu akhirnya melangkah keluar dari bayangan.

Darrien langsung berdiri.

“Kau.”

Fiona juga mengenalinya.

“Pria yang pernah membantu kita menuju pegunungan…”

Pria itu mengangguk.

“Setidaknya kalian masih mengingatku.”

Darrien tetap waspada.

“Kalau begitu, sekarang katakan siapa kau.”

Pria itu terdiam sejenak.

Kemudian tersenyum tipis.

“Namaku…”

Ia menatap Fiona.

“…Elyon.”

Fiona mengulanginya pelan.

“Elyon?”

“Ya.”

Darrien menyipitkan mata.

“Dan kau berasal dari mana?”

Elyon tidak langsung menjawab.

Tatapannya kembali jatuh pada daun perak di tangan Fiona.

“Untuk saat ini, cukup kau tahu namaku.”

Darrien jelas tidak puas.

“Jawaban yang buruk.”

Elyon tertawa kecil.

“Mungkin.”

Ia kemudian menatap wajah Darrien.

Retakan tipis pada penyamaran wajah Darrien masih terlihat.

Mata Elyon berubah serius.

“Namun ada sesuatu yang lebih penting.”

Ia menunjuk daun perak.

“Benda itu…”

Tatapannya berpindah kepada Darrien.

“…dan wajahmu yang mulai berubah.”

Elyon berhenti.

“Keduanya mungkin berkaitan dengan sesuatu yang sudah lama dicari oleh klanku.”

Fiona menatap daun tersebut.

“Dicari?”

Elyon mengangguk.

“Ya.”

Darrien melangkah maju.

“Kalau begitu jelaskan.”

Elyon tersenyum.

“Tidak di sini.”

Kemudian ia berbalik.

“Besok.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kau suka sekali membuat orang menunggu.”

Elyon tertawa kecil.

“Mungkin itu salah satu kebiasaan Elf.”

Ia berjalan menjauh.

Namun sebelum menghilang di antara pepohonan, ia berhenti.

“Fiona.”

Fiona mengangkat kepala.

“Ya?”

“Jangan lepaskan daun itu.”

Fiona menggenggamnya.

“Aku tidak akan.”

Elyon mengangguk.

“Bagus.”

Kemudian ia menghilang ke dalam kegelapan.

Darrien menatap arah kepergiannya.

“Elyon…”

Fiona tersenyum kecil.

“Setidaknya sekarang kita tahu namanya.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Ia kemudian melihat daun perak di tangan Fiona.

“Tapi sekarang aku justru punya lebih banyak pertanyaan.”

Fiona tertawa.

“Selamat datang di hidupku.”

Darrien ikut tersenyum.

Dan di dalam kediaman—

Kevin, Ace, Elarion, dan Rowan masih sibuk dengan dokumen.

Mereka belum tahu bahwa di luar…

satu lagi bagian dari masa lalu Fiona baru saja membuka pintunya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience