226. Selamat Pagi

Romance Series 390

BAB 226

“Selamat pagi.”

Fiona tersenyum cerah.

Semua orang di meja langsung terdiam.

Kevin perlahan mengangkat kepalanya.

Ia melihat ke arah jendela.

Kemudian melihat posisi matahari.

Beberapa detik berlalu.

“Ini sudah siang.”

Hening.

Krik…

Krik…

Wajah Fiona perlahan memerah.

Ace langsung menundukkan kepala.

Rowan menutup mulutnya.

Keduanya berusaha sekuat tenaga menahan tawa.

Elarion hanya memejamkan mata sambil menghela napas.

Darrien—

hanya menatap Fiona.

Ekspresinya sulit ditebak.

“Ini masih pagi untukku…”

Fiona berusaha mempertahankan percakapan seolah tidak terjadi apa-apa.

Kevin menatapnya beberapa saat.

Kemudian kembali melihat matahari.

“Kalau begitu…”

Ia mengangguk pelan.

“Baiklah.”

Ace hampir tersedak.

Rowan segera menepuk punggungnya.

“Tenang.”

Ace menarik napas dalam-dalam.

“Tenang…”

Rowan kemudian melihat ke arah semua orang.

“Sudahlah.”

“Mari makan dulu.”

“Kita ambil makanan dan makan.”

Semua akhirnya mengangguk.

Fiona segera duduk.

Ia masih merasa malu.

***

Tidak lama kemudian—

mereka semua mulai makan.

Untuk beberapa saat, tidak ada pembicaraan mengenai latihan.

Tidak ada pertempuran.

Tidak ada mimpi aneh.

Hanya makan siang bersama.

Fiona terlihat jauh lebih santai.

Ia mengambil makanan dengan cukup banyak.

Darrien memperhatikannya.

“Kau lapar?”

Fiona mengangguk.

“Aku belum sarapan.”

Ace menatapnya.

“Dan kau juga melewatkan makan siang.”

Fiona berhenti mengunyah.

Kemudian menjawab dengan wajah polos,

“Itulah sebabnya aku makan sekarang.”

Rowan langsung tertawa.

“Jawaban yang bagus.”

Fiona tersenyum kecil.

Elarion memperhatikan Fiona dengan tenang.

Masih ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.

Tentang mimpi.

Tentang perbedaan waktu.

Tentang suara Darrien yang bisa menembus mimpi.

Tentang gelang itu.

Namun ia memutuskan untuk tidak bertanya sekarang.

Fiona baru saja terbangun.

Setidaknya biarkan gadis itu menikmati makanannya terlebih dahulu.

Darrien tampaknya berpikiran sama.

Ia hanya mengambil salah satu hidangan dan mendorongnya sedikit lebih dekat kepada Fiona.

“Makan.”

Fiona menatapnya.

“Terima kasih.”

Ia kembali makan.

Kevin yang duduk di seberang mereka masih diam.

Ia menikmati makanannya dengan tenang.

Namun sesekali tatapannya berpindah kepada Darrien.

Kemudian kepada Fiona.

Lalu kembali kepada makanannya.

Akhirnya Kevin membuka suara.

“Jadi…”

Semua menoleh.

“Latihan.”

Darrien langsung berhenti makan.

Fiona juga menatap Kevin.

“Ada apa dengan latihan?”

Kevin menatap Darrien.

“Kau berhenti di tengah pagi tadi.”

Darrien menghela napas.

“Aku tahu.”

“Kau kehilangan konsentrasi.”

“Aku tahu.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien menatapnya bingung.

“Bagus?”

“Ya.”

Kevin mengambil satu suapan lagi dengan tenang.

“Sekarang kau tahu apa yang terjadi ketika konsentrasimu terlalu bergantung pada keadaan di sekitarmu.”

Darrien terdiam.

Fiona juga mulai memahami maksudnya.

Ia menatap Darrien.

“Maaf.”

Darrien langsung menggeleng.

“Jangan.”

“Kau tidak melakukan apa pun.”

Elarion mengangguk.

“Kevin benar.”

Darrien menoleh kepadanya.

“Kau harus mampu bertarung meskipun kondisi di sekitarmu tidak ideal.”

Darrien mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Kevin melanjutkan makan.

“Kalau begitu kita lanjutkan.”

Darrien menghela napas.

“Tentu saja.”

Ace mendekat sedikit kepada Rowan.

“Dia terdengar sangat bahagia.”

Rowan berbisik,

“Dia tidak bahagia.”

Darrien langsung menoleh.

“Berhenti.”

Keduanya segera memasang wajah polos.

Fiona tertawa kecil.

Suasana kembali menjadi santai.

Untuk beberapa saat—

mereka hanya menikmati makan siang bersama.

Rasanya seperti kembali ke hari-hari biasa.

Enam orang yang akhirnya kembali berkumpul.

Fiona tersenyum kecil.

Ia baru menyadari bahwa dirinya ternyata merindukan suasana seperti ini.

***

Tidak lama kemudian—

Kevin selesai makan.

Ia berdiri.

Semua orang menoleh kepadanya.

Kevin melihat Darrien.

Kemudian melihat Fiona.

Ekspresinya tetap tenang.

“Karena Fiona sudah bangun…”

Ia merapikan sarung tangannya.

“Aku akan menunggumu di battlefield.”

Darrien langsung membeku.

Fiona berkedip.

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Elarion hanya menghela napas.

Kevin kemudian berbalik.

Dan berjalan pergi.

Darrien tetap diam selama beberapa detik.

“…Dia benar-benar tidak bisa menunggu.”

Fiona menutup mulutnya.

Berusaha menahan tawa.

Ace langsung tertawa.

Rowan ikut tertawa.

Bahkan Elarion tersenyum kecil.

Darrien perlahan meletakkan sendoknya.

“Kenapa aku merasa makan siang tenangku baru saja berakhir?”

Fiona tertawa.

“Karena memang sudah berakhir.”

Darrien menghela napas panjang.

Sementara itu—

Kevin sudah berjalan menuju battlefield.

Dan satu hal sudah pasti.

Revenge-nya—

belum selesai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience