289. Aura Yang Dicari

Romance Series 382

BAB 289 — AURA YANG DICARI

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Hutan tetap sunyi.

Angin malam melewati pepohonan, membawa hawa dingin di antara kedua kelompok yang kini berdiri saling berhadapan.

Darrien berada di depan rombongannya.

Tatapannya tidak pernah meninggalkan Fiona.

Fiona masih berada di dalam kandang sihir.

Kedua tangannya menggenggam jeruji.

Matanya berkaca-kaca ketika melihat Darrien berdiri di hadapannya.

Namun ia tidak memanggilnya lagi.

Ia hanya menatap.

Di sisi lain—

Kaguya juga tidak bergerak.

Tatapannya perlahan berpindah dari Fiona kepada Darrien.

Lama.

Sangat lama.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Kemudian—

Kaguya akhirnya berbicara.

“Jadi…”

Suaranya tenang.

“Ini dia.”

Darrien menyipitkan mata.

Kaguya melanjutkan.

“Aura yang kami cari selama berbulan-bulan.”

Beberapa orang di belakang Darrien saling menatap.

Tidak ada yang mengerti maksudnya.

Kaguya tersenyum tipis.

“Dan akhirnya…”

Tatapannya tertuju penuh kepada Darrien.

“…kami menemukannya.”

Elyon mengerutkan kening.

“Aura apa?”

Kaguya tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia tetap menatap Darrien.

Seolah seluruh dunia di sekitarnya tidak penting.

Darrien akhirnya berbicara.

“Apa yang kalian inginkan?”

Kaguya tersenyum.

Jawabannya datang tanpa ragu.

“Nyawamu.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa penjaga Veyth refleks menggenggam senjata mereka.

Darrien tetap diam.

Kaguya melanjutkan,

“Sebagai pertukaran atas kematian adikku.”

Fiona menegang.

Ace dan Rowan saling menatap.

Kevin mengangkat pandangan.

Elarion juga terdiam.

Kemudian Kaguya menyebutkan nama itu.

“Koga.”

Seketika—

beberapa orang dalam rombongan menunjukkan ekspresi terkejut.

Nama itu.

Nama yang seharusnya sudah tidak muncul lagi.

Nama vampire yang telah mereka hadapi sebelumnya.

Darrien tidak mengatakan apa-apa.

Namun—

Kaguya memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup.

Mata Kaguya menyipit.

“…”

Darrien akhirnya bertanya,

“Koga?”

Hanya satu kata.

Namun Kaguya langsung menangkapnya.

Ia sedikit memiringkan kepala.

“Jadi kau mengenalnya.”

Darrien diam.

Fiona menatap Darrien dari dalam kandang.

Ia bisa merasakan sesuatu berubah dalam suasana.

Kaguya melangkah maju satu langkah.

Tidak menyerang.

Hanya mendekat.

“Menarik.”

Darrien menatapnya tajam.

Kaguya tersenyum tipis.

“Kau tidak bertanya siapa Koga.”

Ia berhenti.

“Kau langsung menyebut namanya kembali.”

Mufasa yang berdiri di sampingnya juga memperhatikan Darrien.

Kaguya kemudian berkata,

“Berarti…”

Tatapannya semakin tajam.

“Kau bertemu dengannya.”

Hening.

Darrien tidak menjawab.

Kaguya menunggu.

Ia tidak terburu-buru.

Ia hanya mengamati.

Tatapan Darrien.

Perubahan napasnya.

Gerakan tangannya.

Bahkan cara tubuhnya berdiri.

Semuanya menjadi petunjuk.

“Kau bertemu adikku, bukan?”

Darrien masih diam.

Namun Kaguya sudah mendapatkan sesuatu dari reaksinya.

Sebuah jawaban yang belum lengkap.

Sebuah potongan kebenaran.

Dan sekarang—

ia hanya perlu menariknya keluar.

Kaguya tersenyum tipis.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Darrien lebih dalam.

“…ceritakan padaku.”

Hening.

Kemudian—

Kaguya bertanya dengan suara yang jauh lebih tenang.

“**Apa yang sebenarnya terjadi pada Koga?**”

Darrien menatapnya.

Fiona menahan napas.

Seluruh rombongan menunggu.

Dan untuk pertama kalinya—

pertanyaan tentang kematian Koga benar-benar berdiri di tengah mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience