Series
94
BAB 90
UNTUK SEMENTARA, HANYA KITA
Arsip kerajaan masih dipenuhi kesibukan.
Kevin dan Ace sibuk memeriksa dokumen lama.
Elarion membantu Rowan menyusun catatan yang ditemukan dari berbagai rak.
Bahkan mereka mulai berdebat tentang dokumen mana yang harus dibawa dan mana yang harus ditinggalkan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
tidak ada seorang pun yang memperhatikan Darrien dan Fiona.
Dan keduanya menyadarinya.
Fiona melirik ke arah mereka.
Kemudian berbisik,
“Mereka sibuk.”
Darrien menoleh.
“Ya.”
Fiona tersenyum.
“Bagus.”
Darrien mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin keluar sebentar.”
Darrien langsung mengangguk.
“Ayo.”
***
Mereka keluar dari arsip melalui pintu belakang.
Di sana terdapat taman kecil yang hampir tidak pernah digunakan.
Pohon-pohon tua menaungi jalan setapak.
Udara pagi terasa sejuk.
Fiona berjalan perlahan.
Darrien tetap di sampingnya.
“Lukamu bagaimana?”
“Lebih baik.”
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
Darrien langsung menatapnya.
“Kalau sakit, bilang.”
Fiona tertawa.
“Darrien.”
“Hm?”
“Aku tidak akan pecah.”
Darrien diam.
Fiona kemudian menyadari ekspresinya.
“…Maaf.”
Darrien menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Mereka berjalan beberapa langkah lagi.
Kemudian Fiona berhenti.
“Darrien.”
“Ya?”
“Terima kasih.”
Darrien menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk datang mencariku.”
Ia tersenyum kecil.
“Untuk tidak menyerah.”
Darrien terdiam.
Kemudian ia menjawab,
“Aku tidak mungkin menyerah.”
“Kenapa?”
Darrien memandangnya.
“Karena kau adalah Fiona.”
Fiona berkedip.
“Itu saja?”
“Bukankah itu cukup?”
Fiona tertawa kecil.
“Bodoh.”
Darrien tersenyum.
***
Mereka akhirnya duduk di bawah sebuah pohon besar.
Fiona menyandarkan punggungnya pada batang pohon.
Darrien duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Tidak perlu berbicara.
Tidak perlu membicarakan kerajaan.
Tidak perlu membicarakan Ardika.
Tidak perlu mengingat lembah.
Hanya mereka.
Fiona akhirnya menyandarkan kepalanya pada bahu Darrien.
Darrien sedikit menegang.
Namun ia tidak bergerak.
Fiona tersenyum.
“Kenapa kaku?”
“Aku tidak kaku.”
“Kau kaku.”
“Aku hanya…”
Ia berhenti.
“Tidak terbiasa.”
Fiona mengangkat kepala.
“Dengan apa?”
“Dengan ini.”
Fiona menatapnya.
Kemudian kembali menyandarkan kepala.
“Biasakan.”
Darrien tersenyum kecil.
“Baik.”
Angin bertiup pelan.
Beberapa helai rambut Fiona bergerak tertiup angin.
Darrien mengangkat tangannya dan merapikannya.
Fiona menatapnya.
“Kau semakin lembut.”
“Jangan bilang Kevin.”
“Kenapa?”
“Nanti dia bilang aku akhirnya belajar.”
Fiona tertawa.
***
Beberapa saat kemudian, Fiona menatap wajah Darrien.
“Darrien.”
“Hm?”
“Wajahmu…”
Darrien langsung diam.
Fiona menyentuh pipinya dengan lembut.
“Retak lagi.”
Darrien menyentuh bagian yang sama.
Ia merasakan permukaan kulitnya berubah sangat tipis.
“Benarkah?”
Fiona mengangguk.
“Sedikit.”
Darrien menatap tangannya.
“Apakah kau takut?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
“Bahkan kalau wajahku berubah?”
“Tidak.”
“Kalau ternyata aku bukan manusia?”
Fiona tersenyum.
“Aku sudah tahu.”
Darrien menatapnya.
“Apa?”
“Kau tetap Darrien.”
Ia menyentuh pipinya sekali lagi.
“Wajahmu boleh berubah.”
Fiona tersenyum.
“Namamu tetap sama.”
Darrien terdiam.
Kemudian ia memegang tangan Fiona.
“Kalau begitu…”
Ia tersenyum.
“…aku tidak takut.”
Fiona mengangguk.
“Bagus.”
Mereka kembali bersandar di bawah pohon.
Untuk beberapa menit—
dunia terasa sangat jauh.
***
Dari jendela arsip—
Ace kebetulan melihat mereka.
Ia menoleh kepada Kevin.
“Mereka pergi.”
Kevin bahkan tidak mengangkat kepala dari dokumen.
“Biarkan.”
Elarion tersenyum.
“Setelah semua yang mereka lalui, mereka pantas mendapat waktu tenang.”
Rowan mengangguk.
“Benar.”
Ace kembali melihat keluar.
Darrien dan Fiona masih duduk bersama.
Ace tersenyum tipis.
“Setidaknya untuk sekali ini…”
Ia kembali ke meja.
“…tidak ada yang mencoba membunuh mereka.”
Kevin mendengus.
“Jangan mengundang masalah.”
Ace tertawa kecil.
Namun di luar—
Darrien dan Fiona masih menikmati waktu mereka.
Tidak tahu bahwa begitu mereka kembali ke dalam…
empat orang dewasa itu akan kembali sibuk membongkar masa lalu Darrien.
Dan untuk sementara—
**rahasia kerajaan bisa menunggu.**
Share this novel